Bersatu Dalam Allah Yang Mengasihi

oleh -1420 Dilihat
banner 468x60

Sejak semula Allah merancang adanya perbedaan pada manusia. Secara kodrati manusia diciptakan sebagai lelaki dan atau perempuan. Perbedaan itu diterima sebagai sebuah fakta terterima. Keadaan terterima itu adalah anugerah dari Pencipta yang menghendaki manusia berbeda namun terarah kepada persekutuan hidup. Dalam persekutuan itu ada relasi kasih yang saling memperhatikan, saling melengkapi, saling melayani.

Bacaan kitab suci dari Kej 2:18-24 menyatakan bahwa sejak semula manusia diciptakan berbeda untuk saling melengkapi. Adam diciptakan dari debu tanah. Hawa diciptakan dari rusuk Adam. Keduanya tercipta oleh Allah sebagai yang berbeda satu sama lain tetapi dikehendaki Allah untuk bersatu, bersekutu dalam ikatan kasih yang saling melengkapi dan membangun kehidupan bersama.

Bacaan injil Mrk 10:2-16 menandaskan ajaran Yesus tentang persekutuan hidup suami istri yang tidak mengenal perpecahan dan perceraian. Israel yang tegar hati dan keras kepala membuat Musa mengizinkan adanya surat cerai. Hukum lama itu diperbaharui oleh Yesus dengan penegasan tentang tidak adanya perceraian. Yesus mengambil Adam dan Hawa yang berbeda namun disatukan oleh Allah, sebagai landasan pengajaran tentang sifat perkawinan yang monogam dan tak terceraikan.

Meskipun kedua bacaan berbicara tentang persekutuan hidup perkawinan, tapi pesannya juga dialamatkan kepada semua orang beriman tentang pentingnya hidup dalam persekutuan kasih. Perbedaan memang ada dan nyata. Tapi perbedaan itu bukanlah alasan untuk bertikai dan saling melecehkan. Justru karena berbeda maka setiap pribadi terarah kepada dialog kasih yang melengkapi dan menghidupkan satu sama lain.

Untuk mencapai persekutuan hidup yang rukun harmonis, cinta kasih menjadi hal fundamental. Allah mencipta karena cinta. Allah menanamkan cinta ke dalam hati manusia yang berbeda. Allah menghendaki manusia ciptaan-Nya saling mengasuhi. Dengan saling mengasihi manusia bersekutu dalam kerukunan hidup penuh persaudaraan.

Hambatan utama yang merusak persekutuan hidup harmonis adalah egoisme, keras kepala, tegar hati, sombong, merasa diri paling benar. Sikap ini tampak dalam perilaku orang Israel zaman Musa yang menuntut adanya surat cerai maupun kaum Farisi zaman Yesus yang mencobai Dia dsngan pertanyaan mengenai perceraian.

Dalam Ibr 2:9-11 Yesus digambarkan sebagai figur yang rendah hati, peduli, memahami manusia berdosa, rela berkorban karena cinta demi keselamatan manusia. Yesus menjadi contoh dalam hal mengasihi tanpa membeda-bedakan. Cinta-Nya merangkum dan mempersatukan semua manusia dalam paradigma hidup rukun harmonis penuh persaudaraan. Dengan cinta yang berkorban, Yesus rela merendahkan Diri sampai mati di kayu salib untuk menyelamatkan manusia.

Pesan sabda Tuhan dari ketiga bacaan ini dirangkum dalam dua hal. Pertama, Allah menghendaki persekutuan hidup suami istri yang rukun harmonis tanpa perpecahan, apalagi perceraian. Kasih Allah mempersatukan, bukannya memecahbelah hidup bersama. Kedua, Allah menghendaki persekutuan hidup yang rukun harmonis dalam komunitas beriman dan bermasyarakat.

Di manapun berada, para murid Kristus hendaknya membawa persatuan, bukan perpecahan. Itu berarti cinta kasih kristiani hendaknya menjiwai seluruh pribadi dan kehidupan setiap murid Kristus. Maka yang terpancar dari dirinya adalah pikiran, tutur kata dan tindakan yang mengembangkkan persekutuan hidup penuh persaudaraan.

Renungan Minggu, 6 Oktober 2024

Oleh: RD. Siprianus S. Senda

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.