Ihwal Kematian Rafi

oleh -1418 Dilihat
banner 468x60

“Ada perlu apa?” tanya Herman dengan mata melotot, setelah ia membuka pintu.

“Kiriman dari Ayah,” jawab Olif sambil menunduk.

“Kamu siapa?” katanya sambil memicingkan mata.

“Saya anak Pak Gesang.”

“Oo ya, ayo masuk, masuk… kamu sudah besar rupanya? Mungkin sudah setinggi ayahmu? Sudah lama menunggu?”

“Mungkin sekitar sepuluh menit yang lalu.”

“Ayo, ke sini… kamu lama juga ya… hampir saja saya menelepon ayahmu… bagaimana kabarnya? Apakah dia sudah mendingan?”

“Sudah baikan. Mungkin peluru yang menembus paru-parunya itu yang membuatnya lambat untuk pulih.”

“Tapi setelah diobati ke Singapur, saya kira akan cepat pulih… tenang saja, Olif….”

Olif segera mengeluarkan bungkusan kertas biru dari ranselnya, lalu menyerahkannya kepada Herman. Ruangan depan itu dilengkapi dengan sofa putih, bupet, dan cermin berbingkai keemasan. Melalui celah yang disekat bupet, Olif dapat melihat sebagian ruang tengah dan mendengar suara-suara bising.

“Coba saya tes dulu, seberapa bagus barang ini. “ Herman membuka bungkusan itu, mencelupkan telunjuknya ke dalam bubuk dan menaruhnya ke dalam mulut, lalu menarik napas panjang.

“Kamu kok lama sekali? Sampai saya kira kamu dicegat polisi seperti yang dialami ayahmu?”

Olif tidak menanggapi, malah ia balik bertanya, “Apakah ini rumah Bapak?”

“Doakan saja, mudah-mudahan jadi rumah saya nanti,” katanya dengan suara berbisik. “Tapi saat ini, rumah ini ada yang punya, yakni teman saya. Kebetulan dalam satu minggu ini kami sedang mengadakan selamatan…”

“Semacam pesta?”

“Ya, seperti itulah. Bisa juga dibilang pesta rempah-rempah. Tapi selama dua hari terakhir kami kehabisan barang. Ketika mereka mendesak saya, mereka enggak percaya kalau saya tak punya barang satu gram pun. Tapi mereka punya duit untuk membelinya secara tunai. Kebetulan sekarang ada banyak permintaan untuk produk ini. Oya, maaf, tadi saya membentak kamu. Soalnya saya sudah kasih tahu ayahmu agar menelepon dulu pas sampai Jakarta. Tapi, apakah dia sudah pulih benar?”

“Belum,” jawab Olif, “jalannya masih pincang, dan sesekali dia memegang dadanya karena merasa nyeri.”

“Sampaikan salam saya pada ayahmu, saya akan segera menelpon soal pelunasan bulan kemarin. Ayo, masuklah. Kita minum-minum dulu. Kamu kelihatan capek, dan mukamu pucat sekali.”

***

“Hadirin sekalian, pahlawan kita sudah datang membawakan vitaminnya,” seseorang berteriak dari ruang tengah yang satu lagi. Olif tak dapat melihat yang mana orangnya, ia merasa agak kewalahan. Di rumah itu tampaknya ada sekitar tujuh orang asing, lebih tepatnya orang-orang aneh dan senewen. Sebagian mereka masih mabuk seraya bertepuk tangan riuh menyambut kedatangan Olif. Namun, yang disaksikan oleh mata kepala Olif, tampaknya bukanlah pesta seperti biasanya, Di ruang tengah satunya yang lebih luas, terdapat barisan sofa berwarna-warni yang berbentuk melingkar pada masing-masing kelompok. Ada dua sofa panjang berbentuk L mengitari tumpukan bantal. Olif mengambil duduk pada salah satu sofa yang tidak ditempati.

“Kamu mau minum apa? Kopi atau bir?” tanya Herman.

”Bir juga boleh,” balas Olif.

Herman menyerahkan kepadanya sebotol bir bintang, lalu ngeloyor ke ruang belakang untuk menimbang dan membagi-bagi heroin yang akan dijualnya kepada orang-orang itu. Alunan musik country terdengar samar, membuat Olif merasa dirinya berada di tengah padang pasir sebagai kafilah yang tersesat di tengah jalan.

“Bagaimana, Herman?” teriak seorang pemuda berambut ikal dan keriting. “Kok lama banget vitaminnya? Jangan-jangan kamu sedot sendiri di dapur?”

