Ketika Fiksi Disulap Menjadi Fakta

oleh -1768 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Chudori Sukra

Perjuangan keras Jokowi dari kelas pedagang dan pengusaha menengah (waisya), menuju tangga kekuasaan, hendaknya disertai niat-niat tulus untuk terus mengabdi pada kepentingan rakyat. Tidak seyogyanya membangun kebenaran baru (post-truth) yang membuat fiksi dijadikan fakta yang tidak otentik. Sebab, kebenaran baru tak ubahnya fakta baru yang merupakan pembenaran yang diciptakan. Ketika fiksi disulap menjadi fakta, agar dipercayai rakyat banyak, sesungguhnya bangsa ini telah banyak merasakan asam-garam kegetiran, lalu ditelusuri menjadi kecerdasan dan kejeniusan, bahwa fakta baru yang kelak dijadikan patokan bagi kepentingan kekuasaan, dalam sejarahnya tak pernah akan berhasil.

Di negeri ini, fakta baru yang disulap penguasa agar menjadi sejarah baru, takkan pernah mencapai sasarannya dalam pemikiran dan imajinasi rakyat. Itu serupa dengan ambisi Heinrich Himmler, selaku tentara NAZI dalam film Shindler’s List (1993) yang pernah mengucapkan, “Dulu saya sering disakiti tetapi diam saja, karena itu sekarang saya bangkit dan hendak melakukan perlawanan. Di tangan Hitler Yang Agung, kini saatnya Jerman harus menang dan jaya!”

Akhirnya sejarah baru Jerman muncul dengan pembantaian demi pembantaian selama 12 tahun, bukan saja kaum Yahudi, tetapi juga jutaan orang-orang Gypsi ikut menjadi korbannya. Dalam hitungan beberapa tahun saja, Hitler menciptakan Jerman Raya dengan mengisolasi diri, menutup informasi apapun yang mengalir deras ke dunia luar. Sampai kemudian mengangkat Dr. Joseph Goebbles selaku menteri di bidang propaganda NAZI (semacam menteri penerangan di masa Orde Baru).

Hanya dalam waktu 12 tahun, kebenaran baru diciptakan, yang pada hakikatnya serupa reifikasi dan eufemisme yang terus dipertahankan oleh ideologi militerisme, bersama motto hidup yang usang: “Akan saya bohongi seluruh dunia, sebelum mereka berniat untuk membohongi saya!”

Jadi, sehebat apapun penguasa membangun kebenaran baru, ia hanya akan berfungsi selaku pembenaran yang bersifat sesaat dan sementara. Semula, si pencipta kebenaran berilusi bahwa itulah satu-satunya kebenaran yang pantas diyakini, tetapi lewat perjalanan waktu ia akan berhadapan dengan fakta di lapangan, bahwa ada kebenaran-kebenaran lain yang boleh jadi lebih valid dan lebih tinggi derajatnya, ketimbang kebenaran yang semula dipropagandakan itu.

Kebenaran lain itu memaksa penguasa agar menyarungkan ego-ego pribadinya, bahkan dendam kesumatnya di masa lalu. Kebenaran lain itu mengharuskan ia dan para kaki-tangannya agar mencintai rakyat, serta agar berjuang mengutamakan kepentingan kaum dina, lemah, dan miskin. Bahkan, kebenaran lain itu melarang mereka agar tidak mempertontonkan keangkuhan senjata dan seragam militernya, karena hakikatnya semua itu telah dibeli dengan darah, keringat, dan uang rakyatnya sendiri.

Ya, kebenaran lain itu, bahkan melarang mereka seenaknya memetik mangga di pekarangan rumah orang, agar senantiasa mengasihi anak-anak, wanita dan para jompo, bahkan melindungi para binatang yang sedang melahirkan, meskipun di tengah badai prahara dan pertempuran sekalipun.

Rapuhnya Post Truth

Roman berjudul Aethiopica sangat identik dengan perjuangan elit-elit politik Indonesia untuk menduduki tampuk kekuasaan akhir-akhir ini. Roman yang terbit di era pra kenabian Muhammad itu berkisah tentang terusirnya Maesa dari istana kerajaan Romawi, lantaran kakak iparnya, Kaisar Caracalla terbunuh oleh Macrinus yang kemudian mengambil-alih tahta kekuasaan.

