Logika Khidir dan Musa

oleh -72 Dilihat
banner 468x60

Logika Nabi Khidir hanya mungkin diterapkan bagi fase kehidupan Nabi Musa yang tengah dilanda keangkuhan intelektual, seakan menganggap dirinya paling cerdas dan jenius, bahkan fungsi akal pikiran dianggap segala-galanya dalam kehidupan manusia.

Untuk menegakkan prinsip kebenaran dan keadilan, tak mungkin kita menggunakan metode berpikir ala Khidir yang bersifat sufistik, bahkan cenderung skeptis dalam memandang fenomena kehidupan ini. Sedangkan idealisme Firaun yang tersesat, menindas, dan berlaku tidak adil, dibutuhkan keberanian sikap revolusioner yang “membangkang” dan “melawan arus”. Konsep ketundukan dan ketaatan kepada guru dan penguasa, tidak berlaku dalam menghadapi sosok penguasa zalim yang bertindak sewenang-wenang di muka bumi ini.

Kita tidak sepantasnya berdebat, bahwa perwujudan Musa dimungkinkan ada, berkat keberadaan Firaun. Sebagaimana keberadaan Muhammad yang dimungkinkan ada, berkat kejahatan dan kezaliman Abu Jahal dan Abu Lahab.

Kita pun tidak layak bertanya: apakah Tuhan sanggup menciptakan orang paling jahat, sampai Tuhan sendiri pun tak sanggup melawan dan mengalahkannya? Sungguh Tuhan Maha Agung dan Maha Kuasa dari segala ciptaan-Nya.

Tugas manusia di muka bumi bukanlah sibuk memikirkan hal-hal yang tidak krusial, juga tak perlu memperdebatkan hal-hal yang di luar nalar dan akal sehat manusia.

Kita diperintahkan untuk saling berlomba dalam kebaikan, agar menjadi khalifah terbaik di muka bumi ini. Kita harus berbuat baik demi kebaikan kita sendiri; kita harus menciptakan perbaikan, juga demi keselamatan dan kebaikan diri kita sendiri; bahkan kita harus membahagiakan orang lain, juga demi kebahagiaan hidup kita sendiri.

Berkat kuasa dan kebesaran Tuhan, pada akhirnya kezaliman dan kesewenangan Firaun berakhir di tengah Laut Merah, melalui perantaraan keberanian dan sikap revolusioner Musa sebagai utusan, yang telah memenuhi amanat Tuhan agar menyiarkan pesan-pesan kebaikan dan perbaikan di muka bumi ini.

Fenomena Musa dan Khidir semakin kentara di era kebangkitan spiritual ini. Ia laksana perdebatan abadi antara takdir dan ikhtiar, qadla dan qadar, telur dan ayam, yin dan yang, siang dan malam, terang dan gelap, bahkan kebaikan yang meniscayakan adanya kejahatan. Begitu pun sebaliknya.

Hanya masalahnya, Tuhan sebagai Sang Sutradara Agung, memberikan kebebasan kepada setiap manusia, apakah memilih berperan sebagai orang baik ataukah orang jahat? Untuk itu, segera putuskan pilihan yang akan berdampak baik bagi semesta, dan bagi diri kita sendiri. (*)

Oleh: Mu’min Roup

(Peneliti dan dosen di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, menulis puisi dan prosa di berbagai media nasional luring dan daring)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.