“Ayo cepat bawa ke sini, Fren? Uang saya sudah keluar banyak untuk menebus rempah-rempah itu!” kata seorang gendut dengan hidungnya yang besar dan mulutnya lebar. Gesturnya seperti orang maniak, sambil menggenggam botol wisky ia menenggak habis minuman itu. Seorang pemuda di sebelahnya terus meracau sambil mencumbu dan menciumi seorang gadis, sementara si gadis menggeliat-geliat dan berusaha menghindar dari cengkeramannya. Ada lagi seorang berambut pirang yang hidungnya mancung dan alisnya tebal seperti orang Arab. Ia tertawa cekikikan melihat ulah dan tingkah bodoh seorang berambul jimbal, yang sesekali membuat lelucon dan banyolan konyol dan jorok.

Olif tak peduli dengan orang-orang aneh itu. Ia datang ke situ hanya untuk mengantarkan bungkusan atas suruhan ayahnya. Setelah dari sini pun dia tak punya rencana apa-apa. Ia menenggak bir di tangannya, setelah itu pikirannya agak sedikit ringan dan enteng sejenak.

Sambil bersander pada sofa, matanya melirik sepintas menyaksikan tingkah polah orang-orang yang ada di sekelilingnya. Baginya, orang-orang sableng itu seakan datang dari antah barantah, namun ia sedang tidak bermimpi. Mereka tampak jelas di depan mata kepalanya. Misalnya, ada pria yang rambutnya ikal dan cokelat sedang tidur ngorok bagaikan ikan paus yang mengeluarkan angin dari paru-parunya. Ada yang berhidung mancung bicara ngalor-ngidul perihal ajaran agama yang katanya buat-buatan manusia belaka. Seorang berpakaian jubah Arab justru menjelaskan konsep reinkarnasi kepada seorang wanita emak-emak dengan pakaiannya yang seronok. Wanita itu membungkuk dalam-dalam, payudaranya menjuntai sebelah, blusnya melorot dan hampir lepas dari badannya. Ada lagi seorang gadis berkepala plontos yang sedang duduk di karpet, seakan menatap kaku permadani hiasan pada dinding di sampingnya. Di sebelah kanannya laki-laki bugil sedang tidur tengkurap, mukanya terbenam ke lantai, sementara pantatnya dibiarkan menjuntai ke atas.

Satu-satunya orang yang agar waras dan ikut menyambut kehadiran Olif adalah seorang ibu-ibu berusia 50-an tahun, tampak bersandar pada kosen pintu ruang tengah. Wanita itu berwibawa dan penuh percaya diri. Ia mengenakan pakaian pesta dengan rambut disanggul ke belakang. Segeralah Olif menyadari bahwa momen ini memanglah sebuah pesta. Barangkali pesta besar-besaran yang dihadiri oleh para elit politik, pengusaha, bahkan orang yang mengaku-ngaku tokoh agama di Jakarta.

Wanita itu memancangkan tatapan ke arah Olif. Tampaknya ia bukan sedang mendengar banyolan jorok si rambut jimbal maupun konsep reinkarnasi oleh si pemakai jubah Arab. Ia bahkan tak peduli suara mobil polisi di luar yang sepertinya sedang berpatroli di wilayah itu.

Segera setelah Olif menghabiskan bir di tangannya, kepalanya seakan melayang di dunia lain, hingga membuatnya sulit untuk mengesampingkan pikiran-pikiran negatifnya. Wanita bersanggul itu kemudian menghampiri Olif dan duduk di sebelahnya. “Kenapa kamu kelihatan sedih?” tanyanya kepada Olif.

“Siapa yang sedih,” balas Olif, “saya cuma sedikit alergi.”

Wanita itu menatapnya erat-erat, “Alergi pada bir?” tanyanya lagi.

“Ya, memang Ayah pernah memberi tahu supaya jangan minum banyak-banyak.”

“Ayahmu sudah sehat?”

“Sudah mulai bisa jalan.”

“Lalu, apa yang sedang kamu pikirkan?” pancingnya kemudian.

“Saya lagi kangen sama Nenek di kampung,” jawab Olif berbohong.

“Tapi ayahmu tinggal di Tanah Abang selama ini?”

“Ya, saya kurang begitu suka tinggal di Jakarta.”

“Kenapa? Di kampung kan sepi? Emang di mana kampung nenekmu?”

“Palembang.”

Sejenak mereka saling diam. Kemudian wanita berwibawa itu beranjak dari tempat duduk, seraya mengamit lengan Olif, “Ayo, kita ke atas sebentar. Tampaknya kamu belum banyak tahu tempat ini.”

Wanita itu lalu menggiring Olif menaiki tangga ke lantai dua. Mereka melangkah menuju koridor yang dijajari pintu-pintu di kedua belah sisinya.

“Saya cuma berdua dengan anak saya di rumah ini. Tapi dulu, mertua saya dan ketiga anaknya tinggal di rumah besar ini. Dari ketiganya, mendiang suami saya yang paling bungsu. Para saudara dan kerabatnya yang dari Medan dan Manado juga sering berkunjung ke sini…”

Wanita itu berhenti di depan sebuah pintu, lalu katanya lagi, “Salah seorang mantan presiden kita juga ada yang pernah menginap di rumah ini.”

