Mimbar dan Kehormatan

oleh -55 Dilihat
banner 468x60

Di atas mimbar, kata-kata menemukan ruangnya, didengar oleh banyak hati,
ditimbang oleh banyak pikiran. Karena itu, setiap ucapan semestinya tahu kapan harus tegas, kapan harus teduh, dan kapan sebaiknya berhenti.

Ada kata yang singkat, namun tinggal di hati; ada pula yang panjang berputar-putar, hingga maksudnya sendiri perlahan kehilangan arah. Sebab kata-kata bukan hanya untuk didengar, melainkan juga untuk dipertanggungjawabkan.

Mimbar bukan sekadar tempat berbicara. Di sanalah seseorang mempertaruhkan kehormatannya: pada cara ia memilih kata, menyikapi perbedaan, menahan amarah, dan menghormati mereka yang mendengar.

Kadang, semakin panjang sebuah nasihat, semakin sulit membedakan mana yang hendak menuntun, dan mana yang sekadar ingin diluapkan. Ketegasan yang kehilangan teduhnya bisa terdengar seperti kemarahan; pidato yang ingin menyentuh justru dapat membuat orang merasa iba pada pembicara

Barangkali publik tidak selalu membutuhkan suara yang paling keras atau pidato terpanjang. Mereka hanya ingin pulang membawa sedikit kejernihan, sedikit keteduhan, dan satu alasan untuk tetap percaya.

Sebab ketika mikrofon akhirnya diletakkan dan tepuk tangan perlahan reda, yang tersisa bukan panjangnya pidato, melainkan apa yang tinggal dalam ingatan: apakah hati mereka tersentuh, pikiran mereka tercerahkan, atau hanya tersisa rasa iba—

“Sayang sekali, begitu banyak kata yang terucap, namun hanya sedikit yang membekas di hati.”

Oleh: Yudi Latif

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.