Gelombang menjadi Buih di Tepian

oleh -1633 Dilihat
banner 468x60

Mau heran tapi ini Negeri Sine Qua Non. Dari yang kupahami, kurang kreatif apalagi negeriku ini. Sejak dalam kandungan gabah, beras sudah disematkan keanjlokan kualitas. Berton-ton impor beras plastik yang ternyata oleh Depnakes dan orang-orang sarjana pertanian itu dilabeli dengan slogan ‘gurih bergizi’. Sudah bukan hal tabu, kepercayaan agama kami untuk ibadah naik haji tersandung penundaan karena alasan perang. Sudah mengangguk mahfum, petugas hukum kami sungguh seorang cendikia dalam urusan tilang dan rencana penghilangan. Belum lagi yang hangat ini tentang kasak-kusuk pengusaha yang korupsi triliunan.

Beragam masalah berjejal di daratan. Itulah alasan mengapa aku dan istriku memutuskan pindah ke tepian. Berharap karomah Tuhan terhidang dari lautan. Tapi sesuai namanya, buana ini fana karena penghancur sebenarnya adalah manusia. Begitulah fakta terkhusus setahunan ini.

“Buku itu pengetahuan tanpa batas. Seperti samudera. Sudah semestinya semua orang itu harus memahami dan menerapkannya. Kenyataan bahwa penjajahan hingga sekarang itu ada, bukan suatu hal untuk dimunafikkan” kata Gugat meletakkan kembali bacaannya. Pria setengah baya dengan perawakan tinggi keras namun kutu buku itulah sahabatku melaut. Dia yang punya kapal ini dan aku ABK-nya. Tidak sepertiku, Gugat orang yang kokoh tak berlari. Empat puluh lima tahun umurnya adalah penyatuan dari daging gelombang dan tulang karang.
Siang ini geram kembali mengasin di tubuhnya. Kesekian kalinya bubu rajungan kami rusak karena hantaman oleh pagar bambu sialan ini. Sedari tahun lalu sebuah pagar laut yang kami yakini sebagai proyek reklamasi dengan panjang 50 kilometer membelah dan membatasi pesisir. Gugat yakin, korporasi busuk sedang merangkak melawan Tuhan.

Kapal kayu kami yang sejak tadi telah melabuhkan sauh mulai kami rapatkan ke pancangan bambu. Aku meloncat duluan ke atas pagar. Pijakanku langsung mendarat pada tumpukan karung berisi pasir dan urukan tanah.

“Benar-benar tak habis pikir. Laut saja mau dibendung?” ujarku menggeleng tak percaya. Gugat yang sibuk di buritan kapal lalu berjalan ke arahku. Dia meneteng beberapa bubu yang reot. Mungkin sebalnya tak terelakan lagi. Manakala telah berdiri di anjungan, bubu itu ia hantamkan pada pagar bambu yang terlindung paranet.

“Aku bersumpah tak akan berdiam diri!”
Begitulah keadaan yang sering ku temui. Tempramen sahabatku itu sering meledak. Aku yang merupakan pribadi legowo kerap menenangkan. Tapi Gugat akan berontak dan mengatakan “Sikap itulah yang diinginkan mereka!”

Ada perasaan iri atas keberanian sahabatku itu. Memang Gugat bukan orang yang asal ngomong. Semua pikirannya tertuang pada tindak tanduknya. Sejak sebulan dari pembangunan pagar laut ini aku dan dia mendatangi semua lembaga yang ada di kecamatan hingga kabupaten. Dari RT, Kades, Penegak Hukum, sampai Dinas Kelautan dan Perikanan, aku di belakangnya. Aku bersaksi kepada Tuhanku bahwa Gugat sangat murka dan mengoarkan penolakan dengan keyakinan bahwa korporasi ini telah kelewat batas.

