Dari Jalanan ke Ruang Direksi: Ujian Besar Elcid Li di PT Flobamor

oleh -629 Dilihat
banner 468x60

MASUKNYA Dr. Dominggus Elcid Li sebagai Direktur Utama (Dirut) PT Flobamor (Perseroda) adalah salah satu peristiwa paling menarik dalam lanskap politik-ekonomi Nusa Tenggara Timur (NTT) tahun ini. Bukan hanya karena posisi strategis yang akan diembannya, tetapi terutama karena latar belakangnya sebagai aktivis sosial dan intelektual publik yang selama ini dikenal kritis terhadap kekuasaan dan tata kelola pembangunan daerah.

Publik NTT mengenal Elcid Li bukan sebagai figur korporasi, melainkan sosok yang tumbuh dari dunia advokasi, diskusi publik, gerakan sosial, serta kritik terhadap ketimpangan pembangunan. Ia lama berada di ruang yang berseberangan dengan pola lama pengelolaan kekuasaan dan ekonomi daerah. Karena itu, ketika namanya muncul dalam daftar calon Dirut PT Flobamor, publik langsung membaca momentum ini sebagai sesuatu yang tidak biasa.

Ada harapan, tetapi juga keraguan. Harapan muncul karena masyarakat NTT sudah terlalu lama menyaksikan banyak Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) berjalan tanpa arah besar. Sebagian hidup enggan mati tak mau, sebagian lain menjadi arena kompromi elite politik. BUMD sering kali gagal menjadi motor ekonomi rakyat dan justru lebih dekat dengan kepentingan kekuasaan jangka pendek.

Dalam konteks itulah, figur seperti Elcid Li dianggap membawa kemungkinan baru: menghadirkan perspektif sosial dan keberpihakan publik ke dalam tubuh perusahaan daerah. Namun harapan saja tidak cukup. Masalah terbesar BUMD di Indonesia bukan sekadar kekurangan orang pintar. Persoalannya terletak pada tata kelola, intervensi politik, lemahnya profesionalisme, dan budaya patronase yang mengakar. Banyak direksi datang dengan idealisme, tetapi akhirnya terseret ke dalam arus kompromi kekuasaan.

Di sinilah tantangan terbesar Elcid Li sesungguhnya dimulai. Menjadi aktivis berbeda dengan memimpin perusahaan. Di ruang aktivisme, kritik adalah senjata utama. Sementara di ruang direksi, yang dibutuhkan adalah kemampuan mengeksekusi gagasan menjadi sistem yang bekerja. Ukurannya bukan lagi pidato kritis atau tulisan tajam, tetapi kinerja perusahaan, efisiensi, laba, tata kelola, dan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat.
Publik tentu ingin melihat apakah Elcid Li mampu membuktikan bahwa idealisme tidak berhenti pada slogan.

PT Flobamor sendiri sesungguhnya memiliki posisi strategis. Di tengah berbagai keterbatasan ekonomi NTT, BUMD semestinya bisa menjadi instrumen penting untuk membangun rantai ekonomi daerah: perdagangan antar-pulau, peternakan, garam, hasil laut, logistik, hingga kemitraan dengan UMKM lokal.

Sayangnya, selama bertahun-tahun, potensi besar itu belum benar-benar terkelola maksimal. NTT tetap menjadi daerah dengan tingkat kemiskinan tinggi, sementara banyak sumber daya ekonominya justru dinikmati pihak luar. Karena itu, jika PT Flobamor hanya dipertahankan sebagai perusahaan administratif tanpa visi besar, maka pergantian direksi tidak akan membawa perubahan berarti.

Elcid Li menghadapi ujian berat untuk membuktikan bahwa BUMD bisa menjadi alat pembangunan rakyat, bukan sekadar tempat distribusi jabatan. Ada beberapa pekerjaan mendesak yang tidak bisa ditunda.

Pertama, membangun transparansi. Publik berhak mengetahui bagaimana BUMD bekerja, bagaimana anggaran digunakan, dan bagaimana keputusan bisnis diambil. Kultur tertutup yang selama ini melekat pada banyak perusahaan daerah harus diakhiri.

Kedua, membangun profesionalisme. PT Flobamor tidak bisa dijalankan hanya dengan semangat perubahan. Ia membutuhkan sistem bisnis yang sehat, SDM kompeten, tata kelola modern, serta keberanian mengambil keputusan ekonomi yang rasional.

Ketiga, menjaga independensi dari intervensi politik. Ini mungkin tantangan paling sulit. Banyak BUMD gagal berkembang karena direksi tidak benar-benar diberi ruang profesional, melainkan terus berada di bawah tekanan kepentingan elite dan jaringan patronase.

Jika Elcid Li tidak mampu menjaga jarak dari pola lama ini, maka seluruh harapan publik akan runtuh dengan cepat. Namun publik juga harus adil. Transformasi BUMD tidak mungkin terjadi hanya oleh satu orang. Dibutuhkan dukungan sistem, pengawasan masyarakat, dan keberanian pemerintah daerah untuk menempatkan profesionalisme di atas kepentingan politik jangka pendek.

Tetapi bagaimanapun, figur Elcid Li kini membawa simbol yang lebih besar dari sekadar jabatan direktur utama. Ia membawa pertanyaan penting bagi masa depan NTT: apakah seorang aktivis yang lama mengkritik sistem mampu mengubah sistem ketika masuk ke dalamnya?

Jawaban atas pertanyaan itu tidak akan ditentukan oleh seremoni pelantikan atau narasi media sosial. Jawabannya akan terlihat dari keberanian membenahi tata kelola, membangun perusahaan yang sehat, dan memastikan manfaat ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat.

Jika berhasil, Elcid Li dapat membuka babak baru kepemimpinan BUMD yang lebih progresif dan berpihak pada kepentingan publik. Tetapi jika akhirnya larut dalam pola lama kekuasaan, maka publik akan kembali menyaksikan satu kenyataan pahit: bahwa sistem yang buruk sering kali tidak berubah, bahkan ketika orang-orang baik masuk ke dalamnya.

Elcid Li mengaku memiliki team work yang bagus baru dilantik dan siap berlayar mengarungi samudra raya Flobamora-NTT di bawah panji PT Flobamor yang kredibel, produktif dan adaptif di tengah tantangan perubahan zaman yang menghadirkan digitalisasi ekonomi. Publik NTT tentu menunggu apa core bussines dan bussines plan yang bakal digerakan manajemen baru.

TIM REDAKSI

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.