Janganlah Menyembah Harta, Tetapi Sembahlah Allah

oleh -1252 Dilihat
Businesspeople worship dollar coin symbol. Man and woman have prayer ceremony to money. New religion, finance concept. Wealth and greed. Flat vector illustration, cartoon character.
banner 468x60

Saya pernah punya lima buah tas ransel. Ini bukan semata untuk koleksi tetapi lebih dari itu adalah nafsu konsumerisme merasuki hidupku. Mengapa? Karena yang terpakai hanya satu, yang lainnya tidak, bukan sebagai pajangan, lebih tepatnya hanya tumpukan sampah, sebagai barang rongsokan yang mempersempit ruang gerak. Jangan tanya tentang estetika kamar, tidak mungkin lagi pada waktu itu.

Memiliki lima buah tas bukan bertujuan menyimpan barang yang perlu saat dibutuhkan, melainkan hanya untuk sebuah mode dan tren kekinian.

Sadar atau tidak semakin hari jiwa terbebani, atensi pada hal urgen pelayanan terbagi karena perhatian terganggu dengan barang yang baru namun jadi rongsokan. Mau memberi kepada sesama namun hati berat, masih juga berpikir ini milik saya.

Namun beberapa tahun lalu ketika saya mencoba berefleksi tentang kitab Pengkhotbah yang mengkritisi kehidupan yang tanpa arah, tepatnya bab 1:1-11, 2:21-23 ini, saya sepertinya tertampar. Ternyata segala milik yang saya ‘akukan’ adalah salah dan lebih tepatnya sia-sia.

Saya malu dengan diri, ternyata ada luka keserakahan yang masih terus basah di hatiku.

Perlahan-lahan saya mentrasformasi diri, menyembuhkan diri dengan memberi dan berbagi apa yang saya tidak pakai.

Tindakan itu seakan menyelamatkan diri dari rasa memiliki yang egoistis. Setiap hari memperbaiki diri ‘menjadi’ seperti Yesus yang memberi tanpa pamrih. Sebab yang istimewa adalah hidup bukan tentang memiliki melainkan menjadi. Bukan apa yang saya miliki melainkan menjadi pribadi yang peka bahwa hidup itu adalah pemberian maka berilah. Vita est donum, Ergo dona.

Pengkotbah menyadarkan diri ini bahwa memiliki terlalu banyak hal duniawi yang akan kudapatkan adalah kesia-siaan.

Menumpuk materi di lumbung keserakahan hanya akan memperlambat aku menjadi pribadi yang murah hati. Menyita atensiku dari hal-hal indah pelayanan.

Bisa menyeret pribadi menjadi pelit dan kikir akan cinta yang mesti dibagikan bukan dikurung dalam ruang keserakahan personal.

Berusaha menyadarkan diri sebagai pribadi yang bangkit bersama Kristus dan dibangkitkan oleh Kristus dari kubangan keserakahan yang meresahkan adalah keniscayaan. Manusia harus berani mencari perkara-perkara surgawi, yang di atas, bukan yang di bumi, di bawah.

Perkara yang menepis kesia-siaan dan yang memastikan perjalanan menuju keselamatan. Perkara yang mana Kristus hadir sebagai pembela, yang membela dan membawa manusia kepada kemuliaan. Oleh karena itu, matikanlah dalam diri segala yang duniawi, percabulan, kenajisan, dendam, hawa nafsu, kejahatan dan keserakahan yang semuanya adalah mengarah pada penyembahan berhala.

Dalam kolose 3:9, Paulus menambahkan juga bahwa janganlah kamu saling mendustai karena kamu telah menanggalkan manusia lama dan kelakuanya sebab dusta mematikan kreativitas dan inisiatif kasih yang mau dinyatakan kepada sesama.

Paulus mengatakan: kita telah menjadi baru dalam diri Yesus Kristus, apapun latar belakang hidup kita.

Oleh karena telah menjadi baru, kita mesti mencintai perkara-perkara surgawi. Damai, kebenaran, keadilan, cinta persahabatan dan keadilan.

Injil Lukas 12:13-21 menjelaskan juga tentang Yesus yang berbicara tentang perkara yang di atas tanpa melibatkan diri pada perkara yang di bawah. Perkara pembagian harta adalah perkara rumit jika diatasi dari kacamata egoisme duniawi.

Tentang keserakahan, yang ada pada dirinya, hanya semata untuk dirinya. Keserakahan akan memaksa kita mengatakan tidak pada Tuhan dan sesama.

Keserakahan membuat kita lupa. Lupa bahwa harta tidak menjamin hidup kekal. Keserakahan juga membuat manusia amnesia. Amnesia akan sikap Amaliah pada sesama. Keserakahan membuat hati kita tumpul untuk berbagi. Keserakahan melumpuhkan ingatan manusia akan indahnya hidup dalam dimensi relasional antara Allah dan manusia.

Jika kita kehilangan daya pikat kita terhadap cinta Allah dan peduli sesama, biarpun lumbung-lumbung diisi dengan gandum bagi jiwa, akan terasa sunyi oleh kebodohan kita sendiri yang dipertegas oleh Allah sendiri.

Kekayaan itu akan ditinggalkan, ngengat akan kenyang, sementara hidupmu diambil Allah malam (saat) itu juga.

Oleh karena itu, kayalah dalam Tuhan dengan kemurahan hati, kepedulian, damai, pertobatan dan cinta yang berbelas kasih. Jangan lupa menabung surga di lumbung hidupmu. Dan keluarkan dunia dengan keserakahannya dari lumbung hidupmu.

Kita perlu ingat, Tuhan sedang memandang jauh ke dalam diri kita bahwa kita masih memiliki luka yang masih basah. Luka itu adalah luka keserakahan yang sulit disembuhkan apabila kita sedang terkunci oleh kebodohan bahwa dunia lebih agung dari surga.

Tuhan berbicara tentang seorang kaya yang panenannya limpah namun hatinya hampa. Ia menabung bukan untuk berbagi, namun untuk nafasnya sendiri. Ia berkata kepada jiwanya: tenanglah, bersenanglah, hidup ini milikmu namun langit tertawa. Bodoh! Stupid! Stupido! Amonot! Malam ini hidupmu kembali pada-Ku.

Oleh karen itu, janganlah menyembah Harta, tetapi sembahlah Allah. Sebab bagi orang serakah emas dan uang lebih berharga di dunia, namun tidak bisa membeli surga. Surga tidak bisa dibeli, hanya bisa diberi kepada orang yang kepadanya Allah berkenan. Jika punya harta benda jangan lupa Allah nanti rumit masuk surga.

Kemurahan hatimu adalah investasi kekal yang engkau siapkan dari rest area-dunia ini.

Non portiamo nulla con noi, se non l’amore che abbiamo donato. Kita tidak membawa apa pun (dari dunia ini) kecuali kasih yang telah kita berikan).

Jadilah kaya bukan hanya di rekening, tetapi kaya di hadapan Allah itu sangat penting. Kaya akan kerja benar, kaya akan doa benar, kaya akan syukur benar, kaya akan cinta benar dan itu kita bagikan kepada liyan.

RENUNGAN TERAS
Untuk Minggu Biasa XVIII 2025/C.
Dasar biblis Injil Lukas 12:13-21

Oleh: Romo Gutti, Pr.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.