Ku ingat begini pernyataan atas kejengkelan hati yang Gugat sering lontarkan di setiap lembaga. “Jangan tutup duri! Mungkin sekarang dampaknya kurang terasa karena baru sekitaran 30 meter. Tapi ini proyek raksasa. Proyek ini hidup dan berjalan setiap hari. Berjalan di depan mata kami sebagai nelayan. Selain akan memperpanjang jarak melaut dan menyedot solar. Pekerjaan kelompok binatang itu akan hancurkan penghasilan kami. Jika Anda memiliki kemampuan untuk gemetar karena marah setiap kali ketidakadilan terjadi di dunia, maka kita adalah kawan. Kami tidak berhak untuk percaya bahwa kebebasan dapat dimenangkan tanpa perjuangan, begitu yang dikatakan Che Guevara, pejuang revolusi yang berjasa atas kebebasan Kuba.”

Aku ingat sebagian lembaga cukup terkagum atas keberanian dan keluasan berpikir Gugat. Namun banyak juga yang nyengir ejek dengan gambaran bahwa orang tanpa pendidikan yang bicara besar seperti itu tak ubahnya badut naik pentas. Lebih menyesaki dada kami keraguan atas ramalan Gugat ternyata juga berasal dari sebagian nelayan. Lantas kebenaran apalagi sekarang yang harus disangsikan?

Aku berjongkok menarik jaring ikan yang tersangkut bambu. Jika begini, tak ayal aku harus menyelam. Bersama pikiranku yang tak menentu dengan keadilan dan omelan di dapur nanti, ku ceburkan diriku ke lautan.


Malam sekitaran jam 23.40, aku terduduk di dipan bambu depan rumah. Deru ombak dan angin laut menyapihku dalam kegusaran. Sementara pucuk cemara yang berlenggok-lenggok itu seolah menelanjangiku atas cekcok barusan. Samar tapi aku hafal, hardikan istriku masih menguar di dalam rumah. Topik apalagi jika bukan ekonomi karena kemerosotan tangkapan ikan dan rajungan seharian tadi.

Aku menjambak rambutku memikirkan tentang pencarian hutang dan masa depan. Tak lama ku lihat bayang pria dari temaram lampu jalan berlari mendekat. Dia Gugat, dan ekspresinya sungguh bergairah. Gugat segera duduk dengan semangat dan langsung mengeluarkan ponselnya.

“Surat ke media dan postingan-postinganku ini tampaknya berbuah manis, lihat!” Gugat merapatkan ponselnya. Di media sosial beragam video menampilkan proyek pagar laut. Semua berlatar belakang sama dengan tajuk bernada protes dan usut. Gugat selanjutnya mengalihkan video ke aplikasi G-Mail. Ku baca sekilas; sebuah dukungan dari lembaga peduli lingkungan dan pengacara. Gugat sumringah lalu membuka email berikutnya. Aku tercekat kagum. Ada lembaga televisi swasta mengundangnya dalam beberapa hari ini untuk pembahasan tentang pagar laut. Ku pukul bahu Gugat dan berkata “Akhirnya perjuanganmu mempunyai kekuatan yang kokoh.”
“Kau harus ikut nanti.”
Aku terkekeh dan mengangguk.
“Hanya aku heran. Mengapa baru sekarang? Bukankah postingan darimu ini sudah lama?”
Gugat mengeluarkan sebungkus rokok. Menawariku dan aku mau.

“Beberapa orang dengan jangkauan luas pasti memviralkannya. Kau ingat sidang putusan hakim tentang kasus korupsi triliunan yang masih hangat itu?” kata Gugat sambil menelungkupkan tangan dan memantik korek.

Tanpa menunggu responku dia menyambung lagi.

“Usai menuai polemik putusan hakim dan rencana penelusuran kembali dari Pemimpin Negeri, selanjutnya kita heboh lagi oleh video suatu kota yang sedang dilanda bencana. Jika ini telah menjadi ampas, menurutmu apalagi yang bisa dibuat jadi anduk?”

Angin garam mengempaskan tamparannya ke wajah kami agar terjaga.
“Jadi menurutmu ini bagian dari isu penutupan?”
Gugat tertawa.

“Aku tak mau memikirkan pola usang itu. Sekarang aku hanya fokus pada kesempatan ini. Orang yang memviralkan videoku, aku sangat berterima kasih serta tak peduli dengan tujuannya. Hal yang paling buatku senang ialah kejadian ini tentu menjadi martir dengan fakta bahwa media dan lembaga mendukungku. Tunggu saja, akan ku goreng hingga gosong!”

