Ihwal Kesendirian

oleh -89 Dilihat
banner 468x60

Beberapa dekade terakhir sejak munculnya era milenial, yang disertai maraknya wabah corona dan variannya dalam beberapa tahun terakhir, maka terjadilah suatu kebuntuan ideologis di muka bumi ini, tak terkecuali di Indonesia, dan di rumah tangga kami sendiri.

“Kebuntuan ideologis itu apa sih?”

Saya terkenang pertanyaan yang dilontarkan Ida Farida, ketika masih berpacaran dengannya beberapa dekade lalu. Saat ini, pertanyaan serupa masih sulit saya jawab secara lugas dan mendetil. Yang saya tahu, banyak orang sakit dan mati di mana-mana. Mobil-mobil ambulans berlalu-lalang mengangkuti mereka yang terjangkiti wabah, meski tidak jarang dari mereka merasa sakit justru diakibatkan oleh pikiran tentang penyakit itu sendiri.

Itu berani saya katakan pada Anda, setelah mendengar kabar tentang adanya beberapa warga kampung yang mati karena bunuh diri. Bukan saja karena serangan penyakit dan wabah, tetapi karena soal pinjaman online, utang piutang, kredit macet, investasi bodong, termasuk mereka yang menyibukkan diri dalam dunia imajinasi (artifisial) yang kemudian terjebak dalam dunia hiperrealitas.

Menurut saya, Indonesia bukan hanya sekali dua kali menghadapi era kebuntuan ideologis semacam itu. Dalam kurun beberapa dekade lalu, kita pernah menghadapi kesulitan ekonomi yang menyusul penggulingan Presiden Soekarno oleh militerisme Orde Baru (1965). Kesulitan ekonomi dialami juga ketika krisis moneter berkepanjangan sejak kejatuhan Presiden Soeharto di tahun 1998 lalu. Sekarang, badai prahara itu bukan hanya melanda bangsa ini secara nasional, tapi sekaligus bangsa-bangsa manusia di muka bumi ini. Lalu, apa yang harus dikhawatirkan?

Saya memegang jemari tangan Farida dan meremas-remasnya dengan mesra. Di layar teve kami menyaksikan musik-musik pop yang dinyanyikan Rossa, Ariel, Krisdayanti, Syeila On 7, Melly Goeslaw, Wali Band, hingga merdunya musik-musik religius yang dinyanyikan Maher Zein dan Nisa Sabyan. Lagu-lagu yang dinyanyikan mereka selalu menduduki puncak tangga lagu Indonesia. Kami hampir selalu mendengarkan musik mereka di mana-mana, di sekeliling kami, seperti wallpaper yang diaplikasikan dengan cermat pada dinding-dinding di setiap incinya.

Ketika satu musik kesukaan saya tidak diputar atau ditayangkan, kedudukannya akan digantikan oleh musik kesukaan saya yang lainnya. Terus saling bersinambung dan saling mengisi ruang-ruang kosong dan hampa dalam kehidupan manusia. Soundtrack konstan dari jenis musik yang indah dan merdu, kadang saya rekam dari radio, teve, dan kemudian secara spektakuler alam semesta memberikan hadiah buat kita semua. Hingga kita sanggup merekam musik kesukaan kita yang pernah hits sejak masa puluhan tahun silam melalui kanal YouTube, baik dari dalam maupun luar negeri, seperti The Beatles, The Rolling Stones, George Michael, Diana Ross, David Foster, Mariah Carey dan lain-lain.

Saya pernah mendengar seorang sahabat berkata, bahwa saat-saat yang paling membahagiakan dalam hidup kita adalah periode ketika lagu-lagu pop berkumandang di mana-mana, dan senantiasa mengiringi perjalanan hidup kita. Bagi saya, mungkin pendapat itu ada benarnya, tetapi bagi orang lain mungkin itu tidak benar. Terserah, bagaimana sudut-pandang Anda dalam menilai hal tersebut. Mungkin ada juga orang yang skeptis, lalu menilai bahwa fenomena itu bagaikan barang-barang dekoratif belaka, yang suatu saat membosankan dan menghilang dari memori kita, ibarat pancaran-pancaran warna pelangi yang cepat berlalu dari pandangan mata.

