Merajut Senja

oleh -45 Dilihat
banner 468x60

Di ujung hari, aku merajut senja dengan benang cahaya yang perlahan putus di antara jingga dan kelabu.

Kusulam rindu pada mereka yang pernah menyalakan fajar, para pendiri Republik yang dengan tangan muda membentangkan langit bernama Indonesia.

Kubayangkan saat tubuh mereka mulai ringkih, langkah perlahan rapuh, rambut memutih ditimpa musim yang panjang, namun semangat juang tak ikut renta.

Mereka tahu, tangan yang menanam tak selalu menyaksikan pohonnya tinggi. Maka sebelum senja sepenuhnya turun, mereka menitipkan cahaya kepada tunas-tunas yang tumbuh.

Bukan untuk mengulang jejak mereka, bukan pula untuk tinggal di bawah bayang-bayang masa lalu, melainkan untuk melanjutkan perjalanan dengan langkahnya sendiri, menjaga Republik dengan cahaya zamannya.

Kini mereka telah menjadi kenangan, tetapi amanat itu belum selesai.

Ia berpindah dari tangan ke tangan, dari hati ke hati, menyeberangi pergantian zaman.

Maka senja bukan akhir cahaya. Ia adalah saat ketika cahaya belajar berpindah.

Dan kita yang datang kemudian menerima titipan itu—agar semangat yang dahulu mereka nyalakan tetap menemukan jalannya menuju cerlang Indonesia.

Oleh: Yudi Latif

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.