Aku tak ragu dengannya dan jangan tanyakan kepadaku tentang apakah ada aura ketakutan di wajah sahabatku itu.


Kami para nelayan di sini mendukungnya. Ruangan berpendingin dan karpet permadani warna merah ini sungguh elegan. Sedikit canggung bagi kami yang terbiasa lesehan terpal. Namun Gugat bilang jangan menunduk, tetaplah tegak. Rasa tak enakan dan kikuk hanya membawamu pada jatuhnya mental dan kasta rendahan. Kita dari daging yang sama, darah sama, dan wujud yang sama. Beranilah karena nyatanya derajat kita itu tanpa beda.

Satu pembuka dari seorang moderator kami hadiahi dengan tepuk tangan. Sang moderator dalam acara diskusi malam ini lalu mempersilakan Gugat untuk mengawali gagasannya.

Tepuk tangan kami semakin nyaring. Aku di kursi belakang menyimak ulasan Gugat sambil mengamati beberapa orang yang ku rasa narasumber tampak tajam mendengarkan. Ku pastikan mereka semua dari kalangan atas dengan mewakili lembaga. Tapi tidak untuk dua sengkuni yang di sudut kursi itu, aku tahu mereka adalah bagian dari desa kami. Aku kecut melihat mereka juga diundang. Bagiku, hadirnya dua penjilat itu tak ubahnya pengerat penghisap darah daging saudaranya.

“Jujur saja Bang Zakaria, dari uraian yang barusan saya katakan itu bisa dibuktikan data. Bahkan ni ya, sertifikat laut itu sudah terbit sekitar setahun lalu lho. Gila, bukan? Itu berdua yang mendukung mengatakan akibat abrasi makanya daratan jadi laut.

Omongannya itu salah orang. Yang diomongin nelayan yang tiap hari wira-wiri di sana. Kayak gak tahu sejarahnya saja. Sebagai orang yang punya hak sama saya akan perjuangkan, Bang!”

“Menjadi rakyat apakah Anda tidak takut ancaman?” tanya Bang Zakaria sebagai moderator.

“Dalam sebuah buku sejarah tentang teori kedaulatan rakyat yang pernah saya baca, seorang filsuf dari Inggris, John Locke mengatakan kekuasaan tertinggi sebuah negara berada di tangan rakyat. Saya merdeka dan berdaulat. Selama gagasan saya ini saya sematkan untuk pembangunan bangsa, negara akan lindungi saya karena telah jadi tugasnya! Bang Zakaria, sebelum saya duduk di sini telah ada kiranya empat kali nomor tak dikenal menghubungi saya dengan nada ancaman.”

Aku terkejut atas pengakuannya itu. Gugat tak pernah bilang soal ini. Mulai pikirannku ikut menganalisa dengan masuk sebagai dia. Ku temukan simpulan cepat, mungkinkan dia tak mau libatkanku terlalu jauh dan memikulnya sendiri? Akh! Mendadak aku cemas. Sungguh, bukan tentang aku mengingat aku juga tak terlalu campur dengan aksinya sekarang. Aku menghkawatirkan sahabatku itu.

“Sebuah buku dari seorang penyair angkatan reformasi meminta untuk melawan jika penindasan terjadi tanpa perlindungan. Meskipun kelak saya akan jatuh bahkan hangus, bekas perlawanan saya akan jadi bara.”

Sorak-sorai membahana dalam ruangan. Moderator selajutnya memberikan kesempatan kepada salah satu pemuda yang ku anggap limbah timbal di lautan itu. Ku amati dengan saksama penyampaiannya yang jelas terungkap tentang dukungan bahkan pujian atas pembangunan pagar laut. Menurutnya jikapun benar para korporasi itu ingin menciptakan perumahan megah dengan cara reklamasi, pada akhirnya akan membentuk lowongan kerja dan peluang usaha dalam bidang perdagangan. Nelayan tak perlu repot lagi ke tengkulak ikan atau setor ke kota untuk berdagang. Perekonomian meningkat dan tentu bermuara pada kesejahteraan warga pesisir. Embel-embel membuka mata dan telinga dengan persaingan pasar dan zaman dia gunakan untuk alasan. Lebih menjengkelkan kembali bahwa ia sematkan dirinya yang tau tentang kehidupan nelayan meski hanya dari teori. Ku tatap Gugat tersenyum. Ku yakin dia akan menyanggah karangan kosong dari penjilat tersebut.