***

Rumah pacar saya, Ida Farida, cukup besar dan megah. Ia sangat disayang oleh kakeknya yang berusia di atas 80-an tahun, seorang jenderal pensiunan tentara yang pernah membantu pemerintahan Orde Baru sejak era tahun 1970-an. Di masa pandemi ini, saya melihat ayahnya sibuk wara-wiri keluar negeri. Farida sendiri belum tahu pasti apa pekerjaan ayahnya itu. Barangkali dia adalah pengekspor atau pengimpor peralatan-peralatan medis. Bagaimanapun, ayahnya itu memiliki perusahaan peninggalan dari sang kakek.

Rumah mereka berada di kabupaten Tangerang, dilengkapi taman yang cukup luas. Saya pernah mendengar bahwa daerah itu dulunya adalah pemukiman para tentara muda pendukung Presiden Soekarno. Tetapi, setelah meletusnya peristiwa 1965 kemudian diambil-alih oleh kekuasaan Orde Baru, yang konon sang kakek tua pernah terlibat dalam mendukung kebijakan-kebijakan pemerintahan Soeharto.

Pernah suatu hari, ketika seluruh keluarganya berlibur ke vila milik kakeknya di daerah Puncak, Farida beralasan kurang enak badan. Dan Anda bisa bayangkan, hari-hari itu saya bersama Farida berduaan di rumah megah itu. Di hari Minggu pagi bulan April, kami berduaan di taman rumah, bercumbu mesra sambil mendengar musik When a Man Loves a WomenLiberian Girl, Theme from ‘ A Summer Place’  yang diputar sebagai latar belakang.

Saya memiliki catatan kecil mengenai tokoh-tokoh terkenal dalam film Theme from Summer Place yang tak diketahui oleh Farida. Troy Donahue, bintang muda yang ganteng itu, kemudian terjerumus dalam lembah hitam dalam kasus penyelundupan narkoba. Selama beberapa tahun, ia menjalani hidup sebagai gelandangan dan tidur di emperan jalan raya. Sementara Sandra Dee, juga terjebak dalam minuman keras dan menjalani rehabilitasi sebagai pacandu alkohol. Donahue menikah dengan Suzanne Pleshette, seorang aktris terkenal, tetapi akhirnya  bercerai delapan bulan kemudian. Si cantik Dee menikah dengan penyanyi Bobby Darin, yang kemudian mereka pun bercerai beberapa tahun berikutnya.

Saya menyatakan hal ini pada Anda, yang boleh-boleh saja Anda berpendapat bahwa kejadian-kejadian semacam itu mungkin saja ada hubungannya dengan soal “kebuntuan ideologis” yang saya kemukakan di atas.

***

Farida punya adik perempuan yang duduk di kelas dua SMP, juga seorang kakak laki-laki yang berpindah-pindah sekolah, hingga akhirnya memutuskan tak mau kuliah sejak lulus dari SMU. Seorang dokter pernah mendiagnosa dirinya mengidap neurosis, tetapi dokter lainnya mengatakan semacam skizofrenia, paranoid atau yang sejenisnya. Waktu itu saya dan Farida sudah menginjak kelas dua SMU. Suatu kali, kami membiarkan adik perempuannya ikut bersama kami menonton pertunjukan teater di Taman Ismail Marzuki (TIM). Farida tergila-gila pada penampilan para tokoh saat pertunjukan teater. Dia membeli buku dan mencari literatur melalui perpustakaan yang berkaitan dengan pertunjukan tersebut.

Sementara, adik perempuannya kurang begitu suka dengan tema-tema cinta seperti itu. Setiap kali kami melihat satu sama lain, dia menatap saya dengan mata aneh, sama sekali tanpa ekspresi. Seolah-olah dia mengamati apakah buah jeruk yang sudah dikupas di atas meja masih bisa dimakan atau tidak. Penampilannya itu selalu saja membuat saya merasa kikuk dan serba salah. Tatapan matanya seakan menembus relung-relung kedalaman pikiran dan perasaan saya. Tapi, saya kurang tahu banyak, apakah memang saya ini tergolong laki-laki pemalu atau apalah.

Kakak laki-laki Farida sekitar tiga tahun lebih tua dari saya. Meskipun dia tak pernah memperkenalkan dirinya, juga tak pernah menyebutkan siapa namanya. Kalau dia melibatkan diri dalam percakapan, dengan lihainya akan mengubah topik pembicaraan, lalu membangun retorika politis sana-sini. Belakangan saya bisa memahami sikapnya yang tidak wajar. Hal ini bukan berarti saya sibuk memikirkan dia. Saya sama sekali tak tertarik pada sikap dan perilaku keluarganya. Barangkali yang membuat saya tertarik pada Farida lantaran dorongan dan keinginan hasrat laki-laki yang sifatnya sangat mendesak.

