Arunika

oleh -144 Dilihat
Ilustrasi (Foto: Isma Novel)
banner 468x60

Arunika; engkau datang bagai seorang darwis tua mengetuk pintu langit lalu menyucikan cahaya yang jatuh di pundak bumi dan menaburnya dengan sabda-sabda yang telah tertuang dalam kitab-kitab tua.

Aku melihat wajahmu dari timur yang masih kuyup oleh doa malam perlahan bangkit—laksana burung-burung emas dari taman eden yang mengepakkan sayap-sayapnya di atas tubuh waktu yang tak pernah lelah untuk menghitung setiap jejaknya.

Mari kita berzikir pada bibir rerumputan hijau seperti embun-embun pagi yang ikhlas memberi kehidupan meski angin mengalunkan kidung-kidung tua hingga terdengar di telinga para penggembala ketika mereka kehilangan arah dan menemukan cinta di dalam kesunyian.

Aku berdiri di pundak bukit gersang menatap titik-titik cahaya yang menyusuri jalan-jalan desa mengusap atap-atap rumah dari alang-alang sebagaimana seorang ibu menyisir rambut anaknya sebelum berangkat ke kehidupan.

Arunika; engkau adalah mawar api yang ditumpahkan langit di dada tanah-tanah gersang untuk membakar sisa-sisa jerami yang melekat pada wajah bumi.

Lihatlah—piala anggur yang bercahaya diteguk bumi setiap pagi untuk membangunkan sungai-sungai dari tidur panjang dan mengajari burung-burung cara membaca ayat-ayat langit
dengan bahasa sayap.

Dengan demikian—biarlah arunika terus memancarkan sinarnya untuk menerangi jiwa-jiwa yang sedang letih dan menemukan jalan pulang sebagaimana kapal-kapal Yunani kuno
yang menemukan pelabuhan melalui bintang dan nyanyian laut.

Sebab pada akhirnya—setiap titik cahaya yang terpancar adalah surat cinta dari langit yang dikirimkan kepada bumi agar kita tak pernah lupa bahwa terang selalu lahir kembali dari rahim kegelapan.

Atambua, 16 Juni 2026

Oleh: Silvester Kiik

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.