RADARNTT, Kupang – Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat, Herman Khaeron mendorong perhatian khusus pengembangan potensi ekonomi provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) di bidang pariwisata, tambak garam berskala industri, sorgum dan peternakan yang selama ini sudah mensuplai kebutuhan daging sapi ke Pulau Jawa.
“Ini akan kita dorong agar mendapat perhatian otoritas pemerintah pusat bukan karena pak Melki (Gubernur NTT) adalah sahabat kita, tetapi memang rakyat NTT butuh perhatian khusus dari pemerintah,” tegas Herman Khaeron di Arena Rapat Kerja Daerah (Rakerda) DPD Partai Demokrat Provinsi NTT.
Ia menegaskan bahwa NTT harus menjadi etalase bangsa Indonesia di daerah perbatasan dengan Republik Demokratik Timor Leste dan Australia.
“Kita mesti memberi perhatian khusus ke NTT sebagai etalase bangsa di perbatasan dengan Timor Leste dan Australia,” tandasnya.
Sebelumnya, Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena mendorong para kader Partai Demokrat bekerjasama membangun NTT sesuai peran dan tugas masing-masing melalui gerakan Beli Produk Lokal NTT sebagai salah satu strategi memperkuat ekonomi daerah.
Hal itu disampaikan Melki Laka Lena dalam sambutan pembukaan Rakerda III DPD Partai Demokrat Provinsi NTT tahun 2025, yang berlangsung di Hotel Kristal Kupang pada Sabtu (4/10/2025).
Gubernur Melki membeberkan bahwa, belanja masyarakat NTT terhadap barang-barang dari luar daerah masih sangat besar. Data yang ia paparkan menunjukkan, sekitar Rp51 triliun uang masyarakat NTT setiap tahun justru mengalir keluar untuk membeli berbagai kebutuhan, termasuk produk sederhana seperti pinang. Dari jumlah itu, tercatat sekitar Rp700 miliar dikeluarkan hanya untuk membeli pinang dari Jambi.
“Kalau kita bisa menekan belanja keluar daerah ini dengan membeli produk kita sendiri, maka akan berdampak besar terhadap perekonomian lokal. Karena itu saya mengusulkan gerakan Beli Produk NTT,” ungkapnya.
Ia menambahkan, NTT memiliki banyak potensi unggulan di sektor pertanian, perkebunan, peternakan, hingga perikanan yang seharusnya bisa memenuhi kebutuhan masyarakat sendiri. Bahkan, Melki menyebutkan program One Village One Product (satu desa satu produk unggulan) sedang didorong hingga ke sekolah, kampus, gereja, dan masjid, agar setiap komunitas bisa menghasilkan produk khasnya.
Lebih jauh, Gubernur Melki menegaskan bahwa penguatan ekonomi lokal harus menjadi agenda bersama antara pemerintah dan partai politik, termasuk Partai Demokrat. Ia menilai Demokrat menjadi salah satu partai yang konsisten memperhatikan sektor pertanian dan usaha produktif masyarakat.
“Dengan kebersamaan, saya percaya gerakan ini bisa menjadi langkah nyata membangun kemandirian ekonomi NTT, sekaligus menekan defisit perdagangan daerah,” ujarnya.
Selain mengusulkan gerakan Beli Produk Lokal NTT, Gubernur Melki juga menekankan pentingnya peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) melalui optimalisasi potensi sumber daya alam, serta penguatan pendidikan dan sumber daya manusia (SDM).
“Semoga melalui Rakerda Demokrat ketiga ini lahir rekomendasi konkret yang mendukung program pembangunan NTT agar lebih maju, sehat, sejahtera dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Melki Laka Lena juga menyampaikan, pertumbuhan ekonomi NTT berada di angka 5,44 persen pada triwulan ke II tahun 2025 lebih tinggi dari rata-rata nasional 5,12 persen (year on year/yoy) pada triwulan II 2025 di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian.
Kepala BPS Provinsi NTT, Matamira B. Kale, mengungkapkan pertumbuhan ini ditopang tiga sektor utama, yakni pertanian yang berkontribusi 1,99 persen, perdagangan sebesar 1,62 persen dan administrasi pemerintahan sebesar 0,71 persen terhadap total pertumbuhan.
“Pertanian menjadi motor penggerak utama, diikuti sektor perdagangan dan pemerintahan,” jelas Kale belum lama ini kepada RRI. (TIM/RN)







