Boneka Tua

oleh -632 Dilihat
banner 468x60

Tung!
Terdengar suara benda antik dibuang di taman bermain. Taman tersebut penuh dengan alat bermain dan mainan yang tua. Sayang sekali benda antik tersebut harus tinggal disitu— sebuah boneka kecil yang manis.

Orang yang membuangnya?
Seorang remaja. Melangkah pergi meninggalkannya. Layaknya mengantar anak kecil ke tempat adopsi— kemudian pergi begitu saja

Nasib buruk bagi boneka tersebut, terperangkap di tengah tengah mainan rongsokan. Benda yang indah dan cantik sepertinya, tak layak untuk hidup di tempat itu.

Boneka antik itu tak sekalipun bergerak— lagipula ia hanya benda mati. Tetapi, pantas kah ia ditinggalkan begitu saja? Jelas tak adil, apalagi untuk boneka yang manis.

Ia hanya sebuah boneka. Boneka antik untuk mereka— dia hadir untuk menjadi teman. Ia tak akan pergi, lagipula mau kemana? Seperti yang sudah dikatakan.
Ia hanyalah boneka.
Tetapi boneka apakah dia?

Boneka yang hadir sebagai teman?
Atau boneka yang hadir untuk mendapat teman?

Hari demi hari, layaknya mimpi buruk yang tak pernah berhenti. Ia seperti tersesat di sekolah yang telah hancur— tanpa ada yang menjemputnya.

Tak ada yang menghampiri taman bermain tersebut. Taman itu tak punya rasa ramah dan hangat. Bukan seperti taman bermain pada umumnya, ia tidak memiliki keriangan dan keseruan anak anak.

Walau penuh dengan mainan yang banyak— tak satu pun anak berkeliaran di dekat taman itu. Mainan mainan disitu terlihat seperti rongsokan. Tetapi kalau dilihat lagi, mereka terlihat seperti itu karena tak pernah dimainkan. Mereka hanya disana sebagai dekorasi.

Layaknya seorang anak yang mencoba merubah penampilannya. Tempat bermain ini mencoba untuk meraih kehangatan para anak anak. Tapi tak ada perbedaan.
Seberapa indahnya dia, tak akan ada yang mau mendekati

Oh kasian sekali. Ia akan menjadi mainan yang jelek seperti yang lain. Tak ada yang menginginkannya.

Sama seperti mainan lain, ia terus ditutupi dengan debu dan kotoran. Perlahan lahan, ia terus terjebak di dalam debu— seperti beberapa mainan disana.

Taman bermain itu sudah sangat miripnya dengan rongsokan sampah. Dengan suara sunyi yang terus menghantui, dan serpihan debu yang terus bertebaran.

Mungkin inilah akhir untuk si boneka antik. Ia akan terus terjebak di mimpi buruk ini. Tak akan ada yang menjemputnya, memeluknya, menyayanginya, atau pun mengambilnya—

Kling!
Seseorang menggenggam boneka itu. Ia mengambilnya dari antara banyak mainan secara perlahan, layaknya emas. Dengan tangannya yang lembut— ia mengusap debu di benda antik itu.

Oh manisnya.
Seorang gadis cantik, dengan senyum yang sangat lebar. Pipinya memerah, dan matanya dipenuhi dengan rasa ceria.

Rambutnya hitam pekat layaknya malam. Tangannya lembut layaknya awan yang empuk. Dan mata coklatnya terlihat seperti cahaya— sebab disinari oleh matahari.

Ia telah dijemput.
Dan indahnya? Ia telah dijemput oleh ‘malaikat’.

Diantara semua mainan yang bisa gadis itu ambil, dia lebih memilih untuk mengambil boneka tua ini!

Malaikat ini menghapus mimpi buruk yang terus menghantui. Ia tak lagi berada di tempat bermain yang sunyi itu. Ia tak lagi tersesat.

Ia telah dijemput— untuk menemui mimpi indah selamanya!

Gadis kecil itu membawanya ke rumahnya. Dengan langkah cepat, ia menemui orang tuanya. Dia berbicara dengan penuh riang, sedang orang tuanya berekspresi sangat lembut kepadanya.

Dia segera mengakhiri bicara dengan kedua orang tuanya, terus bergegas untuk pergi ke kamarnya. Dengan langkah kaki kecilnya, dia menaiki tangga satu persatu.

Mereka berhenti, tepat di depan satu pintu— pintu kamar gadis itu.

Kamar gadis itu bewarna putih dan merah muda. Kamar tersebut di isi dengan banyak sekali permainan dan barang barang empuk. Kamar si gadis kecil terasa hangat, seperti perilakunya sendiri.

Tampak seperti surga untuk para boneka.
Terdapat lemari kecil yang dipenuhi banyak boneka imut, tempat tidur berwarna merah muda yang diselimuti banyak boneka— bahkan meja belajar penuh boneka juga!
Tak salah lagi, kamar ini memang sudah menjadi kerajaan untuk para boneka.

Di tengah kamarnya, terdapat seperti meja kecil. Diatasnya, banyak sekali cangkir dan piring kecil— layaknya pesta teh.

“Kau sekarang telah menjadi favorit ku…” Gadis itu bergumam, menatapnya dengan lembut.

Boneka antik itu,
Akhirnya disayangi lagi. Setiap hari berlalu, dan ia terus dipenuhi dengan kejutan spesial.

Si gadis malaikat memiliki banyak ide untuk bermain— pesta teh, drama boneka, merakit boneka, dan mencoba busana baru untuk para boneka.

