PIKAT Gelar Seminar “Saatnya untuk Mengampuni” Ruang Refleksi Mendalam di Masa Prapaskah

oleh -656 Dilihat
banner 468x60

RADARNTT, Kupang – Komunitas PIKAT (Pedalaman Iman Katolik) menggelar seminar rohani bertajuk “Saatnya untuk Mengampuni” di Hotel Naka, Kupang pada Minggu, 1 Maret 2026.

Kegiatan yang berlangsung dalam suasana khidmat ini dihadiri sekitar 157 peserta, berdasarkan daftar hadir. Seminar tersebut menghadirkan Romo Dr. Okto Naif, dosen dan teolog yang mengabdi di Fakultas Filsafat serta pastor pembina di Seminari Tinggi Santo Mikhael Penfui. Kehadiran beliau memberi bobot akademik sekaligus pastoral pada refleksi yang diangkat, terlebih karena kegiatan ini berlangsung tepat pada Minggu Prapaskah ke-2, masa yang identik dengan pertobatan dan pembaruan diri.

Mengampuni sebagai Kebutuhan Universal

Dalam pemaparannya, Romo Okto menegaskan bahwa pengampunan bukan sekedar tema religius, melainkan persoalan krusial dan fundamental dalam kehidupan manusia – apa pun latar belakang agama, budaya, atau status sosialnya.

“Pengampunan adalah kebutuhan eksistensial manusia. Tanpa pengampunan, relasi akan retak, hati menjadi keras, dan masa lalu terus membayangi masa depan,” ungkapnya di hadapan para peserta.

Tema ini terasa dekat dengan realitas sehari-hari. Banyak peserta mengaku pergumulan soal pengampunan, baik dalam keluarga, komunitas, maupun relasi personal, sering menjadi beban batin yang sulit dilepaskan. Tidak heran, sesi tanya jawab berlangsung dinamis; banyak peserta antusias mengajukan pertanyaan, berbagi pengalaman, dan mencari pencerahan.

Menyelami Makna dari Akar Kitab Suci

Romo Okto memulai seminarnya dengan menelusuri terminologi pengampunan dalam bahasa Kitab Suci. Ia menjelaskan bahwa bahasa Ibrani terdapat kata “nasa” yang berarti mengangkat atau membawa pergi beban kesalahan. Semenara dalam bahasa Yunani digunakan kata “apheime”, yang berarti melepaskan atau membebaskan. Penjelasan tersebut membantu peserta melihat bahwa pengampunan bukan sekedar ucapan formal, melainkan tindakan batin untuk mengangkat beban dan melepaskan ikatan luka.

“Ketika kita mengampuni, kita bukan hanya membebaskan orang lain dari kesalahan, tetapi juga membebaskan diri dari beban kebencian,” jelasnya.

Manfaat Pengampunan: Spritualitas dan Psikologis

Lebih lanjut, seminar ini menyoroti manfaat konkret dari pengampunan, antara lain:
Pertama, Pemulihan relasi yang retak akibat konflik

Kedua, Kesehatan psikologis, karena hati yang dipenuhi dendam cenderung melahirkan kecemasan dan stress

Ketiga, Kedewasaan rohani, terutama dalam konteks prapaskah sebagai masa pembaharuan batin.,

Keempat, Pembebasan diri, sehingga

Kelima, Kesehatan psikologis, karena hati yang dipenuhi dendam cenderung melahirkan kecemasan dan stres.

Keenam, Kedewasaan rohani, terutama dalam konteks Prapaskah sebagai masa pembaruan batin.

Ketujuh, Pembebasan diri, sehingga seseorang tidak lagi terpenjara oleh luka masa lalu.

Para peserta mengaku mendapatkan wawasan baru tentang pengampunan sebagai bentuk keberanian dan kedewasaan iman.

“Pengampunan bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk keberanian dan kedewasaan iman,” ungkap Benny Anggari, salah satu anggota komunitas PIKAT.

Refleksi di Masa Prapaskah

Momentum Minggu Prapaskah ke-2 menjadikan seminar ini semakin relevan. Masa Prapaskah dipahami sebagai waktu untuk introspeksi, pertobatan, dan rekonsiliasi. Melalui tema “Saatnya untuk Mengampuni,” Komunitas PIKAT mengajak umat tidak hanya merenungkan pengampunan sebagai ajaran tetapi mempraktikkanya alam kehidupan nyata.

Kegiatan ditutup dengan ajakan refleksi agar setiap peserta berani memulai langkah konkret: berdamai dengan diri sendiri, memaafkan sesama, dan membuka ruang rekonsiliasi. Seminar ini diharapkan menjadi awal gerakan spritual yang luas, di mana pengampunan tidak lagi menjadi wacana, tetapi menjadi gaya hidup yang membangun damai, baik dalam keluarga, Gereja, maupun masyarakat luas. (HDC/TIM/RN)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.