Kemuliaan Allah adalah Kita Manusia yang Hidup

oleh -1770 Dilihat
banner 468x60

Di dalam filsafat Asia, ada perumpamaan tentang bunga teratai di dalam kubangan lumpur. Teratai adalah bunga yang sangat indah. Akan tetapi, ia justru tumbuh cantik di tengah kubangan lumpur yang tebal. Semakin tebal dan kotor lumpurnya, semakin cantik dan anggun bunga itu bertumbuh.

Kita adalah manusia-manusia peziarah yang selalu memiliki pengharapan. Harapan itu seperti keindahan bunga teratai tadi. Ia menjadi indah justru di tengah himpitan keadaan yang sulit, di tengah keadaan yang kotor. Harapan justru dikenal sebagai harapan di hadapan keputusasaan yang tersebar, yakni keadaan tanpa harapan yang mewabah, seperti yang kita alami dalam kehidupan sekarang ini.

Maka dari itu berjuanglah agar sekeras apapun dunia menghantam kita dengan segala persoalannya, harapan itu masih tetap ada. Usahakanlah agar harapan kita tetap bernyala seperti lilin-lilin kecil di tengah gelapnya malam. Ingat yang orang Latin bilang: “Dum spiro spero”; selama saya bernapas, saya berharap.

Bacaan-bacaan suci hari ini yang diwartakan kepada kita, terkhususnya bacaan Injil, mengisahkan tentang Pesta Perjamuan di Kana. Di Pesta ini, Yesus membuat mukjizat untuk yang pertama kalinya. Dari bacaan Injil pada hari ini, ada 2 hal yang menjadi fokus permenungan kita.

Pertama, Maria berkata kepada Yesus, “Mereka kehabisan anggur”. Cerita tentang pesta perjamuan di Kana dibuka dengan sebuah petunjuk waktu: “Pada hari ketiga”. Ada apa dengan hari ketiga? Dalam Injil ini, perhitungan tiga hari yang dimaksud mencerminkan minggu persiapan pesta Pentakosta Yahudi, peringatan peristiwa Sinai.

Setelah empat hari persiapan ditambah dua hari persiapan dekat (Kel. 19: 10-11) lalu pada hari ketiga Allah menyatakan kemuliaanNya. Maka di sini, penginjil menyiratkan bahwa pada hari ketiga di Kana, dinyatakanlah kemuliaan Yesus.

Menarik untuk dilihat bahwa pernyataan kemuliaan Yesus dengan mukjizat pertamaNya justru dimulai dengan kata-kata sederhana dari bibir Maria BundaNya: “mereka kehabisan anggur”. Pesta perkawinan Yahudi dapat berlangsung selama seminggu dengan banyak sekali undangan; dan anggur adalah minuman wajib yang harus disuguhkan. Kehabisan anggur, minuman wajib dalam pesta itu, adalah masalah yang sangat besar bagi tuan pesta.

Maria Bunda Yesus mengetahuinya dan berinisiatif untuk memberitahukannya kepada Yesus. Akan tetapi Yesus justru mengucapkan kalimat yang terdengar kurang halus: “Mau apakah engkau dari-Ku, Ibu?” Jika kita membaca teks asli Injil ini, maka kita akan menemukan bahwa terjemahan yang paling tepat adalah: “Mau apakah engkau dari-Ku, hai perempuan?”. Kalimat ini adalah penolakan Yesus sebab “SaatNya belum tiba”. Saat belum tiba yang dimaksudkan oleh Yesus adalah saat Ia dimuliakan nanti lewat wafat dan kebangkitanNya.

Saat kemuliaan itu sudah ditetapkan oleh Bapa sendiri dan bukan oleh manusia, bukan oleh hubungan darah dan daging. Akan tetapi di sini, Maria justru tampil dan menunjukkan teladan dalam hal percaya dan berharap. Maria mengatakan: “Apa yang Ia katakan kepadamu, buatlah!”. Maria adalah tokoh pertama dalam kisah Injil yang memberi respons kepercayaan terhadap apa yang difirmankan Yesus. Dengan menanamkan harapan dan kepercayaan itu pada pelayan-pelayan, ibu Yesus mempersiapkan para pelayan untuk saat yang ditentukan oleh Bapa, yaitu saat kemuliaan yesus yang mulai tampak untuk pertama kalinya. Yesus pun memenuhi apa yang diminta dan menyuruh pelayan-pelayan mengisi enam tempayan (ukuran sekarang 8 sampai 102 liter) dengan air sampai penuh.

