Aku adalah penjaga yang kelelahan.
Di dadaku retak-retak mulai tumbuh,
sarang rayap dari kebodohan manusia.
Aku menahan gemuruh air yang murka,
menjaga mereka yang lupa daratan,
mereka lupa bahwa aku bisa runtuh.
Dulu aku dibangun dengan doa,
dengan tangan yang percaya pada aliran,
tapi kondisiku kini ditindih sertifikat perjanjian
terbelit pipa-pipa rumah yang serakah,
sungai di hadapanku menangis.
Sampai kapan aku harus berdiri,
jika yang kulindungi justru menikamku?
Terdengar gemuruh gelombang air dari kejauhan,
tentang hari ketika ada yang tidak bisa ditahan.
Aku tahu, bahwa aku akan runtuh,
bukan karena waktu,
tapi karena keserakahanmu.
Maret 2025
Oleh: Fileski Walidha Tanjung