Selama perkembangan diskusi, ku simpulkan baik swadaya atau lembaga banyak yang mendukung kami. Sementara itu kalangan pro mendapatkan kecaman dan tersudut. Terlebih lagi serangan mimik wajah dan sorakan bernada ketidaksetujuan kerap terlontar kepada mereka dari audiens yang mengenakan almameter ragam rupa. Satu hal yang kami harapkan, semoga kemenangan ini akan terdengar Pemimpin Negeri Sine Qua Non dan segera ditindaklanjuti.


Selama lebih dari tiga bulan Gugat mengisi acara-acara televisi. Ancaman kini datang sebagai percobaan. Dari diserang kelompok tak dikenal hingga pernah hampir mobil yang kami tumpangi untuk berangkat ke sebuah acara tv mengalami kecelakaan tak wajar. Hatiku sengkarut tak menentu, tapi bukan dengan perasaannya. Gugat dengan semangat juang terus mengobarkan kebenaran ke permukaan. Hingga sebuah keputusan Pemimpin Negeri yang tersiar di berita membuat kami semua menyorak. Tak lain tak bukan isi dari mandat tersebut ialah perintah pembongkaran pagar laut!

Tak lama setelah mandat itu terbit beberapa pleton pihak keamanan laut segera bertindak cepat. Aku dan Gugat yang menyaksikan hal tersebut benar-benar merasakan sebuah kemerdekaan dari apa yang kami perjuangkan.

Belakangan ku amati Gugat sekarang menjadi ikon tentang pembebasan tirani. Aku senang dengan hal itu. Nama dan fotonya menghiasi semua media cetak dan digital. Siapa yang tidak tahu dengan sahabatku itu. Sekolahnya mungkin sebatas tamat SD tapi literasinya sekelas filsuf. Walaupun namanya menggaung dan tuai pujian di mana-mana, Gugat tak jumawa. Gugat tetap Gugat. Sebagai rakyat dia hanya riak dalam melempar jala ikan. Namun Gugat akan menjelma sebagai guruh gelombang bilamana limbah mencemari lautnya.


Dua pekan berselang. Pada suatu Subuh berembun dengan desiran angin pasir sesekali mengusik mataku manakala tak seperti biasanya Gugat tidak menjemputku di rumah. Ku putuskan untuk ke rumahnya dan memeriksa keadaan. Yang ku tahu jika hal begini terjadi ialah bahwa Gugat ada masalah dengan kapal atau perangkap ikannya.
Sesampainya di sana, ku lihat rumah dengan penerangan lampu kecil itu sunyi. Apakah ia masih tidur dengan keluarganya? Aku sedikit mengendap dengan kebimbangan apakah ku ketuk pintu itu atau tidak. Manakala putusan telah ku sematkan dan ku majukan langkah pertamaku di teras depan rumahnya, sebuah suara memanggilku.
“Iskandar?”

Aku menoleh dengan suara tak asing tersebut. Sahabatku, Gugat? Tanpa baju dan roman wajah beku. Mana gairah yang biasa mengembang dan menjadi pelangi itu? Tanpa basa-basi dia lalu bertanya rendah kepadaku. Ku pikir tentang mengapa aku datang, ternyata bukan.

“Kau sudah menonton berita malam tadi?”
Aku akui itu bukan kebiasaanku. Tak seperti dia yang gemar dengan wacana informasi bahkan keingintahuannya itu seolah melupakan tentang lelah karena seharian dipermainkan ombak, aku lebih memilih mengistirahatkan badanku. Gugat sadar pertanyaan itu hanya sebagai retoris saja. Dia dengan wajah redup lalu memperlihatkan layar ponselnya. Ku baca sebuah berita di sana.

“Menteri Kelautan dan Perikanan melalui persetujuan Pemimpin Negari Sine Qua Non meminta para petugas keamanan untuk menghentikan pencabutan pagar laut karena takut menghilangkan semua barang bukti.”
** Selesai**

Oleh: Heri Haliling

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.