Ketulusan Memberi

oleh -823 Dilihat
banner 468x60

SETIAP hari kita tidak pernah lepas dari memberi, entah kepada anak-cucu, teman, saudara, dan siapa pun. Memberi berarti suatu tindakan pengorbanan, di mana seseorang rela membagikan mengurangi, menghilangkan sesuatu yang ada pada dirinya untuk orang lain. Memberi dalam kacamata iman berarti tindakan yang berasal dari hati yang tulus dan murni untuk orang lain. Karena itu, memberi tidak diukur dari jumlah besar kecilnya pemberian itu, melainkan ketulusan dan kerelaan kita.

Perumpamaan mengenai persembahan dua janda miskin. Janda pertama adalah salah satu janda di Sarfat. Janda di Sarfat sangat miskin, bahkan siap menghadapi kematian la hanya memiliki segenggam tepung dan setelunjuk minyak dalam buli-buli, juga seteguk air. Ketika Nabi Elia tiba di Sarfat, ia berjumpa dengan janda ini. la meminta makan dan minum. Janda ini berani memberi segalanya, karena ia tahu bahwa di hadapannya adalah kematian, tidak ada makanan. Tetapi dia lebih percaya pada utusan Allah, yaitu Elia dan Tuhan Allah akan memperhatikan hidupnya dan anaknya.

Janda kedua adalah janda Yerusalem. Dia tanpa beban, tanpa perhitungan untung dan rugi “memberi segala yang ia miliki” untuk Tuhan di Bait Suci. Dia murah hati. Dia tidak ada beban karena memang dia orang miskin, tak butuh gengsi apa pun. Dia memberi diam-diam, tidak ingin diketahui oleh orang banyak berapa uang yang dipersembahkan.

Kedua janda ini adalah model wanita pemberani. Di hadapan mereka hanya kematian dan kemiskinan karena mereka tak punya apa-apa lagi. Segalanya sudah dilepaskan untuk Tuhan dan sesama. Ternyata dalam kondisi seperti ini Tuhan menjadi segalanya bagi mereka. Luar biasa! Siapa di antara kita yang berani seperti mereka berdua? Memberikan sesuatu kepada orang lain yang membutuhkan, bila kita sendiri masih membutuhkannya, memang tidak mudah. Bagaimana kita memberi bila kita masih membutuhkan? Di sinilah letak nilai pemberian. Nilai pemberian sungguh menjadi tinggi, karena memberikan dari yang masih kita perlukan, bukan dari apa yang sudah tidak diperlukan lagi. Inilah arti dari memberi dari kekurangan dan bukan dari kelimpahan kita. Memang kita sendiri masih menggunakan barang itu, tetapi karena demi orang lain, kita merelakannya.

Memberikan perhatian kepada orang lain, meski kita sendiri butuh perhatikan, memberikan pertolongan kepada orang lain meski kita sendiri butuh pertolongan; memberikan waktu kepada orang lain, meski kita sendiri kurang waktu. Nah, semua ini menandakan bahwa kita ingin memberikan dari sesuatu yang bagi kita sendiri sungguh berharga. Inilah cinta yang mendalam.

Cinta yang mendalam itu terungkap dalam keberanian untuk memberikan sesuatu yang terbaik kepada orang yang dicintainya, meskipun sesuatu itu masih dibutuhkannya sendiri. Maka, tidak ada pengertian, ‘biarlah saya kaya dulu, baru mendermakan milik saya. Biarlah saya pandai dulu, baru nanti membantu yang lain. Biarlah saya selamat dulu, baru nanti membantu keselamatan orang lain. Yang lebih tepat adalah ‘selagi saya kekurangan saya akan memberikan dari kekurangan saya, apabila nanti saya berkelimpahan, saya akan memberikan lebih banyak lagi.’

Dua janda miskin memberi apa yang menjadi miliknya untuk Tuhan dan sesama, bukan karena mereka ingin dipuji atau diperhatikan oleh orang banyak, melainkan karena kasih mereka kepada Tuhan. Kasih itu bukan soal kata-kata saja, bukan juga soal kaya-miskin. Kasih itu soal ketulusan hati dalam tindakan yang nyata. Orang yang memberikan diri atau kepunyaannya dari kekurangannya dengan tulus hati adalah orang kaya yang sebenarnya.

Oleh: RP. Suitbertus Marsanto, O.Carm.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.