“Jalan apa pun harus saya tempuh, karena saya sudah lelah menjadi orang miskin, dan saya tak pernah minta hidup di permukaan bumi ini.”
Itulah prinsip tokoh utama dalam film “The Brutalist” ketika sang arsitek berhijrah menuju Amerika dan ikut-serta membangun kemegahan Kota New York.
Namun ironisnya, setelah ia mencapai kesuksesan dan menjadi Yahudi Diaspora yang kaya-raya, ia memaksakan diri mengumpulkan sanak-familinya untuk berhijrah menuju Kota Tel Aviv, sambil mengupayakan kemenangan dan kesenangan hidup bagi umur tua.
Padahal, tak ada kemenangan yang berkah dapat dibangun di atas puing-puing penderitaan karena perlakuan genosida terhadap warga Palestina. []
Oleh: Ahmad Rafiuddin
Penulis adalah Pengasuh Ponpes Tebuireng 09, Rangkasbitung, Banten, penulis esai keislaman di berbagai media lokal dan nasional







