Kabinet Konoha

oleh -90 Dilihat
banner 468x60

Presiden mengganti menteri seperti mengganti bidak catur yang dianggap salah langkah. Satu dicopot, satu dipanggil; yang kemarin dipuji, hari ini disingkirkan. Bahkan Purbaya—yang sebelumnya digemakan seolah jawaban atas krisis fiskal—ikut terseret dalam arus pergantian.

Begitulah pemerintahan ini bekerja: bukan dengan peta yang jelas, melainkan tambal sulam; bukan dengan kompas yang mantap, melainkan firasat.

Menteri boleh berganti, kursi berpindah tangan, wajah baru membawa janji lama. Tetapi kekacauan tak ikut berganti. Ia menetap di dalam sistem. Sebab persoalannya bukan semata siapa yang duduk di kursi, melainkan ke mana kursi itu diarahkan.

Agenda dan mimpinya besar, tetapi integritas, konsistensi, dan kapasitas direktifnya rendah.

Lebih problematis, lingkaran dalam kekuasaan hidup dalam kultur “asal bapak senang”: kabar buruk disaring, kritik diperlunak, keberhasilan dibesar-besarkan, kegagalan dicarikan pembenaran. Pemimpin akhirnya bukan kekurangan informasi, melainkan kekurangan kebenaran yang sampai.

Dalam situasi demikian, kebijakan menjadi seni menebak kehendak. Loyalitas lebih mudah dihitung daripada kompetensi; kesalahan hari ini dikoreksi besok tanpa pernah menjadi pelajaran. Pemerintahan tampak sibuk, tetapi negara kehilangan tujuan yang terang.

Pemerintahan pun menyerupai kapal dengan terlalu banyak tangan di kemudi. Semua ingin menentukan arah, tetapi tak jelas siapa memastikan tujuan.

Padahal pemerintahan yang baik bukan yang paling banyak menggagas, melainkan yang mampu menjadikan keputusan sebagai garis haluan, kekuasaan sebagai kapasitas etis, dan kebijakan sebagai pedoman utuh.

Jika sumber masalah berada pada cara negara diarahkan dan dikelola, mengganti menteri hanya memindahkan kursi. Pertunjukannya tetap sama.

Setiap kali susunan kabinet berganti, seolah negara ikut diperbarui. Padahal yang berubah hanya wajah, sementara cara kekuasaan bekerja tetap sama.

Pemimpin negara memerlukan keberanian mendengar kebenaran, keteguhan menjaga arah, dan kecakapan mengubah keputusan menjadi kenyataan.

Jika tidak, pergantian kabinet hanyalah cara mahal untuk mengulang kekacauan yang sama—dengan wajah berbeda.

Oleh: Yudi Latif

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.