Di antara detik yang jatuh seperti embun pagi, ada sepasang jiwa yang membangun langitnya sendiri. Bukan dari batu, bukan dari kayu, melainkan dari janji yang tak pernah layu.
Dua puluh tujuh tahun bukan sekadar angka, Ia adalah simfoni yang dimainkan oleh sabar dan tawa.
Setiap nadanya adalah pelukan yang tak bersyarat, setiap iramanya adalah pengorbanan yang tak pernah diumumkan.
Cinta bukan tentang sempurna, tapi tentang tetap memilih satu sama lain meski dunia berubah arah.
Mereka bukan hanya pasangan, Mereka adalah dua kutub yang saling menyalakan. Di antara badai dan pelangi, Mereka tetap menyalakan api bukan untuk membakar, tapi untuk menghangatkan hati.
Rumah mereka bukan istana, namun di dalamnya, cinta tumbuh seperti semak berbunga. Anak-anak menjadi bait-bait puisi, yang lahir dari kasih, tumbuh dalam harmoni.
Cinta sejati adalah ketika kau melihat masa depan, dan tetap memilih orang yang ada di masa lalu.
Ada malam-malam yang sunyi, di mana kata tak cukup untuk menyembuhkan.
Namun pelukan pagi selalu menjawab, bahwa cinta sejati tak pernah terlambat. Mereka menari di atas luka, menyulam harapan dari benang kecewa. Dan tetap memilih satu sama lain, meski dunia menawarkan seribu pelarian.
Pernikahan bukan tentang siapa yang benar, tapi tentang siapa yang lebih ingin tetap bersama.
Kini, di tahun ke-27, Cinta mereka bukan lagi api yang menyala terang, tapi bara hangat yang tak pernah padam, yang menghidupkan, bukan hanya membakar.
Mereka bukan legenda dalam buku sejarah, namun mereka adalah bab yang tak pernah usang dalam hati anak-anaknya.
Tentang dua insan yang menulis kisah, dengan tinta kesetiaan dan kertas pengorbanan yang tak pernah habis.
Cinta adalah cerita yang tak selesai, dan keluarga adalah halaman yang terus ditulis.
Selamat ulang tahun pernikahan ke-27, untuk cinta yang telah menjadi lentera. Semoga cahaya kalian terus menyinari, bukan hanya rumah, tapi dunia yang ikut belajar dari harmoni.
Dan jika suatu hari dunia bertanya, apa arti cinta yang sesungguhnya? Biarkan puisi ini menjawabnya, Dengan satu nama: keluarga kalian.
Oleh: Bernardus Badj
Puisi ini kupersembahkan kenapa lentera hidupku, ayah dan ibu yang telah menyalakan cahaya di setiap lorong waktu yang kutempuh