Jadi, mulai pertama kali saya bicara dan bercakap-cakap dengan kakaknya itu sekitar bulan Mei tahun 1998.

Waktu itu hari Sabtu sore. Saya mengendarai motor ke rumah Farida untuk menjemputnya. Saya membunyikan bel pintu berkali-kali tetapi tidak ada jawaban. Setelah menunggu lama, saya pun berbalik menuju pagar, tetapi tiba-tiba pintu rumah terbuka. Tak lain dia adalah kakaknya Farida, seakan memberi isyarat agar saya masuk.

Posturnya agak tinggi dan kekar. Bahunya agak lebar tetapi lehernya relatif panjang dan kecil. Terlihat rambutnya yang gondrong dan acak-acakan, matanya memerah seakan baru saja bangun tidur. Penampilannya kaku dan kasar, mengenakan kaos yang agak ketat, serta celana hitam yang longgar di lutut. Penampilannya seakan bertolak-belakang dengan Farida yang selalu terlihat rapi, anggun dan terawat.

“Kamu temannya Farida, ya?” katanya kemudian. Suaranya pelan seperti orang teler, tetapi saya membaca adanya keseriusan pada sorot matanya.

“Ya, benar,” kata saya memperkenalkan diri. “Seharusnya saya datang ke sini jam tiga tadi.”

“Tapi Farida lagi enggak ada, dia pergi,” katanya.

“Ke mana?” tanya saya.

“Enggak tahu,” jawabnya sambil mengangkat bahu.

“Seharusnya saya datang menjemput sejak jam tiga tadi. Sekarang sudah terlambat setengah jam.”

“Sudah buat janji?”

“Sudah.”

“Tapi buktinya dia enggak ada tuh.”

Saya bingung, tak tahu apa yang harus saya lakukan. Dia juga kelihatannya bingung sambil menguap dan menggaruk belakang kepalanya.

“Waktu saya bangun tidur tadi, rumah ini kosong, sepertinya semuanya pergi entah ke mana. Tapi, kalau kalian sudah janjian, mungkin sebentar lagi juga datang. Ayo masuk.”

Saya pun masuk pelan-pelan, dan dia mempersilakan duduk di ruang depan. Ruang tamu dengan sofa tempat Farida dan saya kerap bermesraan, terlebih jika seisi rumah sedang kosong.

“Kamu teman Farida, kan?” dia bertanya lagi, seolah ingin meyakinkan saya.

“Benar,” kata saya lagi.

“Apa enaknya pacaran sama dia?” tatapan ingin tahu seakan menyembul di kepalanya.

Saya tidak menjawab, hanya tersenyum saja. Tapi dia duduk menghadap muka saya, seakan menunggu jawaban.

“Cukup asyik, menarik, dan menyenangkan,” kata saya kemudian.

“Menurut saya dia biasa-biasa saja… yang menarik apanya?”

“Bukan menarik seperti itu… maksud saya…,” tenggorokan saya agak tercekat.

“Kamu bilang tadi menarik, menyenangkan… boleh saya tahu, menyenangkan dari sisi apa?” ketusnya lagi.

Saya terdiam membisu. Kemudian, dia bangkit dan menawarkan saya kopi. Tetapi saya katakan tidak usah. Lalu, dia pun menuju dapur dan membuatkan saya teh manis.

 Kami saling bercakap-cakap dalam waktu yang cukup lama, meskipun saya agak ragu melibatkan diri terlalu jauh dengan keluarga Farida, terutama ketika dia sedang tak ada di rumah. Seketika saya memindai memori untuk memastikan apakah kami benar-benar memutuskan akan berjumpa sore itu. Akhirnya, saya pun meyakini bahwa tanggal dan waktunya sudah benar, meskipun saya agak telat setengah jam. Namun, sore itu rasanya aneh dan janggal, apa mungkin seluruh keluarganya pergi bersama-sama, sementara kakak laki-lakinya ditinggal sendirian di dalam rumah.

