Sekurun saku dan dadaterasa hampa mengikat celakauntaian-untaian pada tanyaatas siapa dia bertunduk belikatdan dengung yang dihasilkan oleh lantunanterus berkelakar sepanjang lorong gelap
Tag: Puisi
Ingin Aku Menulismu sebagai Puisi
Jenuh sekali suara di kota-kota, yang lapang hanya pikiran terbuka. Bahkan laut tak pernah bicara ia luas. Dirimu adalah laut, dan puisi-puisiku
Elegi Karbon dan Jerami
Aku adalah karbon dari mesin-mesin,yang menggantikan embusan napas kerbau tua. Ladang kini bergelora dengan dengung,namun bukan gemuruh doa-doa.Kupeluk batang-batang padi, tak ada
Surat dari Pengembara: Mencari Tuhan dalam Sunyi (Refleksi atas Puisi “Surat untuk Tuhan” karya Leo Kleden)
Sebuah Surat Tanpa Alamat Pada suatu pagi yang biasa dari musim yang sudah dilupakan, penyair memulai ziarahnya. Sebuah pencarian yang tak dimulai
Surat untuk Tuhan
Pada suatu pagi yang biasadari musim yang sudah kulupaKutemukan namamu bersama cahayaDan sejak itulah aku ‘ngembaraMencari engkau tanpa alamatMula-mula aku bertanyaPada seorang
Surat Laut kepada Konsesi Tambang
Ayah,laut tempat kau ajari aku berenangtelah menjadi telaga lumpur.Ikan-ikan yang dulu kau juluki “kawan kecilmu”,kini tinggal gambar di buku paket sekolah.Kau bilang
Negara adalah Sebuah Puisi yang Belum Selesai
Negara adalah puisi yang belum rampung,ditulis ulang setiap kali rakyat berteriak:“Di mana keadilan?”atau“Makna kemerdekaan dengan kelaparan?”1 Juni bukan angka—ia adalah diksi,Soekarno menyisipkan
Proklamasi yang Tertindih Reklame
Puisi Soekarno Aku adalah suara yang lahir dari radio usang,terganti notifikasi yang tak paham sejarah.Hari ini, aku masih hidup,kudapati proklamasiterselip di antara
Paskah di Mata Seorang Muslim
Antara Minggu Palma hingga Paskah Di sebuah padang waktu,seekor domba berserah pada angin,menyimpan ayat di bulunya,menangisi bayang yang dicuri masa lalu.Ia bukan
Gaza Berdarah
Di bawah langit kelabu, darah mengalir memenuhi reruntuhan Menjadi bukti kekejaman dan penyiksaan Air mata, rasa sakit dan luka adalah teman
Waktu Melaju Tak Pernah Menunggu
Puisi Lebaran Aku adalah detik yang terus berlari,menghitung nafasmu satu per satu,mencatat doamu yang lirih di sepertiga malam,menunggu di persimpangan takdir.Detik-detik menuju
- Sebelumnya
- 1
- …
- 10
- 11
- 12
- Berikutnya
Tidak Ada Postingan Lagi.
Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.











