Generasi Para Kuli 

oleh -1228 Dilihat
banner 468x60

Baru sadar setelah beberapa hari kerja di California Fried Chicken (CFC), ternyata saya bukanlah satu-satunya mahasiswa yang bekerja di sana. Ada beberapa mahasiswi yang bekerja paruh waktu, pagi kuliah sore kerja, ada juga yang paginya kerja dan sorenya kuliah seperti saya. Setelah menyempatkan diri berbincang-bincang dengan juru masak, ternyata ada dua sarjana yang pintar memasak, yang satu sarjana Teknik Mesin, satunya lagi sarjana dakwah di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta.

Lalu, bagaimana si sarjana Teknik Mesin itu dapat mengembangkan kemampuan saintifiknya, jika harus sibuk ngurusin jumlah bawang dan tomat yang harus direbus. Bahkan, sarjana dakwah tidak bisa mendayagunakan kemampuannya berceramah, kecuali hanya mendakwahi ratusan jumlah saus dan kecap yang akan disediakan untuk para konsumen.

Sebenarnya enggak tega saya mengolok-olok kolega sendiri, kecuali saya pun akhirnya harus ikhlas menertawakan diri sendiri. Saya cuma jengkel saja pada negeri kaya raya dan subur makmur ini. Nenek moyang bilang gemah ripah loh jinawi. Makan jambu biji saja, keluar berak di belakang rumah, jadi pohon jambu baru lagi.

Coba perhatikan, perempuan gendut 40-an tahun itu. Dia adalah seorang janda asal Madura, yang terpaksa menjadi pramusaji dengan meninggalkan kedua anaknya yang diasuh oleh neneknya yang sudah tua renta. Jika anak bungsunya juga gendut seperti dia, bagaimana nenek tua itu harus menggendong balita yang beratnya sama dengan satu sak semen. Bagaimana janda itu harus mengatur penghasilannya untuk memberi makan ibu dan kedua anaknya di rumah? Bahkan, untuk ngurusin lambungnya sendiri pun sepertinya pas-pasan?

Memang, sekitar 70 persen rekan kerja saya adalah perempuan. Dari berbagai-macam suku dan bahasa, meski yang paling dominan adalah Jawa dan Sunda. Tapi, bagaimana kedua suku itu dapat bersatu manakala orang Sunda menyatakan jumlah “salapan” berarti “sembilan”. Sedikit saja mengalami salah dengar, maka neraca perdagangan bisa jomplang tak keruan.

Satu-satunyaa orang Batak di sana adalah Bonar. Meski sikapnya temperamental, namun wataknya yang suka melucu dan blak-blakan menjadi hiburan tersendiri bagi kami yang bekerja full menguras tenaga dan pikiran.

Kadang saya merasa bersalah, kenapa saya harus menyabet pekerjaan ini, padahal banyak anak-anak muda dan janda-janda beranak yang masih menganggur, yang juga membutuhkan pekerjaan. Barangkali, banyak juga kakek-kakek ompong pensiunan pegawai negeri, yang mau mengabdi di CFC, McDonnal’s atau restoran cepat-saji lainnya. Itung-itung sedekah melayani konsumen, sambil menerima sedikit tips yang disodorkan oleh pelanggan sosialita.

Tapi apa boleh buat, saya sendiri pun butuh penghasilan, dan bukan anak konglomerat yang mengorupsi pertambangan dalam skala trilyunan. Ibu saya hanya seorang wanita Padang yang minim pendidikan, sedangkan Ayah juga masih menganggur sejak setahun lalu kena PHK lantaran perampingan tenaga kerja di suatu perusahaan milik Jepang. Boleh jadi, cepat atau lambat, ayah saya bisa menjadi pesaing kaum muda-mudi di CFC, yang sibuk mengiris bawang dan menggoreng kentang di sebelah saya. Sompret doang!

Sekitar jam 15.00 sepulang kerja, langsung saya berangkat kuliah. Sistem paket sore. Jurusan sastra Indonesia. Coba bayangkan? Mana sempat saya mendalami dan mengkaji novel-novel hebat karya Pramoedya Ananta Toer, sambil menghitung jumlah saus pedas yang akan disediakan bagi konsumen? Paling-paling saya mencuri waktu sejenak pada saat istirahat, lalu membuka-buka ponsel untuk mengintip, apakah sudah ada karya terbaru dari penulis milenial yang membahas novel Pikiran Orang Indonesia?

Sekarang saya sudah menginjak di semester terakhir. Rencananya akan menyusun skripsi mengenai analisis konflik dalam novel-novel mutakhir Indonesia, semisal dalam novel “Laut Bercerita”, atau “Orang-orang Oetimu” atau “Jenderal Tua dan Kucing Belang”. Mestinya sejak semester lalu skripsi ini sudah kelar dikerjakan, tapi saya harus mengulang beberapa mata kuliah karena nilai saya jeblok.

Seorang teman kuliah saya terpaksa harus bertengkar dengan dosen pembimbing lantaran tidak becus menulis skripsi yang membahas puisi-puisi Taufiq Ismail. Terutama ketika membedah puisi “Malu Aku Jadi Orang Indonesia”. Tentu saja dia enggak bakal beres membahas puisi tersebut lantaran dia sendiri sudah bekerja selama empat tahun di Starbucks yang letaknya di pusat Kota Tangerang.

