Yang Berakhir Bukanlah Akhir

oleh -777 Dilihat
banner 468x60

Kita, umat Katolik, sekarang sedang ada di masa Prapaskah, masa yang penuh dengan renungan dan refleksi untuk menyambut Semana Santa dan Paskah yang akan datang. Prapaskah adalah masa persiapan dan refleksi bagi kita umat Katolik sebelum hari raya Paskah, yang biasa berlangsung selama 40 hari (yang diambil dari pengalaman Yesus Kristus yang berpuasa selama 40 hari di padang gurun, Injil Matius 4:1-11).

Maknanya adalah melakukan introspeksi diri, meninggalkan hal-hal negatif seperti dosa dan kesalahan, serta memperdalam hubungan antara manusia dan Tuhan melalui doa, puasa, dan amal baik kepada mereka yang membutuhkan. Sementara itu, Paskah adalah hari raya paling penting dalam agama Katolik yang mengenang kebangkitan Yesus Kristus dari kematian setelah disalibkan di Golgota (Yoh, 20:1-53). Maknanya sangat dalam, yakni harapan baru, pembebasan dari dosa dan kematian, serta janji kehidupan kekal bagi kita, umat manusia, di akhirat nanti.

Menanggapi hal ini, penulis ingin mengundang kita semua untuk merenungkan Hari Raya Paskah yang akan datang. Seperti judul yang tertulis di atas, yaitu “Yang berakhir bukanlah akhir”, jika dipikirkan secara logis, bagaimanakah kematian itu bukanlah akhir dari kehidupan seseorang? Secara logis, akhir dari semua yang hidup di dunia ini adalah kematian. Akan tetapi, dalam kuasa Tuhan Allah Bapa, tidak ada yang tidak mungkin. Berarti, kematian Yesus Kristus di salib itu melahirkan dan membawa hal yang baru bagi kita, umat Katolik. Semua renungan ini dibagi dalam dua poin untuk merefleksikan bersama-sama untuk menyambut hari raya paskah yang akan datang:

1. Yang Berakhir bukanlah akhir

2. Bertobatlah dan Percayalah kepada Injil!

Yang Berakhir Bukanlah Akhir

Kematian Yesus Kristus di Golgota bukanlah akhir dari semuanya, akan tetapi awal semuanya. Awal dari kehidupan yang baru, harapan yang baru, dan kesempatan yang baru bagi umat manusia untuk berdamai dengan Tuhan Allah Bapa. Kematian dan kebangkitan Yesus Kristus mengajarkan kita hal yang sangat penting, supaya jangan sesekali kita mematikan atau memadamkan api harapan di dalam diri kita. Wafatnya Yesus Kristus di Golgota adalah bagian paling penting dari karya keselamatan Tuhan, namun wafatnya Yesus bukanlah titik akhir dari semuanya.

Ada beberapa poin penting bagi kita semua untuk direnungkan bersama. Pertama, tiga hari kemudian, Yesus bangkit dari antara orang mati (Lukas 24:5-6), membuktikan bahwa dia adalah anak Allah dan telah mengalahkan dosa dan kematian. Kedua, setelah kebangkitan, Yesus tinggal bersama murid-muridnya selama beberapa waktu sebelum diangkat ke surga. Kemudian, Roh Kudus diutus untuk menjadi pembimbing, kekuatan, dan penghibur bagi umat percaya atau murid-murid-Nya di masa itu (Kisah Para Rasul 2:1-2), yang memungkinkan mereka untuk menjalankan karya keselamatan dalam hidup mereka.

Ketiga, saat ini karya keselamatan Tuhan terus berlangsung melalui pelayanan, penginjilan, dan kasih yang diberikan oleh orang-orang percaya kepada sesama, serta melalui proses pemurnian dan pertumbuhan spiritual dalam diri setiap orang yang percaya (Matius, 28:19). Poin yang terakhir atau keempat adalah kedatangan kedua kali. Umat katolik juga mengaharapkan kedatangan kedua kalinya Yesus Kristus, di mana Dia akan menghapuskan kesusahan dan dosa secara total, dan membangun kerajaan yang kekal bagi kita umatnya (Matius, 25:31, Kisah Para Rasul, 1:11).

