Cinta itu Ruwet

oleh -88 Dilihat
banner 468x60

Cinta tak semanis puisi, tak seindah film.
Dalam lirik dan layar ia bertabur bunga, penuh pelukan, kejutan, dan kehangatan.

Dalam hidup, ia datang bersama tagihan, kesibukan, kelelahan, ego yang enggan mengalah, dan hari hari monoton yang tak sempat menjadi romantis.

Cinta adalah dua bahasa yang mencoba hidup dalam satu rumah. Satu kalimat berangkat sebagai pelukan, namun tiba sebagai luka.

Satu diam lahir dari kasih, namun tumbuh menjadi prasangka.

Aneh, bukan? Bertahun-tahun tidur di ranjang yang sama, hafal dengkur dan kebiasaan, namun masih bisa tersesat di satu ucapan.

Cinta bukan jalan lurus. Ia sungai yang berubah arah: ada batu, ada arus, ada tepi yang ingin kita tinggalkan.

Ada hari ketika cinta hanya tinggal bara kecil—nyaris tak cukup menghangatkan, namun cukup mengingatkan: rumah ini belum padam.

Lalu apa yang membuatnya bertahan?

Bukan karena tak pernah ingin pergi, bukan karena selalu sepakat, bukan pula karena luka lekas sembuh.

Mungkin karena setelah badai, keduanya masih memilih duduk di meja yang sama, mau mendengar tanpa membela diri, dan mencoba memahami sebelum meminta dipahami.

Cinta bertahan bukan karena ia kebal terhadap badai, melainkan karena dua manusia berteguh hati membangun rumah, sambil terus belajar memahami dan mengenal orang yang sama berulang kali.

Di antara salah paham, luka, dan jalanan terjal, para pecinta akhirnya belajar: bahwa mencintai bukan menemukan seseorang yang sempurna untuk tinggal, melainkan menemukan alasan untuk tetap tinggal ketika kesempurnaan itu tak pernah datang.

Oleh: Yudi Latif

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.