Bencana Alam

oleh -84 Dilihat
banner 468x60

Jika kita berlaku adil kepada semesta, dan bersikap baik dan bijaksana kepada sesama manusia, lalu apa yang perlu ditakuti dari ganasnya bencana dan kejadian alam?

Ketakutan manusia yang berlebihan akan datangnya bencana, baik yang bersifat alami maupun ulah tangan manusia, hal itu menunjukkan lemahnya mental dan moral manusia, karena mereka tak merasa yakin akan datangnya pertolongan Allah bagi hamba-hamba yang dicintai-Nya.

Mereka menaruh curiga pada semesta, bersu’udzon kepada manusia lain (liyan), yang dengan sendirinya akan bermuara pada prasangka buruk terhadap takdir dan ketentuan Allah. Padahal, Allah hanya akan berbuat sesuai prasangka hamba-hamba-Nya.

Lalu, bagaimana manusia akan mendapat pertolongan Allah, jika mereka berburuk sangka kepada Pencipta Yang Maha Merawat dan Memelihara kehidupan manusia dan seluruh jagat raya ini?

Seandainya pun ada kekuatan mantra sakti hingga canggihnya teknologi, yang dapat mengguncang gunung, meretakkan lapisan bumi, menghidupkan orang-orang mati, hingga bekerjasama dengan ribuan jin dan orang-orang pintar, bukankah semuanya itu hanya mungkin terjadi atas izin Allah?

Ya, bukankah segala urusan hidup dan mati di jagat semesta ini, sepenuhnya dalam kendali dan genggaman Allah semata?

Jika seseorang berbuat baik kepada Fulan, pasti akan dilipatgandakan kebaikan itu kepadanya, entah dari si Fulan itu sendiri maupun dari kebaikan pihak lain. Jika pun seseorang berbuat jahat kepada Fulan, pasti dia akan menerima balasan kejahatan, baik dari Fulan, semesta, maupun dari para ahli warisnya.

Seandainya manusia tak percaya (ragu) pada pernyataan ini, dapat dipastikan dia tidak termasuk ke dalam golongan hamba-hamba yang beriman.

Untuk itu, tak ada yang perlu ditakuti dalam kehidupan dunia ini, kecuali jika manusia tidak merasa takut pada pembalasan Allah. Tak ada yang perlu dirisaukan, kecuali jika manusia lupa diri, serta terlena dari pengamatan Allah.

Ya, tak ada yang perlu ditakuti, kecuali jika manusia sibuk bersembunyi dan merasa akan luput dari pengadilan Allah…. (*)

Oleh: Eeng Nurhaeni

(Pengasuh Ponpes Al-Bayan, Rangkasbitung, Banten, menulis puisi dan esai di berbagai media nasional luring dan daring)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.