Kami terlahir dari koneksi Wi-Fi dan warisan luka.
Membaca sejarah dari layar retak,
dan menulis masa depan dengan jempol jari
Kami bukan bodoh, hanya dibesarkan
dalam algoritma yang penuh kepalsuan
kebenaran yang diiklankan
Dada kami masih ada bara kecil
sisa-sisa api dari seribu pahlawan
yang namanya tidak masuk daftar buku teks.
Kami ingin negeri ini
tak hanya gagah di spanduk,
tapi juga di dalam perut setiap rakyat
yang tak merintih kosong,
pelajaran sekolah yang tidak menyesatkan,
kebebasan yang bukan sekadar slogan.
Delapan puluh tahun adalah cermin panjang,
kami berdiri di hadapannya
dengan mata bertanya,
dengan tangan menggigil,
dengan kaki yang memilih
untuk terus melangkah.
17 Agustus 2025
Oleh: Fileski Walidha Tanjung