Bingung dengan itu semua, saya duduk menunggu di sofa dengan sabar. Waktu berlalu sangat lambat. Beberapa pertanyaan lagi dilontarkan, dan saya malas menanggapinya. Sepertinya, dia adalah tipe laki-laki yang gemar membuat onar dan keributan. Kerongkongan saya agak kering dan saya menelan ludah untuk membasahinya.

Suara musik barangkali akan menenangkan suasana, baik dari alunan suara Whitney Houston, George Benson, Michael Jackson, Iwan Fals, atau siapa sajalah. Tetapi, saya melihat gerak-gerik kakaknya itu seperti laki-laki yang tidak menyukai alunan-alunan merdu dari indahnya suara musik.

***

Biasanya kami sepakat membikin alasan mau belajar di perpustakaan atau mengikuti les jika harus berangkat kencan. Di dalam ransel, biasanya saya selipkan beberapa buku yang menunjukkan sikap seorang terpelajar. Sore itu, saya pura-pura membuka isi ransel dan menarik sebuah buku yang berkaitan dengan kesehatan dan obat-obatan. Sebenarnya, saya bukanlah orang yang gemar dan tekun membaca buku ilmiah hingga halaman terakhir. Hanya membuka-buka bagian yang dirasa penting saja. Buku sastra pun, setelah membaca dua dan tiga halaman pertama, kalau terasa nyaman diteruskan, tapi kalau dirasa menyebalkan cukup sampai di situ.

Saya menarik sebuah novel berjudul “Anak Semua Bangsa”. Kakak Farida sepertinya tertarik melihat judul itu. Secara acak saya membolak-balik halaman-halaman dalam novel itu. Dia mengaduk-aduk kopi, dalam cangkir putih bergambar tengkorak yang tertusuk belati dan bertabur bunga mawar dan darah di sekelilingnya. Ini pasti cangkir kesayangannya. Saya membayangkan bagaimana Farida menyesap teh manis dari cangkir yang menyeramkan itu.

“Kamu serius enggak mau kopi?”

“Enggak usah, terimakasih,” kata saya menggeleng.

Tak lama kemudian, dia menatap dinding. Ada jam dinding yang kini menunjukkan Pk. 17.00 sore. “Belum juga mereka datang, kan? Ke mana saja mereka-mereka itu?”

Saya terdiam, dan tidak memberikan jawaban.

“Ngomong-ngomong buku apa yang kamu bawa itu?”

“Yang ini, konspirasi global tentang penyakit menular,” saya pun menunjukkan cover buku itu.

“Memang bangsat semua orang-orang itu,” celetuknya dengan mata menerawang. “Lalu buku yang itu, apa?”

“Novel Anak Semua Bangsa.”

“Ooh, saya udah baca buku itu, kalau satunya lagi?”

Saya menunjukkan satu buku lagi yang judulnya sangat panjang: “Siapakah yang Bersalah Jika Tokoh-tokoh yang Baik Mengalami Nasib Buruk?”

“Coba, tolong bacakan buku itu,” perintahnya kemudian.

“Dibacakan?” saya agak terkesiap, “saya enggak biasa baca buku dengan suara keras.”

“Kamu sendiri sudah baca, kan? Paling tidak garis besarnya tolong bacakan… atau sekadar kesimpulannya saja, enggak apa-apa.”

Saya pun membuka-buka halaman dalamnya, lalu menemukan kata-kata yang sebenarnya agak berat untuk saya bacakan di hadapannya: “Di antara pintu-pintu yang terbuka itu, mesti ada pintu tertutup yang tak dapat dijamah oleh siapapun, bahkan oleh Tuhan sekalipun.”

“Nah, saya suka kata-kata itu. Coba, saya lihat buku itu.”

Dia pun mengamit buku itu dari tangan saya. Dia membuka-buka halaman dalamnya. Gelas kopi di tangan kirinya, hampir tertumpah di atas halaman-halaman buku itu. Dia meletakkan cangkirnya di atas meja kaca dengan denting kecil, dan dia memegang buku itu di kedua tangan dan mulai membolak-balik.

“Kalau tidak salah, saya pernah mengenal penulis buku ini.”

“Bahri Sukardi?” ujar saya.

“Ya, dia pernah dikenal juga sebagai seniman binatang jalang, iya kan?”

“Ya, benar sekali, tapi kita berempati dengan kematiannya.”

“Karena tragedi kecelakaan itu?”

“Ya.”

