Dia yang Mengajari Indonesia Bernyanyi

oleh -85 Dilihat
banner 468x60

Ia memungut nada dari selokan, dari becak, dari suara bambu dipukul hujan.

Lalu menyimpannya di dada seperti petani menyimpan benih pada musim paceklik.

Kota-kota kolonial berdiri pucat seperti roti basi di meja penjajah.

Namun lagu-lagunya tumbuh liar seperti ilalang di rel kereta.

Burung-burung gereja, azan subuh, peluit kereta, dan suara ibu menanak nasi—semuanya berubah menjadi sungai bunyi di tangannya.

Ia mengajari negeri ini bernyanyi tanpa harus menjadi istana.

Sebab musik paling jujur sering lahir dari dapur dan luka.

Di malam-malam perang, biola menangis seperti pohon ditebang diam-diam.

Radio-radio tua memuntahkan mars dan rindu ke kamar-kamar sempit.

Dan jalan-jalan yang lapar tetap hafal bait-baitnya, seperti pengemis hafal aroma roti dari rumah orang kaya.

Kini suaranya telah menjadi hujan di atas kota-kota tua.

Anak-anak menyanyikannya tanpa tahu siapa yang pertama menanam nada itu.

Padahal ia hanya lelaki yang memelihara cahaya kecil di tenggorokan bangsanya, ketika dunia sibuk menjual kebisingan sebagai kemajuan.

(terinspirasi kelahiran Ismail Marzuki)

Madiun, Mei 2026

Oleh: Fileski Walidha Tanjung

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.