“Anggota DPR juga?”

“Wah, kalau anggota DPR banyak, dan sering.”

Olif menunggu apakah ia mau menyebutkan nama mantan presiden maupun anggota DPR yang dimaksud, namun ternyata wanita itu tetap merahasiakannya. Di salah satu ruang, Olif melihat pelapis dinding yang sudah mengelupas dan karpetnya pun usang, sepertinya sudah bertahun-tahun dibiarkan dan tak seorang pun pernah masuk. “Ayo, masuklah. Ini kamar suami saya. Meja kerjanya masih saya biarkan di situ. Dia meninggal karena Covid sekitar empat tahun lalu, tetapi ruangan ini tetap saya jaga seperti saat dia masih hidup.”

Dinding-dindingnya dijajari oleh lemari penuh buku, lalu Olif pun bertanya, “Apa pekerjaan suami Ibu?”

“Dia dokter. Beberapa pasien Covid telah berhasil diselamatkan, tapi justru dia sendiri tak tahan menghadapi penyakit mematikan itu.”

“Lalu, apakah anak Ibu ada di lantai bawah tadi?”

“Ya,” katanya mengangguk, “yang rambutnya ikal dan keriting itu adalah Rafi anak saya, umurnya masih sekitar 20-an tahun.”

***

Tampaknya, wanita berwibawa itu punya konsep yang berbeda dengan mendiang suaminya dalam soal mengasuh dan mendidik anak. Suaminya ingin putera mereka menjadi dokter, atau arsitek seperti sepupunya. Namun, panggilan jiwa Rafi adalah seni. Ia seorang pelukis impresionis yang mengagumkan, dan karyanya sering dipamerkan di gedung-gedung kesenian dan kebudayaan, baik di Jakarta, Yogyakarta hingga Medan.

Sang suami tak suka melihat Rafi menghamburkan waktunya untuk bersenang-senang, tanpa menghiraukan masa depannya. Namun menurut si istri, buat apa juga suaminya menghabiskan waktu untuk belajar dan membaca buku-buku? Ia tidak pernah melihat suaminya bahagia, hidupnya selalu diliputi kekhawatiran dan ketegangan. Oleh karena itu, biarkan saja Rafi, anak satu-satunya mengadakan pesta sesukanya. “Saya justru lebih suka dia bersenang-senang di dalam rumah daripada keluyuran entah ke mana,” tambahnya lagi.

Wanita tua itu melepas sanggul rambutnya, serta membiarkannya terurai hingga bahu. Matanya seakan mendelik genit, dan ujarnya lagi, “Sepertinya kamu masih sedih… atau masih alergi dengan minuman bir tadi? Atau, jangan-jangan masih kangen sama nenekmu?”

Olif memalingkan mukanya, diam tak menyahut. Wanita itu mengerling sambil mendekatkan wajahnya, “Kamu mengingatkan mantan pacar saya sewaktu kuliah di UGM dulu. Tapi, setelah dia melanjutkan studinya ke Kanada, tampaknya dia ingin kerja di sana, kemudian mendapat jodoh orang sana juga.”

Ketika wanita tua itu sedang merenggut dan mencengkeram bahu Olif, tiba-tiba terdengar suara gaduh dan bising dari lantai bawah. Para gadis berteriak-teriak histeris. Segeralah keduanya tersentak kaget dan turun ke lantai bawah.

Tampaknya si gendut dan si rambut jimbal sedang baku hantam memperebutkan kokain yang tinggal beberapa gram saja. Meja dan kursi berseliweran dijadikan alat pemukul. Sebuah kursi mengenai kepala si Arab, tetapi dia menduga kursi itu dilemparkan oleh si rambut ikal dan keriting.

“Rafi… Rafi… anakku….!”

Teriakan wanita tua itu sama sekali tak terdengar, tenggelam oleh suara musik dan keriuhan di sana-sini. Dalam waktu sekejap saja, si Arab murka dan memecahkan botol bir di genggamannya. Seketika itu, ia menghujamkan pecahan botol itu ke perut Rafi. Darah berceceran ke mana-mana. Seperti orang kesurupan, Rafi berlari-lari mengitari seluruh ruangan, kemudian naik ke lantai dua.

Tiba-tiba, ia melangkah terhuyung-huyung menuju kamar mendiang ayahnya, dan di bawah meja kerjanya ia terkapar jatuh, dengan perutnya yang robek bersimbah darah. (*)

Oleh: Alim Witjaksono / Peneliti sastra mutakhir Indonesia, menulis prosa milenial dan kritik sastra, di berbagai media nasional luring dan daring.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.