Victory-Joss Berhasil Turunkan Angka Stunting di NTT

oleh -3478 Dilihat
banner 468x60

Kebijakan duet kepemimpinan Viktor Bungtilu Laiskodat dan Josef Adreanus Nae Soi (Victory-Joss) dalam waktu lima tahun berhasil turunkan angka stunting dari 42,6 persen di tahun 2018 menjadi 15 persen pada 2023 di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Meskipun di bawah tekanan Covid-19, dan di tengah himpitan badai siklon tropis seroja yang melanda, Pemerintah Provinsi NTT dibawah kepemimpinan Victory-Joss mampu mengatasi stunting hingga turun menjadi 15 persen pada 2023 dari 18 persen pada tahun 2022, dan 21 persen pada tahun 2021; padahal ketika memulai memimpin pada 2018, prevalensi stunting berada pada posisi 42,6 persen, berada di atas rerata nasional 30-an persen.

Melalui kolaborasi multi pemangku kepentingan atau kemitraan dalam upaya percepatan penurunan stunting sebagai satu aksi nyata dalam mengatasi tantangan stunting di Indonesia. Kegiatan kemitraan ini merupakan perwujudan dari Pilar 1 Stranas Stunting yaitu Peningkatan Komitmen dan Visi Kepemimpinan di Kementerian/Lembaga, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Daerah Kabupaten dan Kota, dan Pemerintah Desa, yang diamanatkan dalam Peraturan Presiden Nomor 72 tahun 2021.

Sekretariat Wakil Presiden (Setwapres), PTT Exploration and Production Public Company Limited (PTTEP), Pemprov NTT, dan Pemkab Kupang, Pemkab TTS (Timor Tengah Selatan), serta Pemkab TTU (Timor Tengah Utara) telah menjalin kerja sama aksi cegah stunting yang dimulai sejak Desember 2019. Dalam pelaksanaan program, Dompet Dhuafa menjalankan operasional program di lapangan.

Keterlibatan tidak hanya CSR tetapi juga organisasi massa, LSM, akademisi, dan kelompok-kelompok masyarakat juga mensuportnya, dan ini yang disebut penta helix. Ini untuk membantu program-program yang bisa mensuport inovasi-inovasi baru yang bisa dilakukan di daerah, termasuk kerangka kebijakannya.

Salah satu bentuk aksi, pembangunan dan renovasi 45 posyandu di tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Kupang, Kabupaten TTS, dan Kabupaten TTU.

Dari program kemitraan ini, tercatat penerima manfaat berjumlah lebih dari 346 jiwa ibu hamil, 2.017 baduta-balita, 1.956 remaja putri dan wanita usia subur, 370 kader posyandu dari 74 posyandu, serta 113 guru PAUD, yang tersebar di 16 desa (di 3 kabupaten).

Program kemitraan ini juga telah diakui oleh dunia internasional dengan diraihnya penghargaan perunggu Asia Pacific Stevie Awards sebagai program dengan inovasi dalam Public Service Communication atas Program Kemitraan Percepatan Pencegahan Stunting.

Inovasi “DOBRAK STUNTING” Dongkrak Bersama Turunkan Stunting di Nusa Tenggara Timur. Dalam program ini Balai POM di Kupang berkolaborasi dengan Organisasi Perangkat Daerah, kelompok komunitas, dan akademisi. Untuk sementara ini terdapat 7 pihak kolaborator yaitu Dinas Kesehatan, Kependudukan, dan Pencatatan Sipil Provinsi Nusa Tenggara Timur, Politeknik Kemenkes Kupang, Persatuan Ahli Farmasi Indonesia wilayah NTT, Ikatan Apoteker Indonesia wilayah NTT, Dompet Dhuafa, Persatuan Perawat Nasional Indonesia Wilayah NTT, dan Ikatan Keluarga Alumni Poltekkes Kemenkes Kupang.

Program ini memiliki tujuan utama untuk meningkatkan status gizi anak balita yang mengalami gizi kurang  di desa Naioni berdasarkan hasil timbang dengan terapi gizi dan makanan tambahan berbasis pangan lokal NTT. Pemberian Pangan Tambahan berupa Paket Susu Kelor (Produk UMKM yang sudah memiliki NIE BPOM) dilakukan pada 42 anak gizi kurang umur 1 sampai 3 tahun selama 90 hari untuk intervensi wajib, 1 hari 2 kali minum. Intervensi tambahan selama 9 bulan. 1 minggu 2 kali intervensi 2 kali minum.

Untuk membantu penanganan angka stunting di NTT terutama di Kabupaten yang menyumbang angka stunting tinggi, Pejabat Gubernur NTT Ayodhia Kalake mengatakan Pemerintah NTT telah memberikan bantuan stunting di Desa Raknamo Kabupaten Kupang berupa satu pasang kambing etawa, 10 ekor ayam petelur, 50 kilogram pakan ayam, telur ayam, 200 kg ikan dan 1.500 ekor bibit ikan nila, dua paket permainan untuk PAUD, 40 set serta alat edukasi cuci tangan bagi masyarakat.

Berdasarkan hasil bulan timbang pada Agustus 2023 mencatat jumlah sunting di Sumba Barat Daya 31,9 persen atau 9.762 bayi, Kabupaten Timur Tegah Selatan 22,3 persen dengan jumlah 8.924 bayi, Kabupaten Timur Tengah Utara 22, 6 persen atau 4.555 bayi, Kota Kupang 17,2 persen atau 4.019 bayi, Kabupaten Kupang 13 persen 3.872 bayi dan Kabupaten Manggarai 13,1 persen atau 3.841 bayi

Gerakan cepat penanganan penurunan stunting yang akan dilakukan oleh Pemerintah Provinsi NTT disampaikan oleh Pejabat Gubernur NTT Ayodhia Kalake, di tahun 2024 ini pemerintah akan melakukan interfensi pada balita yang berat badan tidak mengalami kenaikan.

Stunting adalah kondisi yang ditandai dengan kurangnya tinggi badan anak apabila dibandingkan dengan anak-anak seusianya. Sederhananya, stunting merupakan sebutan bagi gangguan pertumbuhan pada anak. Penyebab utama dari stunting adalah kurangnya asupan nutrisi selama masa pertumbuhan anak. (Tim Redaksi)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.