Pagi gelap menunggu honor. Langkah letih menuju sekolah Senyum dipaksa tampak utuh. Perut kosong menyimpan sabar Tumpukan tugas mencuri tidur. Suara murid

Terpaksa aku menuruti nasehat dan kemauan istriku agar cincin yang kukenakan segera dilempar ke tengah rawa-rawa tempat bersemayamnya kodok-kodok piaraanku yang kini

Cinta tak semanis puisi, tak seindah film.Dalam lirik dan layar ia bertabur bunga, penuh pelukan, kejutan, dan kehangatan. Dalam hidup, ia datang

Di ujung hari, aku merajut senja dengan benang cahaya yang perlahan putus di antara jingga dan kelabu. Kusulam rindu pada mereka yang

Di atas mimbar, kata-kata menemukan ruangnya, didengar oleh banyak hati,ditimbang oleh banyak pikiran. Karena itu, setiap ucapan semestinya tahu kapan harus tegas,

Di seluruh pelosok negeri,merah dan putih masih berkibar. Kainnya menua,warnanya memudar.Bersama usia bendera,maknanya pun perlahan luntur. Merah, kata orang,adalah keberanian. Tapi keberanian

Lahir saat fajarNadi bangsa bangunSuara hati satuDamai jadi pijakan Lima sila tegakJalan menuju senyumBerbeda namun dekatRukun menata hidup Rumah kecil kitaPenuh warna

Belum terbukti kualitas keimanan seseorang jika belum sanggup memikul ujian dan cobaan Tuhan. Ketika kita kehilangan rasa kasih-sayang, ketakutan dan kekurangan pangan,

Tidak Ada Postingan Lagi.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.