Hadir yang Tak Selalu Diharapkan

oleh -103 Dilihat
banner 468x60

Aku mulai memahami, bahwa kedekatan tidak selalu berarti saling melibatkan. Ada kalanya beberapa orang berjalan bersama, menyusun rencana dan menciptakan cerita tanpa merasa perlu mengajak semua orang yang ada di sekitarnya.

Dahulu, mungkin aku akan bertanya-tanya, mengapa namaku tak pernah disebut? Apakah ada yang kurang dari diriku, atau memang kehadiranku tidak sepenting yang kupikirkan?

Namun, semakin dewasa, aku belajar bahwa tidak semua hal harus dipertanyakan, dan tidak semua orang harus dipaksa untuk memahami perasaan kita.

Aku tetap menghargai mereka, tanpa harus menuntut tempat dalam setiap kebersamaan. Aku juga belajar menerima bahwa pertemanan memiliki kedekatan yang berbeda, dan tidak semua orang memandang hubungan dengan cara yang sama.

Aku tidak ingin terus merasa tersisih hanya karena tidak diajak, tetapi aku juga tidak ingin berpura-pura bahwa hal itu sama sekali tidak terasa.

Sebab menjadi dewasa bukan berarti kehilangan perasaan, melainkan belajar mengelolanya tanpa menyalahkan siapa pun.

Jika suatu hari aku tidak lagi berada di tengah kebersamaan itu, bukan berarti aku menyimpan dendam. Mungkin aku hanya sedang belajar menempatkan diri, memahami batas kedekatan, dan berhenti berharap terlalu jauh pada sesuatu yang tidak bisa kupaksakan.

Pada akhirnya, aku ingin tetap menjadi diriku sendiri: menghargai tanpa menuntut, peduli tanpa memaksa, dan berteman tanpa kehilangan harga diri.

Karena aku tidak harus membenci mereka yang tidak mengajakku, tetapi aku juga tidak harus terus menunggu di tempat yang sama hanya demi merasa diterima.

Oleh: Fitrah Lewomuda

(Pegiat Literasi, Anggota KOLI Adonara)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.