Keempat poin ini mengajarkan kita untuk tidak memadamkan api harapan pada diri kita. Meskipun dunia ini sangat kejam dengan dosa-dosanya, kita selalu berharap bahwa pada suatu hari nanti semua itu akan hilang dan kita akan mendapatkan kehidupan yang kekal di akhirat nanti. Dalam realita kita sekarang ini, banyak orang yang ingin mengakhiri hidup (bunuh diri) karena sudah tidak ada lagi harapan untuk hidup. Banyak yang kehilangan harapan mereka karena banyak faktor atau alasan, seperti kehilangan orang yang dicintai, dikhianati oleh orang-orang terdekat kita, dan lain-lain.

Kita harus sadar bahwa semua itu bukanlah akhir dari semuanya, melainkan pintu atau gerbang baru untuk kita bisa menjalankan hidup kita ini. Mungkin Tuhan memiliki rencana yang unik di hidup kita ini. Jika hari ini tidak bisa, mungkin suatu hari nanti bisa, karena esok hari adalah sebuah misteri yang belum bisa kita ketahui, dan karena Tuhan Allah Bapa selalu menyertai kita di setiap langkah kita dan kegiatan kita. Jadi, masa Prapaskah ini mengajak kita semua untuk selalu berharap kepada Tuhan karena Tuhan Allah Bapa adalah pencipta dari segala hal di dunia ini.

Bertobatlah dan Percayalah kepada Injil!

Hari Rabu Abu, kita sebagai umat Katolik menerima abu dan para imam atau pastor menaruh abu di dahi kita sambil mengucapkan kalimat yang sangat bermakna bagi kita umat Katolik, yaitu “Bertobatlah dan percaya kepada Injil!” (Markus 1:15), memanggil kita semua sebagai umat Katolik supaya bisa bertobat dari semua kesalahan dan dosa untuk berdamai kembali dengan Tuhan Allah Bapa melalui sengsaranya Yesus Kristus di Salib. “Allah tidak suka bahwa seorang pun binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan hidup (2 Petrus 3:9)”, berarti Allah selalu menunggu kita untuk bertobat dan kembali padanya dan hidup dengan jalan yang benar dan jauh dari dosa-dosa dunia.

Pertobatan bukan hanya tentang merasa menyesal akan dosa, melainkan juga tentang berbalik arah dari jalan yang salah menuju kehendak Allah, mengubah cara berpikir, berbicara, dan bertindak. Gereja Katolik juga mengajarkan bahwa sakramen pengakuan (pertobatan) adalah sarana yang diberikan Allah untuk membersihkan dan mengampuni dosa yang terlalu besar karena kasih dan pengampunan Allah, selama kita datang dengan hati yang tulus dan mau berubah.

Dalam injil Matius 3:2 mengatakan bahwa “tetapi kamu haruslah bertobat, karena waktu telah tiba, dan Kerajaan sorga sudah dekat (Matius 3:2)’’, dari sini kita bisa mengerti bahwa kunci surga sudah ada, kita yang mengambilnya sendiri, dan cara bagi kita untuk mengambil kunci surga itu adalah bertobat dari semua dosa yang kita lakukan dan kembali ke jalan terang dan benar yaitu Yesus Kristus sebab Yesus mengatakan bahwa “Aku adalah jalan, kebenaran dan hidup (Yohanes 14:6)”. Sebab kematian Yesus adalah pintu dan gerbang baru bagi kita semua untuk menjalani hidup yang baru dan baik. Karena seperti yang tadi sudah dijelaskan, kematian Yesus Kristus itu bukanlah akhir dari semuanya, akan tetapi adalah awal dari hidup dan harapan yang baru.

Pesan bagi Kita Semua dalam Masa Prapaskah

Dari semua refleksi yang sudah kita refleksikan bersama, mengajarkan kita supaya janganlah sesekali kita memadamkan api harapan di dalam diri kita dan bertobatlah dan percaya kepada injil sebab Kerajaan Allah sudah dekat. Di masa Prapaskah ini, Gereja Katolik mengajak kita semua untuk bertobat, merenung, berpuasa agar kita bisa mendapatkan kehidupan yang kekal di surga.

Karena kita semua harus tahu bahwa kekayaan di dunia ini tidaklah tetap atau permanen, jadi di masa Prapaskah ini, mari kita semua melakukan apa yang ditetapkan oleh Gereja Katolik yang seperti dijelaska di atas agar kita bisa memenangkan kekayaan yang kekal di akhirat atau surga nanti.

Oleh: Charles Lelo Ximenes

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.