Padahal, Kaisar Caracalla tergolong penguasa yang loyal dan banyak membantu kepentingan para ajudan dan prajuritnya.

Dalam beberapa tahun kemudian, setelah pulang ke kota kecil Emesa, Maesa membangun kekuatan baru dengan para tentara yang bertugas di kabupaten Emesa, lalu menyebarkan desas-desus (hoaks), bahwa cucunya adalah anak keturunan darah biru, berkat hubungan Soamias (ibunya) dengan Kaisar Caracalla.

Para tentara yang bertugas di Emesa, dan sering ditraktir “makan siang” oleh keluarga besar Maesa, akhirnya percaya pada isu dan rumor yang dihembuskan. Di sinilah kekuatan sihir Maesa berfungsi, bahwa antara pihak yang memberi dan diberi makan, seakan terdapat sirkuit yang tetap dan menetap. Para abdi akan senantiasa tunduk kepada induk semangnya, kapan pun dan seberapa jauh pun ia melangkah. Padahal, sang cucu bernama Elagabalus, yang diisukan sebagai anaknya Caracalla itu, bukanlah hasil hubungan antara sang Kaisar dengan puterinya (Soamias).

Dengan demikian, seperti yang sudah diramalkan Maesa, memberontaklah tentara-tentara Romawi, lalu merancang kekuatan baru untuk menggulingkan Kaisar Macrinus.

Tak lama setelah pelantikan Elagabalus, agenda baru yang dirancang Maesa adalah pengorbitan Dewa Helios yang disembah penduduk kota Emesa, sampai kemudian dewa pendatang baru itu disejajarkan kedudukannya dengan Apollo (Yunani), Anaitis (Persia) hingga Isis (Mesir). Di situ tampak adanya trik dan siasat jitu yang sehaluan dengan raja-raja Jawa. Siasat jitu itu bahkan merancang peran dunia sastra yang dianggap kitab suci (dalam Paramayoga), bahwa seluruh semesta dan alam raya, dapat mewahyukan diri sebagai sakralitas kosmik.

Setiap peristiwa dalam kosmos mikro yang fana ini. hanyalah pengejawantahan lakon kosmos makro yang mengatasi kehendak umat, dan merupakan takdir yang harus diterima dan ditaati oleh rakyat jelata (kawula alit).

Kebenaran baru yang dirancang Maesa dengan menampilkan sang cucu sebagai Kaisar Romawi, akhirnya tumbang juga dalam empat tahun ke depan. Kaisar Elagabalus hanya bertahan antara 218 hingga 222 Masehi. Dendam kesumat tak pernah melahirkan kejujuran dan keadilan, juga tak mungkin sanggup mengukir keabadian di mata sejarah. Ia hanya mementingkan nafsu dan ambisinya, juga obsesi segelintir orang yang menjadi kaki-tangannya, terutama saudara-kerabat yang dicintai, agar bersikeras melanggengkan kekuasaannya.

Kaisar Elagabalus akhirnya disejajarkan dengan kebengisan dan kebiadaban Kaisar Nero yang lebih dulu berkuasa antara 54 hingga 68 Masehi. Dalam bahasa religius, suatu kebohongan yang diciptakan penguasa, dalam sejarahnya hanya akan melahirkan kebohongan demi untuk menutupi kebohongan baru yang terus-menerus disiasatinya. Jadi pada prinsipnya, orang yang tidak jujur itu akan kehabisan energi untuk bekerja dengan ikhlas bagi kepentingan umat. Ia akan kehilangan kesadaran, bahkan mata-hatinya tak mampu lagi membedakan antara “merusak” ataukah melakukan pembangunan.

Semula ia menjadikan rakyat sebagai mitra kerjanya, namun kemudian mata-hatinya tumpul dan makin tertutup, sampai pada gilirannya ia memperlakukan rakyat selaku musuhnya.