“Ah, bagi saya enggak ada bedanya. Mati karena sampar, lepra, AIDS, atau di bawah truk tronton, kalau sudah waktunya mati ya mati.”

“Kalau mati karena overdosis?” celetuk saya spontan.

Dia tidak menjawab, hanya memancangkan tatapannya ke arah saya. Tapi kemudian, ia berusaha mengendalikan diri, dan katanya kemudian, “Sepertinya kamu pintar menbambil intisari dari suatu bacaan. Saya suka kesimpulan yang kamu bacakan tadi. Ngomong-ngomong mereka belum juga datang, tapi kamu enggak usah buru-buru pulang sampai mereka datang, bagaimana?”

Saya sebenarnya agak jenuh menanggapi omongannya. Tapi akhirnya, saya dapat memahami bahwa laki-laki itu memang membutuhkan orang untuk diajak bicara.

***

Dia duduk dengan tangan bersedekap di depan saya. Matanya terpejam sejenak, kemudian ia berkata, “Ini mungkin agak aneh menurut kamu. Tapi saya mau tanya pendapat kamu. Apakah kamu pernah merasakan situasi di mana ingatanmu hilang dan lenyap, lalu kamu memejamkan mata, tahu-tahu kamu telah menghabiskan waktu lima hingga tujuh jam ketika kamu tersadar dan matamu terbuka?”

Saya menggelengkan kepala. “Sepertinya saya belum pernah mengalami hal seperti itu. Tapi menurut saya, hal itu wajar-wajar saja.”

Saya sendiri masih belum yakin, apakah saya paham apa-apa yang diucapkannya itu. Tapi saya pun membiarkan ia terus bicara.

“Ini disebabkan kelainan genetik. Dan kasus yang saya alami cukup berat. Mungkin hanya satu dari sekian puluh ribu orang. Pada tahun terakhir di SMU, ibu membawa saya ke rumah sakit jiwa. Dokter saraf memeriksa saya, lalu saya ceritakan kondisi di mana urutan ingatan-ingatan saya menjadi kacau. Satu bagian dari ingatan saya seakan tersimpan di kotak yang salah, dan rasanya sulit untuk bisa menyatukannya kembali. Seakan-akan melompat dari tangga satu mencapai tangga ketujuh. Begitulah cara mereka menjelaskannya waktu itu. Ini memang bukan jenis gangguan yang berakibat fatal, tetapi tentu saja hal ini menimbulkan masalah dalam perjalanan hidup saya. Mereka memberi tahu saya nama penyakit langka ini, lalu memberi saya obat rutin untuk diminum setiap hari. Tetapi nyatanya, pil yang saya minum tidak memberikan efek apa-apa. Pil-pil itu hanya menimbulkan efek yang sekejap saja.”

Untuk sesaat ia terdiam, seakan mengamati dengan seksama apakah saya mengerti atau tidak. Tapi kemudian ia melanjutkan, “Saya memahami bahwa ini adalah fase kehidupan saya meskipun tidak banyak orang yang mengalami. Suatu hari, tiba-tiba ingatan saya terputus sama sekali. Tetapi, untungnya saya dalam posisi di tempat tidur atau menonton teve. Coba bayangkan, bagaimana kalau tiba-tiba pada fase itu saya bangkit, mengambil martil lalu memukul kepala ayah saya. Siapa yang bisa menghalangi itu? Kamu mengerti kan, maksud saya?”

“Ya,” kata saya mengangguk. Dan saya tetap membiarkan dia melanjutkan.

“Jadi, siapa yang harus dipersalahkan ketika posisi saya dalam situasi seperti itu?”

Saya menatap wajahnya erat-erat, dan lanjutnya kemudian, “Tentu saja polisi akan menjatuhkan vonis bersalah. Tetapi, saya akan menjawab bahwa saya tidak ingat apa-apa waktu melakukan itu. Ingatan saya menghilang. Lalu, bisa dibayangkan bagaimana mereka mau percaya dengan omongan saya itu?”

Saya menggelengkan kepala. “Ya, mereka mungkin tidak akan percaya. Tapi ngomong-ngomong, kenapa kamu tidak menyukai ayah kamu?”

Ia terdiam dalam waktu yang cukup lama, tapi kemudian berkata pelan. “Sebenarnya ada beberapa orang yang menyebalkan dan membuat saya ingin menghajarnya. Mungkin juga termasuk ayah saya, ketika dia pulang main golf bersama teman-teman borjunya. Saat itu, jelas saya tidak tega untuk menghajarnya dengan martil. Tetapi, kalau fase hidup saya dalam posisi hilang ingatan, siapa yang bisa menghalangi itu?”

