Tidak jarang ulama, pendeta, maupun tokoh agama di republik ini yang merasa dirinya telah mendapat mandat sebagai Santo atau Waliullah. Padahal, mereka masih suka memperjual-belikan ilmu Allah, bahkan merasa dirinya telah menjadi guru dan mursyid bagi mereka yang masih diragukan kualitas keilmuannya.
Tidak jarang kita temukan pendakwah dan penceramah yang mengumbar amarah dan kebencian, bahkan gemar menjadikan ketakutan dan kebodohan massa sebagai ajang komoditas bagi otoritas keilmuannya. Padahal, memancing publik untuk mengumbar lelucon dan gelak-tawa pun patut dipertanyakan kualitas keikhlasan dan kepamrihannya, supaya manusia dapat menjaga diri agar tidak berlaku riya dalam menyampaikan misi dakwah dan kebenaran di jalan Allah.
Patutkah Anda merasa diri sebagai ahli surga yang mendapat mandat kewalian, sementara di sisi lain Anda telah mengalami ahistori dan buta sejarah; juga telah merestui kezaliman penguasa militer terhadap rakyatnya; hingga terus-menerus mengumbar amarah purba kepada orang-orang partai (PKI) yang belum pernah menduduki tampuk kekuasaan? Sehingga, tidak layak bagi Anda menghakimi suatu komunitas masyarakat yang belum terbukti secara ilmiah bahwa mereka telah melakukan kezaliman?
Pantaskah Anda berceramah dengan lihainya menampilkan diri selaku “korban politik” seakan-akan orang-orang di partai PKI telah melakukan makar serta mengorbankan rakyat Indonesia. Sementara, Anda sendiri tak pernah melakukan riset dan penelitian mendalam tentang fenomena perpolitikan Indonesia di sekitar tahun 1965, dalam upaya penggulingan Presiden Soekarno oleh militerisme Orde Baru yang didukung CIA dan elit-elit global?
Jika pun Anda mempercayai segelintir ulama yang seakan telah menerima bukti-bukti ilmiah secara “kasyaf”, lalu apakah bisa dibenarkan dalam agama Islam, bahwa penyelidikan berdasarkan kasyaf telah memenuhi syarat dan kriteria sebagai amal yang diridhoi Allah? Bukankah bukti-bukti berdasarkan kasyaf tak bisa dibenarkan secara hukum pasti, kecuali jika bukti-bukti hukum itu diteliti berdasarkan kenyataan empiris yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya?
Saya dari keluarga besar NU di Cilegon, Banten, dan sama sekali bukan dari keturunan PKI maupun organisasi pendukungnya. Tetapi, ingin saya kemukakan untuk pendakwah sekelas Gus Baha, Ustad Somad, Dasat Latif, Mama Ghufron, juga siapa pun pendakwah yang masih gemar membuat lelucon untuk memancing gelak-tawa publik, dipersilakan bapak-bapak mubalig mencermati beberapa ayat Al-Quran (An-Nur: 15-21) yang dapat ditafsirkan dengan bahasa Indonesia yang mengalami perkembangan hingga saat ini, dalam kaitannya dengan validitas isu-isu politik di era medsos ini:
“Ingatlah, ketika kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut; lalu kamu mengatakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui secara pasti kebenarannya; sementara kamu menganggapnya ringan dan enteng saja, padahal bagi Allah, hal itu adalah perkara besar. Mengapa ketika mendengar berita dusta itu, tidak lantas kamu katakan, “Tidak pantas bagi saya untuk ikut-ikutan membicarakan ini, sungguh Allah Maha Suci, dari segala kebohongan (sejarah) yang telah mereka perbuat.”
“Allah memperingatkan agar kamu jangan memasuki wilayah yang bukan keahlianmu, jika kamu adalah orang beriman. Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepadamu. Dan Dia Maha Tahu dan Maha Bijaksana. Jangan sekali-kali kamu mengulangi perbuatan semacam itu, jika kamu orang beriman. Sedangkan, mereka yang merasa senang dengan tersiarnya berita bohong (hoaks) di depan publik (kaum beriman), mereka akan ditimpa azab yang pedih baik di dunia maupun di akhirat. Allah-lah Yang Maha Tahu, sedangkan kamu tidak mengetahui sama sekali. Kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, niscaya kamu semua akan mendapat azab yang besar.”
“Wahai orang-orang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, dan bagi siapa yang menuruti langkah setan, sesungguhnya setan itu menyuruh manusia mengerjakan perbuatan keji dan mungkar. Kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, niscaya tidak seorang pun di antara kalian yang selamat, serta bersih dari dosa dan kesalahan sampai kapan pun. Akan tetapi, Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Sungguh Allah-lah Yang Maha mendengar, juga Maha Mengetahui segala sesuatu.” (*)
Oleh: Hafis Ashari (Peneliti historical memory Indonesia, juga penulis novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten)