Dalam catatan sejarah, akhirnya Dewa Helios sebagai tuhan palsu yang dibikin-bikin Nenek Maesa itu, terpaksa harus dikeluarkan dari Pantheon, yang merupakan istana kumpulan para dewa di Romawi. Dewa Helios yang diorbitkan secara masif agar menjadi sesembahan warga Roma, tak ubahnya dengan “Museum Lubang Buaya” yang memaksakan ilmuwan dan sejarawan Indonesia agar berkiblat kepadanya. Meskipun, ia bukanlah sentrum peradaban sejarah Indonesia yang menyimpan data dan fakta ilmiah yang valid dan layak dipertanggungjawabkan.

Monumen Kebohongan

Dalam cerpen karangan Hafis Azhari, “Merobohkan Museum Lubang Buaya” (inilampung.com) secara implisit digugat perihal keberanian nyali seorang Prabowo, jika ia berkuasa memimpin republik ini. Sanggupkah ia menorehkan garis pembeda antara kebenaran dan kepalsuan. Mampukah secara jujur ia nyatakan, bahwa nilai-nilai keabadian sejarah harus diperjuangkan, dan karenanya sesuatu yang tidak valid dan tidak ilmiah, harus dirobohkan dan direhabilitasi?

Sanggupkah Prabowo menyatakan secara jujur, bahwa partai yang berkuasa selama 32 tahun (Golkar) berikut para elit Orde Baru dan pewarisnya, hanyalah berkesempatan mendapat “izin” dari Tuhan, sementara partai yang terkalahkan bahkan termarjinalkan (sejak tahun 1965) adalah manusia-manusia yang dilindungi dan diselamatkan oleh Allah.

Sanggupkah Prabowo berkata di hadapan rakyat Indonesia bahwa: “Dalam kedudukan dan kekuasaan duniawi, pada hakikatnya mereka yang gagal boleh jadi adalah pihak yang diselamatkan, sementara pihak yang menang dan sukses justru hanya diizinkan untuk mengemban amanat berat yang harus dipikul di pundaknya?”

Kebenaran baru tak ubahnya bias konfirmasi yang merebak secara masif sejak era tahun 1965-an. Soeharto dan Orde Baru, justru memilih bungkam serta mengambil keuntungan dari bias konfirmasi (hoaks) yang merebak kala itu. Ia membiarkan kisah-kisah fiktif buatan Amerika, yang kemudian dimonumenkan menjadi film-film buatan dalam negeri. Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) yang banyak berjasa bagi proses persalinan ibu dan kelahiran bayi, serta berhasil mendirikan klinik-klinik kesehatan hingga daerah, akhirnya diberangus dan dimusnahkan oleh pemerintahan baru.

Sebagai seorang petinggi militer yang mestinya membantu presidennya (Soekarno), Soeharto justru memilih sibuk melakukan rekayasa manuver dan tipu-muslihat, dengan membiarkan hoaks berkeliaran di mana-mana. Ketimbang ikut-serta mengobati delusi kejiwaan yang merasuki psikologi manusia Indonesia hingga saat ini.

Bias konfirmasi kemudian disemarakkan oleh koran-koran bentukan mereka terutama Angkatan Bersendjata, RRI hingga TVRI. Itulah yang kelak memunculkan stigma negatif terhadap bapak bangsa dan para pendiri republik ini, yang serta-merta menamai mereka sebagai “Orde Lama”. Para sejarawan, budayawan hingga sastrawan dipaksakan mengunyah penyataan politik melalui media-media bentukan mereka, baik cetak hingga elektronik.

Di atas kertas, mereka memprogramkan “mencerdaskan kehidupan bangsa” tetapi realitas yang terjadi adalah upaya penggembosan pikiran masyarakat, agar mempercayai kisah-kisah fiktif lubang buaya. Semuanya itu hanyalah bikin-bikinan penguasa Orde Baru, baik dari seting lokasinya, nama peristiwanya, hingga narasi-narasi yang dilekatkan dalam imajinasi seluruh lapisan masyarakat. []

Penulis adalah Anggota Mufakat Budaya Indonesia (MBI), menulis esai dan prosa di Koran Tempo, Kompas, Republika, nusantaranews.coalif.idislami.cokabarmadura.idruangsastra.comtangselpos.id, NU Online, Jurnal Toddoppuli dan lain-lain.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.