Saya mencondongkan kepala, menahan diri untuk tidak berkomentar. Dia menjulurkan tangan dan menyeruput cangkir kopinya. “Waktu kelas tiga SMU saya hampir berhenti sekolah karena gejala-gejala ini. Semakin saya memikirkan itu, semakin membuat saya takut sendiri. Ibu menjelaskan situasinya kepada guru, dan meskipun saya terlalu banyak absen, mereka membuat pengecualian dan membiarkan saya lulus. Saya membayangkan bahwa semua sekolah tentu ingin menyingkirkan orang-orang seperti saya secepat mungkin. Itulah yang kemudian membuat saya enggak mau melanjutkan ke perguruan tinggi. Sejak saat itulah, saya bermalas-malasan di rumah, menonton teve, talkshow dan debat-debat politik, juga film-film perang…”

“Kalau musik?”

“Saya enggak begitu suka musik pop. Kecuali beberapa musik cadas seperti Sepultura, Skid Row, Pearl Jam, atau Soundgarden.”

Kami saling diam. Kini, saya mengerti mengapa Farida tidak pernah mau diajak bicara mengenai keluarganya, terutama tentang kakak kandungnya sendiri. Akhirnya, saya pun melongok ke jendela dan suasana agak gelap, namun belum ada tanda-tanda mereka akan datang. Saya pun undur diri dan  pamit, kemudian mengatakan bahwa suatu saat bisa disambung kembali.

“Mungkin mereka tidak pulang sore ini, tapi sebelum kamu pergi, boleh saya tanya sesuatu?”

“Ya?”

“Apa untungnya pacaran sama Farida?”

“Mungkin ada,” jawab saya.

“Bagian mana?”

“Mungkin bagian yang saya belum paham banyak tentang dia,” jawab saya apa adanya.

“Tapi sekarang kamu sudah paham, kan? Karena bagaimanapun secara genetik, dia adalah adik kandung saya?”

“Saya kira setiap manusia punya sisi kelebihan dan kekurangan, termasuk Farida. Doakan saja, semoga saya bisa menutup bagian yang kurang darinya, dan dia pun bisa menutup bagian yang kurang dari diri saya.”

Ia berdiri terpana. Saya kurang tahu apakah dia memahami apa yang saya katakan, ataukah tidak.

***

Wacana tentang kebuntuan ideologis terus menggelayut dalam pikiran saya. Duapuluh dua tahun kemudian, wacana itu masih saja menyertai perjalanan hidup saya. Saat itu, pertengahan September. Saya sudah menginjak 41 tahun, hidup bersama Farida yang sudah menjadi istri saya, dan kami telah dikaruniai dua anak, puteri dan putera.

Sore itu, ketika saya sedang menyimak opini Kompas bertajuk, “Sastra, Takhayul, dan Kebuntuan Ideologis”, saya melihat Farida terisak-isak ketika membukakan pintu rumah. Ia mengabarkan kematian kakaknya sekitar Pk. 16.15 tadi. Kontan kami meluncur menuju kediaman mertua saya. Karena kakaknya itu masih lajang dan masih tinggal bersama kedua orang tuanya.

Dia tidak mengidap virus Corona maupun penyakit Covid-19. Dokternya telah meresepkan obat tidur, tetapi sore itu dia meminum semua obat itu sekaligus. Padahal, semula kesehatannya baik-baik saja, dan dia tidak bertindak seolah-olah mengalami tekanan dan banyak masalah. Pada saat meninggal, ia sedang mendekap buku sastra yang bicara soal wabah penyakit, yaitu La Peste, karya sastrawan Prancis, Albert Camus.

Saya diam terpaku. Farida juga. Kami masing-masing tenggelam dalam pikiran kami sendiri.

Sambil menghempaskan punggungnya di sofa, Farida menatap saya erat-erat. Seakan pada sorot matanya ia mengulang kembali pertanyaan, “Inikah yang dimaksud kebuntuan ideologis itu?” (*)

Oleh: Alim Witjaksono

Penulis adalah Pengamat dan penikmat sastra milenial Indonesia, menulis cerpen dan kritik sastra di berbagai harian nasional luring dan daring

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.