Relasi “Persahabatan” Allah dan Abraham

oleh -1477 Dilihat
banner 468x60

Kitab Kejadian 18:20-23 berbicara tentang permohonan Abraham kepada Yahwe bagi keselamatan kota Sodom. Pada ayat sebelumnya (16-19) terlihat jelas bagaimana penulis teks ini menonjolkan dilema yang membuat Allah memutuskan untuk “memberitahu” Abraham tentang apa yang hendak dilakukan-Nya. Maksud dari keputusan dan tindakan ini adalah untuk membuat Abrahm tahu dan sadar sehingga ia dapat memberi pengajaran kepada anak cucunya kelak tentang kehendak Allah. Keputusan Allah untuk “memberitahu” Abraham tentang rencana-NYa adalah tindakan penting karena ada relasi (Allah dan Abraham) dan ada pengetahuan dari Allah.

Teks ini berbicara tentang tindakan tawar-menawar antara Abraham dan Allah tentang hukuman yang diberikan kepada Sodom. Hal menarik yang perlu diperhatikan adalah isi dari tawar-menawar tersebut. Topik yang dibicarakan adalah tentang keadilan. Apakah adil menghukum satu kota sementara ada orang-orang benar di dalamnya?

Namun dengang menunjukkan alasan penghancuran Sodom, Allah sebenarnya menunjukkan kepedulian-Nya terhadap keadilan dunia. “Sesungguhnya banyak keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomora dan sesungguhnya sangat berat dosanya” (18:20). “Keluh kesah” ini dapat dilihat sebagai seruan kolektif dari mereka yang tertindas atau dirugikan oleh tindakan kota-kota tersebut, serupa dengan seruan orang-orang tertindas dalam Keluaran 3:7. Hal ini menegaskan tentang kepedulian Allah terhadap keadilan dan kebenaran.

Allah peduli dengan keadaan manusia. Kalimat “Baiklah Aku turun untuk melihat,…(18:21) merupakan ungkapan antropomorfik yang menegaskan hal ini. Seperti kata Pemazmur TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi. Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN.
Allah menyelidiki tindakan manusia untuk memastikan kebeneran sebelum bertindak. Ungkapan Atropomorfik ini menegaskan satu hal penting yakni penyelidikan yang menyeluruh dan adil sebelum penghakiman dilaksanakan. Hal ini mencerminkan keadilan dan kesabaran Allah, yang memastikan bahwa setiap tindakan yang diambil didasarkan pada kebenaran.

Perjanjian Allah untuk menyelamatkan kota itu demi sepuluh orang benar menunjukkan belas kasihan dan keadilan-Nya. Hal ini menggambarkan konsep sisa, sebuah tema di seluruh Kitab Suci di mana sekelompok kecil orang beriman dapat mendatangkan perkenanan Allah.

Teks ini menunjukkan bahwa orang benar di hadapan Allah sangat berharga. Teks ini juga bisa ditafsirkan sebagai salah satu substansi dan bentuk doa. Relasi persahabatan adalah inti dari doa dan dialog adalah salah satu bentuk doa yang baik.

Injil Lukas 11:1-13 berbicara tentang doa. Yesus mengajarkan tentang doa karena ia adalah pendoa. Hal ini ditegaskan pada ayat pertama bab ini: “Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat….” (11:1). Yesus sering kali menyendiri untuk berdoa, seperti yang terlihat dalam Lukas 5:16 (Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa). Praktik ini menggarisbawahi ketergantungan-Nya kepada Bapa dan menjadi teladan bagi para pengikut-Nya. Lokasi spesifiknya tidak disebutkan, menekankan universalitas doa yang tidak terikat pada suatu tempat tertentu. Hal ini mencerminkan tradisi Yahudi yang berdoa pada waktu dan tempat tertentu, namun Yesus mencontohkan persekutuan yang lebih personal dan berkelanjutan dengan Allah.

Persekutuan personal ini terlihat dalam sapaan “Bapa…” Menyebut Allah sebagai “Bapa” merupakan hal yang revolusioner, menekankan hubungan yang pribadi dan intim dengan Allah. Dalam Perjanjian Lama, Allah terkadang disebut sebagai Bapa, tetapi Yesus menjadikan ini cara utama untuk menyapa Allah, yang mencerminkan hubungan Perjanjian Baru. Istilah ini menandakan rasa hormat sekaligus kedekatan, selaras dengan konsep orang percaya sebagai anak-anak Allah (Roma 8:15: “Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa).

Mengakui dan memuji kekudusan nama Allah itu penting. Dalam tradisi Yahudi, nama Allah diperlakukan dengan penuh hormat, seringkali diganti dengan gelar seperti Adonai untuk menghindari penyalahgunaan. Permohonan agar nama Allah dikuduskan merupakan panggilan agar kekudusan-Nya diakui dan dihormati di seluruh dunia, menggemakan perintah ketiga (Keluaran 20:7) dan penglihatan kenabian tentang kemuliaan Allah yang memenuhi bumi (Yesaya 6:3).

Sedangkan memohon datangnya kerajaan Allah merupakan harapan eskatologis. Permohonan ini berkaitan dengan penantian orang Yahudi akan kedatangan Mesias dan tegaknya kerajaan Allah, sebagaimana dinubuatkan dalam Daniel 2:44 dan Yesaya 9:7. Bagi orang Kristen, permohonan ini juga mengantisipasi kedatangan Kristus yang kedua kali dan penggenapan akhir dari rencana penebusan Allah.

Dengan meminta Allah menyediakan “roti harian” ἐπιούσιον ἄρτον (epiousion arton) manusia mengakui Allah sebagai sumber dan pemberi hidup. Istilah “roti” di sini tidak hanya melambangkan makanan jasmani tetapi juga makanan rohani. Dalam budaya Timur Dekat kuno, roti merupakan makanan pokok, yang mewakili kebutuhan dasar hidup.

Permohonan ini mengakui Allah sebagai penyedia segala kebutuhan, baik jasmani maupun rohani. Hal ini berkaitan dengan pernyataan Yesus dalam Yohanes 6:35, di mana Ia mengidentifikasi diri-Nya sebagai “roti hidup”, yang menunjukkan bahwa makanan sejati berasal dari hubungan dengan-Nya.

Permohonan untuk pengampunan dosa menegaskan bahwa manusia pada dasarnya adalah lemah dan tak berdaya. Manusia harus bergantung dan memohon pertolong Allah khususnya pengampunan dalam dosa. Alasan permintaan pengampunan dari Allah adalah kita telah terlebih dahulu mengampuni sesama kita. Lebih dari pada itu, kita meminta Allah menjaga kita untuk tidak jatuh lagi ke dalam cobaan dan keadaan dosa yang sama.
Perumpamaan lanjutan menegaskan tentang Allah yang akan selalu mendengarkan dan memperhatikan kebutuhan anak-anak-Nya.
Yesus berdoa sebelum mengajar tentang doa, kita berdoa sebelum berkotbah tentang doa. Tuhan memberkati kita.

Renungan Hari Minggu Biasa XVII

Hari Orangtua, Kakek dan Nenek Sedunia

Dasar biblis Kej. 18:20-33; Kol. 2:12-14; Luk. 11:1-13

Selamat Berefleksi
Kupang, 27 Juli 2025

Oleh: RD Gino Tukan, Pr

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.