Tapi yang lebih menghangatkan? Ia terus diperlakukan dengan spesial, tidak seperti boneka yang lain. Dia berbeda. Hanya dia yang terus disambut ceria. Hanya dia yang diberi kasih sayang. Hanya dia untuk segalanya.

Hanya dialah yang terus terlihat oleh si gadis— malaikat cantik yang telah menyelamatkannya. Gadis itu terlihat ceria, dengan gerakan nya yang sangat berantusias untuk bermain setiap hari.

“Kau adalah boneka favorit ku yang amat lembut!” Si gadis berbicara dengan penuh antusias.

Mimpi indah menghampirinya.
Dan tak pernah berhenti.

Salah besar.
Benar benar salah.

Semenjak boneka baru datang— boneka antik itu tak pernah lagi menjumpai kelembutan dari gadis itu. Si gadis hanya terus bermain dengan boneka baru itu.

Tak seperti boneka antik— boneka itu mempunyai model yang baru. Ia memiliki rambut yang lembut, tak kusat sepertinya. Ia memiliki busana yang cocok untuk gadis gadis sekarang, tidak sperti boneka antik yang hanya memiliki busana yang sudah tua.

Terlebih lagi— boneka itu bisa membuat gadis malaikat menjadi sangat ceria.

“Kau sekarang telah menjadi favorit ku, Lily!”
Ia memberikan boneka itu nama. Tak seperti boneka lain, ia lebih memilih menamai mereka sesuai bentuk dan warna rambut.

Bahkan boneka antik itu— yang dulunya jelas sekali menjadi “favorit” gadis tersebut, tak pernah di beri nama. Gadis itu hanya bermain sepuasnya.

Ia terus disimpan di lemari, seperti boneka yang lain. Dan sakit nya? Benda antik itu tidak lagi dipeluk oleh gadis — melainkan oleh debu yang tebal. Ia hanya bisa melihat gadis malaikatnya dari jauh. Si gadis terlihat sangat cantik di tengah pesta teh

Tapi pesta teh itu bukan untuk si boneka antik. Gadis malaikatnya merayakan pesta teh itu untuk boneka “favorit” yang baru.

Apakah ia masih di mimpi indah?

Pada satu hari, ia akhirnya di angkat lagi. Boneka antik itu telah diundang lagi ke pesta teh! Pesta teh dengan gadis malaikatnya!

…… Tapi ia hanya berdiam diri.
Benda antik itu tak pernah digerakkan atau diajak ngobrol sekalipun. Gadis itu tak lagi bermain dengannya. Sama seperti boneka lain, ia layaknya karakter Sampingan. Dan boneka baru? Tampaknya diperlakukan layaknya karakter utama…

Tapi tak apa, boneka antik itu tak marah. Tak sedih. Lagipula boneka mati tak punya perasaan. Ia hanyalah boneka tua. Hanyalah boneka tua yang hadir sebagai teman, bukan hadir untuk mendapat teman—

Ya. Ia lupa siapa dirinya.
Ia mabuk dalam mimpi indah, dan lupa siapa dirinya. Ia lupa bahwa ia hanyalah boneka antik.

Namun apa salah nya berharap? Ia ingin agar si gadis bermain dengan nya lagi— layak nya anak kecil yang lapar akan persahabatan.

Boneka antik itu terus diam. Walau didalam, ia berharap—

Klang!

Sakit.
Boneka antik tersebut, tanpa sengaja telah jatuh ke lantai. Hampir seluruh tubuhnya retak. Gadis malaikat nya tanpa sengaja telah menjatuhkannya. Oh Tuhan, si gadis pasti sangat kaget—

Tapi tidak. Si gadis hanya mempertahankan ekspresi yang sama. Ekspresi yang dingin— hampir membosankan. Mengapa gadis terlihat seperti itu?

Tak peduli— ia terus mencari ekspresi wajah yang khawatir. Si boneka antik terus berharap, bahwa si gadis masih peduli dengannya. Tapi ekspresi itu tak pernah muncul. Ia hanya diperlihatkan muka yang kaku— seperti bagaimana si remaja yang telah membuangnya.

Dengan sikap yang acuh, dia hanya mengambilnya kemudian membersihkan serpihan kaca yang jatuh.

Ia telah rusak. Dan malaikatnya hanya menghiraukannya. Apakah dia telah membenci boneka itu?

Itu tak mungkin! Ialah boneka “favorit” si gadis malaikat. Hanya ia yang terus diberikan kehangatan oleh dia— dulunya. Tapi sekarang? Hanya Tuhan yang tahu kapan si gadis mungkin akan memberinya lagi.

Ia tidak dipeluk. Ia bahkan tidak diperbaiki kembali. Lantas, apa yang akan dibuat gadis itu?

Ah.
Ia dikembalikan lagi ke taman bermain. Gadis itu membuang dengan keras, tak peduli jika benda antik itu terasa sakit atau tidak.

Ia telah dibuang lagi. Dengan alasan yang sama lagi. Mirip dengan temannya yang lama— si remaja. Si gadis memberikan ekspresi yang dingin kepadanya untuk terakhir kalinya. Dan dengan jahat, ia melangkah pergi.

Mimpi indah telah hilang.
Mimpi buruk telah menemukannya.

Semua “teman” yang ia dapat, meninggalkannya karena rasa bosan. Mereka tak segan untuk membuangnya, jikalau mereka sudah merasa tak membutuhkannya.

Oleh: Audy

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.