Oleh: Fridolin Denri Bria Di ruang kelas Indonesia hari ini, ada ironi yang sulit disembunyikan. Negara mulai menjamin makan bergizi gratis bagi
Tag: Fakultas Filsafat
FOMO: Luka Sunyi Generasi Digital
Oleh: Fransisco Yenri Sakunab Di era digitalisasi saat ini, perkembangan manusia dan teknologi sangatlah cepat segala sesuatu dapat di akses secara instan
Ketika Manusia menjadi “Yang Hilang”
Oleh: Fausta Midaun Manusia adalah mahkluk ciptaan Allah karena diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Imago Dei). Kekhasan ini tampak dalam akal
Melihat Kebenaran Iman akan Eksistensi Allah Perspektif Anselmus Canterbury
Oleh: Febrianto Burak Kehidupan masyarakat globat pada abad ke -21 ini ditandai oleh menguatnya dua kecenderungan utama, yaitu ateisme dan fundamentalis (agama).
Papua: Luka Modernitas di Tanah yang Kaya
Oleh: Matheus Tnopo Papua dan Ironi Pembangunan Modern Papua selalu dipromosikan sebagai tanah masa depan: kaya emas, hutan luas, dan sumber daya
Merajut Kembali Persaudaraan di Perbatasan Indonesia–Timor Leste Berbasis Dialog Budaya
Oleh: Gerardus Taena Perbatasan negara sering dipahami sebagai garis yang memisahkan dua wilayah politik yang berbeda. Namun, di kawasan perbatasan Republik Indonesia
Manusia Dalam Kosmik, Penguasa Semesta atau Krisis Kesadaran Kosmik?
Oleh: Didimus Wungo Sejak peradaban awal hidup manusia, telah terbentuk dalam pemikirannya bahwa kosmos merupakan tatanan yang lebih besar dari dirinya sendiri.
Setia Terkalahkan Layar Biru
Kita terlalu mudah membuka hati di layar kecil. Kini janji setia kalah oleh pesan yang muncul diam-diam. Akun media sosial jadi tempat
Menjawab Krisis Kemanusiaan Modern dengan Teladan Santo Basilius Agung
Oleh: Redegundis Kesa Di era di mana algoritma media sosial sering kali menentukan siapa yang layak mendapat perhatian, Gereja menghadapi sebuah paradoks yang
Upah Kecil Pengabdi Negeri
Pagi gelap menuju sekolah. Langkah letih membawa harapan. Kapur putih saksi pengabdian. Perut lapar disembunyikan diam. Jam mengajar terus bertambah. Tenaga habis
Melihat Luka Bangsa di Mata Sesama yang Menderita
Oleh: Arnoldus Risky Manek Pada September 2025, Badan Pusat Statistik mencatat lebih dari 23 juta penduduk Indonesia masih hidup di bawah garis
- 1
- 2
- …
- 22
- Berikutnya
Tidak Ada Postingan Lagi.
Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.










