Partikel seluruh semesta raya yang terkandung dalam tubuh manusia meliputi emas yang beratnya sekitar 0,2 miligram.
Itu artinya, jika dalam satu kecamatan terdapat 40.000 warga, sudah cukup untuk mengumpulkan seberat 1 gram kadar emas dari tubuh-tubuh mereka.
Para ilmuan mencatat kadar emas itu berfungsi sebagai konduktor, serta membantu menjaga keseimbangan listrik dalam sel-sel tubuh manusia. Emas alami yang berbentuk ion mikroskopis ini tersebar dalam darah, jaringan, hingga organ-organ tubuh setiap hamba Allah, dari rakyat jelata, bangsawan, hingga para wali dan nabi sekalipun.
Menurut para ulama, ruh dan partikel semesta yang terhimpun dalam jiwa dan jasad Rasulullah memancar laksana cahaya, sebagai pantulan indah dari cahaya dan ruh Allah Yang Maha Agung.
Keindahan dan kesempurnaan penciptaan semesta dan jagat raya ini, terwakili oleh keindahan akhlak dan budi pekerti yang ada pada diri Rasulullah, sekaligus meliputi ruh dan cahaya yang terkandung pada diri Nabi Ibrahim, Musa, Isa, dan seluruh nabi terdahulu.
Muhammad laksana Al-Quran yang berjalan. Wahyu-wahyu Allah mengejawantah secara apik dan sempurna dalam frekuensi dan vibrasi jiwanya.
Apa yang diucapkannya selaras dengan pikiran dan perbuatannya. Cahaya Allah terus memancar dalam sanubarinya, kemudian memantul indah ke dalam cahaya hamba-hamba yang dicintai-Nya hingga hari kiamat tiba. ***
Oleh: Enzen Okta Rifa’i (AlumnusĀ International University of Africa, Republik Sudan. Menulis esai sastra dan keislaman di berbagai media nasional cetak dan online)