Setelah pandemi Covid-19, pelanggan CFC semakin berkurang. Tapi saya tidak akan putus asa seperti kebanyakan orang, meskipun ada teman mahasiswa yang nyeleneh bahwa dari dulu sebenarnya saya sudah “putus asa” lantaran berani bekerja di CFC sambil kuliah. Itu artinya, saya cukup nekat untuk bekerja sebagai kuli bagi perusahaan Amerika, meskipun sejak beberapa tahun lalu mereka berdalih melepaskan diri dari franchise tersebut.

Sebutan “kuli” itu terngiang-ngiang terus dalam benak saya, sehingga manajer berkali-kali menegur saya karena dianggap lamban dalam bekerja. Itulah yang membuat sang manajer akhirnya memutuskan bahwa saya pantasnya berdiri sopan di depan pintu untuk menyapa pelanggan yang masuk, mengenakan seragam manis CFC sambil tersenyum cengar-cengir sepanjang hari.

Kadang saya pura-pura kebelet kencing menuju toilet, sambil buka-buka ponsel barangkali ada kiriman WA dari “si Dia”. Saya menyuruh si perempuan gendut menggantikan posisi saya di samping pintu, meski wajahnya selalu cemberut dan mahal senyum. Sebodo amat.

Sang manajer tampaknya merasa kesal jika mendapatkan mata saya sedang lirak-lirik ke arah jarum jam. Waktu istirahat setengah jam terasa bagaikan alam surgawi bagi saya. Segera saya kenakan jaket untuk menutupi seragam kaos polo, melangkah menuju lorong, meneruskan membaca novel Pramoedya untuk lebih mendalami tugas akhir skripsi saya, sambil merokok sepuasnya.

Ada seorang kakek tua yang ditugaskan manajer untuk membersihkan dan merapikan sampah-sampah di sekitar lorong. Mungkin usianya sama dengan Hotman Paris si pengacara Medan itu. Kadang seragamnya bercelomot saus tomat atau kecipratan Coca-Cola, dan dibiarkan mengering oleh uap dari keringat tubuhnya yang mungkin sudah keriput.

“Istri saya sudah meninggal dua tahun lalu,” katanya pada saya, sambil menghisap rokok dan duduk-duduk di lorong restoran.

Dia merasa tersinggung ketika saya menjawab sekenanya, “Biasanya si istri yang menjadi janda?”

Akhirnya, dia membalas juga, “Mungkin karena saya banyak bergerak, sementara perempuan malas untuk berolahraga.”

“Maksudnya, menjadi kuli?” canda saya.

“Walaupun menjadi kuli, yang penting kan pekerjaan halal,” jawabnya sambil tertawa.

Rupanya lelaki tua itu tidak seideal apa yang dikatakannya. Sepulang kerja, biasanya seorang janda muda mengendarai scooter sudah siap menjemputnya di halaman parkir. Konon, menurut pengakuannya, motor matic itu pemberian darinya, asal si wanita Sunda itu mau diperistri olehnya. Walah welah… yang penting halal….

Keesokannya, setelah menghisap rokok dalam-dalam, dia melanjutkan, “Tinggal serumah dengan seorang janda muda, adalah impian saya sejak dulu.”

“Jangan-jangan itu yang menyebabkan istri Bapak mati duluan?” tanya saya.

Dia tersinggung lagi. “Bukan begitu,” jawabnya ketus, “barangkali Tuhan mengabulkan apa-apa yang menjadi impian saya.”

“Impian untuk menikahi janda muda asal Sunda, begitu?”

Dia tidak membalas. Pandangannya menerawang. Sambil menyunggingkan senyumnya, dia berkata, “Sebagai anak muda, kamu mesti tahu, bahwa hidup satu rumah dengan seorang wanita cantik itu bagaikan hidup di alam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai…”

“Tapi itu kan hanya kesenangan sementara, karena yang abadi hanya ada di alam akhirat nanti… saya kira seorang lelaki hidung belang akan sulit mendapatkan jatah bidadari di surga nanti?”

“Maksud kamu, saya ini lelaki hidung belang?”

“Ya, saya tahu, wanita Sunda itu istri Bapak, dan bukan wanita simpanan, iya kan?”

Setelah beberapa bulan menjalin persahabatan, akhirnya saya tahu bahwa kakek tua itu memiliki seorang anak bernama Tubagus yang tinggal di Kota Serang bersama istri dan anaknya. Dia menceritakan bahwa si Tubagus itu kerja di resto McDonald’s cabang Serang. Itu artinya, sang anak adalah generasi ketiga dari keluarga Tubagus, yang dulu pernah menjadi pesuruh dan kaki-tangan penjajah Belanda, lalu sekarang kembali menjadi generasi kuli bagi perusahaan milik Amerika Serikat. ***

Oleh: Muakhor Zakaria

Penulis adalah Peneliti sastra milenial Indonesia, juga penulis prosa dan esai di berbagai media daring dan luring, di antaranya kompas.idrepublika.id, Jurnal Toddoppuli, Kabar Madura, Radar Banten, nusantaranews.coalif.idislampos.comruangsastra.com, NU Online dan lain-lain.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.