Negara adalah puisi yang belum rampung,
ditulis ulang setiap kali rakyat berteriak:
“Di mana keadilan?”
atau
“Makna kemerdekaan dengan kelaparan?”
1 Juni bukan angka—ia adalah diksi,
Soekarno menyisipkan metafora
tentang Garuda yang tak hanya bisa terbang,
tapi harus juga belajar bertengger di ranting kebenaran.
Aku telah menulis ulang Pancasila
dengan tinta dari nadi demonstran
dan huruf-hurufnya kupahat dari suku kata
anak-anak adat yang tak diundang ke meja pembangunan.
Negara bukan hanya konstitusi,
tapi juga aroma tanah setelah hujan
dan suara ibu saat membaca sila kelima
di pinggir kasurnya yang sederhana.
Juni, 2025
Oleh: Fileski Walidha Tanjung