Apa yang dilakukan oleh Yesus ini sekaligus menggenapi apa yang diwartakan dalam bacaan pertama: “Oleh karena Sion, aku tidak dapat berdiam diri. Dan oleh karena Yerusalem, aku tidak akan tinggal tenang, sampai kebenarannya bersinar seperti cahaya dan keselamatan menyala seperti suluh. Maka bangsa-bangsa akan melihat kebenaranmu, dan semua raja akan melihat kemuliaanmu. Dan seperti seorang mempelai girang hati melihat pengantin perempuan, demikianlah Allahmu akan girang hati atas engkau”. Yesus adalah mempelai pria itu sendiri.

Kedua, “setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi, engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang”. Pemimpin pesta yang tidak tahu dari mana anggur itu, menanyakannya kepada mempelai laki-laki, karena mengandaikan bahwa mempelai menyediakan anggur yang lebih baik ini.

Figur mempelai nanti sekali lagi muncul dalam Injil Yohanes, yaitu dalam kata-kata Yohanes Pembaptis yang merasa bersukacita karena sebagai sahabat ia boleh mendengar suara mempelai, yang adalah yesus. Pemimpin pesta mengungkapkan bahwa Tindakan mempelai ini bukanlah Tindakan biasa. Ia telah menyimpan anggur yang baik sampai sekarang. Apakah semuanya ini berarti bahwa sekarang saat Yesus sudah tiba? Jawabannya adalah belum.

Betapapun limpahnya anggur yang baik ini, ini belum puncak kisah Injil, tetapi suatu momen penting menuju ke situ. Meskipun belum tiba saatNya, akan tetapi tanda-tanda kemuliaan Yesus sudah mulai terlihat. Kemuliaan itu akan menjadi penuh dan sempurna pada saat Ia ditinggikan di salib dan pergi kepada Bapa.

Dari kedua hal yang telah direnungkan tadi, apa yang dapat dibawa pulang untuk dunia dan kehidupan kita?

Pertama, teruslah belajar untuk merawat harapan. Kita adalah orang-orang yang selalu kehabisan anggur dalam setiap momen hidup kita. Kita selalu menjadi cemas dan gelisah ketika persoalan itu ada. Karena itu, belakarlah untuk merawat harapan. Harapan bukanlah perasaan ataupun emosi yang datang sesaat, lalu pergi begitu saja. Harapan adalah energi untuk perubahan, sekaligus cara hidup yang berkelanjutan. Ia memang tak perlu menjadi kenyataan. Namun, ia tetap memberi alasan untuk hidup, dan terus berjuang di dunia yang sementara ini.

Berhati-hatilah juga sebab harapan tidak hanya daya dorong kehidupan, tetapi juga sumber kehancuran, terutama harapan yang tak terwujud. Ketika harapan besar terhempas oleh gejolak kehidupan, maka patah hati, kebencian dan konflik adalah buahnya.
Karena itu, tempatkanlah harapan pada jalur yang tepat. Datanglah selalu pada Yesus karena di dalamnya ada jawaban terhadap setiap kecemasan-kecemasanmu, jawaban atas setiap harapan-harapanmu.

Datanglah juga kepada Maria, Bunda Yesus dan Bunda kita. Ia akan menolong kita untuk menyampaikan apa yang kita harapkan pada PuteraNya Yesus, ketika ia melihat kita dalam kesulitan dan diserang rasa putus asa.

Kedua, Yesus telah dimuliakan sampai saat ini. Maka, sebagai orang-orang yang percaya, kita harus berjuang agar kemuliaan Allah tampak di mana-mana, di dalam keluarga kita, di tengah masyarakat kita, di lingkungan kerja kita. Bagaimana caranya? Rasul Paulus dalam bacaan kedua telah memberikan sedikit jawaban.

Masing-masing kita telah diberikan karunia oleh Allah sendiri. Karunia-karunia itu berupa kemampuan-kemampuan kita, bakat dan talenta kita. Pergunakanlah itu dengan sebaik-baiknya di dalam keluarga, masyarakat, Gereja dan lingkungan Gereja supaya kemuliaan Allah tampak di mana pun kita berada. Seorang kudus pernah bilang: “Gloria Dei, Homo Vivens”, “Kemuliaan Allah adalah kita manusia yang hidup”. Amin.

Homili Minggu Biasa II

Bacaan I: Yes 62: 1-5
Bacaan II: 1Kor 12: 4-11
Bacaan Injil: Yoh. 2: 1-11

Oleh: Romo Rio Kanaf / Rohaniwan Katolik di Keuskupan Agung Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.