Undangan Sirry

oleh -98 Dilihat
Makan siang sederhana selepas diskusi bersama Prof. Mun'im Sirry, di Malang
banner 468x60

Sejumlah ilmuwan kampus kumpul di Malang. Pengundangnya seorang ahli sejarah tafsir Quran yang kini mengajar di universitas Katolik terbaik dunia di Amerika Serikat. Notre Dame University. Anda sudah tahu nama ahli tafsir asal Sumenep Madura itu: Prof Dr Mun’im Sirry.

Prof Sirry sedang liburan panjang musim panas. Ia pilih liburan di Malang sekaligus syukuran rumah barunya di sebuah real estate di kawasan Blimbing Barat.

Ia sendiri belum tahu kapan rumah itu akan ditempati –mengingat kontraknya mengajar di sana terus diperpanjang. Anaknya pun sudah sulit berbahasa Indonesia apalagi bahasa Madura seperti sang ayah, atau bahasa ibunya yang Sunda.

Si anak diajak berlibur ke Indonesia. Namanya: Kemal Perdana. Ia ikut serta dalam forum ilmiah itu tapi pindah pakai bahasa Inggris ketika ia sulit menjelaskan jalan pikirannya dalam bahasa Indonesia.

Paginya Kemal saya undang bicara di Dismorning –live podcast tiap jam lima pagi itu. Baru kali itu saya bertemu Kemal. Waktu saya ke rumah Prof Sirry di Amerika ia sedang kuliah di Colorado. Saya ingin ia bercerita tentang pengalamannya mendapatkan Makan Bergizi Gratis (MBG) sewaktu sekolah SMA di sana.

Kemal kini sudah mahasiswa S-3 di sebuah universitas di Colorado –jauh dari ayahnya yang tinggal di South Bend, Indiana. Ia ambil studi ekonomi. Ia tergolong mahasiswa S-3 yang tidak perlu lewat S-2. Ia masih ingat saat masih di SMA –dan mendapatkan MBG.

Waktu itu Kemal tergolong bukan anak orang miskin. Gaji bapaknya tidak tinggi tapi juga tidak rendah. Sewaktu mendaftar sekolah di SMA memang ada informasi yang harus ditulis sang ayah: berapa penghasilan ayah-ibu siswa.

Dari daftar isian itu pihak sekolah langsung memasukkan Kemal sebagai siswa yang berhak mendapat MBG. Hanya saja tidak sepenuhnya gratis. Kemal harus tetap membayar. Murah sekali. Kemal sudah lupa nilainya karena ayahnya yang bayar.

“Hanya beberapa sen dolar saja,” ujar sang ayah yang juga lupa berapa sen tepatnya.

Antara siswa yang dapat makan gratis, bayar sebagian atau bayar penuh tidak terlihat bedanya. Semua siswa datang ke kantin tanpa tahu yang mana yang gratis. Ketika membayar mereka hanya menunjukkan kartu pelajar. Kasir tidak perlu bertanya siswa itu di golongan mana. Kasir sudah tahu sendiri dari nomor kartunya.

Amerika yang kaya pun ternyata tidak menggratiskan MBG bagi semua siswa. Berarti MBG Indonesia lebih hebat –kalau tidak ada gejolak akibat korupsi di dalamnya.

Di hari-hari libur panjang sekolah seperti sekarang ini MBG Indonesia juga libur. Tentu ini waktu yang baik untuk konsolidasi. Ibarat orang yang sedang berlari tanpa henti selama hampir satu tahun kini sedang diberi waktu istirahat. Bisa tarik napas panjang. Bisa ikatkan tali sepatu yang longgar.

Dapur-dapur MBG sudah mendapat edaran: libur tiga minggu. Tidak perlu masak dan menyajikan makanan. Sungguh waktu yang baik untuk berbenah sambil tarif napas –bukan berbenah sambil lari. Misalnya untuk menata ulang seluruh dapur: siapa yang benar-benar satu dapur melayani 3000 siswa, siapa pula yang satu dapur hanya melayani 2.500, 2000, 1.500 bahkan 1000 siswa. Jangan lagi banyak satu dapur yang hanya melayani 1.500 siswa padahal anggarannya 3.000 siswa.

Konsolidasi seperti ini sulit dilakukan kalau tidak ada libur panjang. Belum lagi penataan yang lain-lain. Misalnya bagaimana status dapur yang sudah ditunjuk oleh pimpinan lama tapi belum dapat izin untuk dioperasikan. Padahal investor sudah hampir selesai membangun dapurnya.

Surat edaran yang baru dari kepala BGN baru Nanik S. Deyang belum mengatur itu. Mereka harus diberi kepastian karena sudah telanjur investasi.

Begitu banyak pekerjaan konsolidasi. Memang Deyang harus menangis. Tapi jangan lama-lama dan jangan sering-sering. Urusan ini tidak bisa selesai dengan air mata. Kalau mau menangis lari dulu ke kamar kecil. Nangis sepuasnya. Lalu segera cuci muka seolah bukan baru menangis.

Di masa libur ini ganti para petugas dapur MBG yang menangis: tidak dapat penghasilan. Tiap dapur punya 50 orang. Tangisan mereka jauh lebih penting dari tangisnya seorang Deyang.

Sebenarnya kalau saja investasi belum telanjur besar, MBG bisa ditata seperti yang dialami Kemal di Amerika. Mungkin lima tahun lagi: setelah nilai investasi dapur MBG itu pay back.

Para ilmuwan tamu Prof Sirry tentu tidak membahas MBG. Masing-masing mengajukan topik diskusi. Mulai dari gejala menurun drastisnya santri di pondok pesantren tradisional, bagaimana bisa semua kitab suci mengandung ajaran kekerasan, bagaimana ketakutan melakukan dosa makan babi lebih ditaati daripada berbuat dosa melakukan korupsi, sampai bagaimana baru agama Katolik yang mau mengakui ada kebenaran di luar Katolik.

Selama liburan di Indonesia, jadwal Prof Sirry sangat padat. Ke kampus-kampus. Yang tidak mau mengundangnya justru almamaternya sendiri: Pondok modern Al Amin di Prenduan, Sumenep. Prof Sirry dianggap terlalu liberal.

Minggu, 21 Juni 2026

Oleh: Dahlan Iskan

Catatan Dahlan Iskan

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.