Pagi mengunyah trotoar seperti kitab yang kehilangan huruf-huruf.
Empat peluru beterbangan dari mulut besi, seperti gagak mabuk meminum matahari.
Asap berdoa dengan lidah solar, sementara gedung-gedung menua dalam sekali nafas.
Di jembatan, angin menggantung jas almamater seperti kulit domba yang disalib pasar.
Ibu-ibu menjahit ketakutan pada kantong beras yang bocor.
Radio memamah pidato, lalu muntah menjadi abu di selokan.
Langit Jakarta memelihara petir seperti singa kurus yang lapar suara.
Dan jalan raya—seekor ular tua—berganti kulit di bawah sepatu demonstran.
Di negeri ini, cermin belajar berdusta dari istana.
Pohon-pohon menunduk seperti jamaah yang kehilangan kiblat hujan.
Darah menetes perlahan dari papan reklame, merah seperti mawar di mulut algojo.
Seseorang meniup peluit dari rongga malam, lalu kota berubah menjadi kitab ratapan.
Empat tubuh rebah, tetapi tembok-tembok mulai bermimpi.
Kuburan membuka jendela bagi burung-burung yang lama dibungkam.
Dan pagi itu, matahari tampak letih,
seperti malaikat yang semalaman mengangkut reruntuhan nurani.
(terinspirasi Tragedi Trisakti dan runtuhnya Orde Baru)
Oleh: Fileski Walidha Tanjung







