Inklusi Disabilitas dalam Agrobisnis: Dari Kesadaran Menuju Tindakan

oleh -816 Dilihat
banner 468x60

PRISMA menyelenggarakan acara lokakarya Petani Maju dengan tema “Inklusi Disabilitas dalam Agrobisnis: Dari Kesadaran Menuju Tindakan.” Selama acara tersebut, pelaku usaha agrobisnis dan penyandang disabilitas saling berbagi praktik-praktik terbaik untuk menjangkau lebih banyak petani penyandang disabilitas dengan produk, layanan, dan inovasi yang dapat meningkatkan pendapatan mereka.

Petani Maju merupakan kampanye PRISMA untuk mendukung petani produktif dan komunitas yang kuat. Petani penyandang disabilitas sering kali kehilangan kesempatan sebagai konsumen produk dan layanan yang dapat meningkatkan produktivitas. Kampanye ini mendukung agrobisnis menjembatani hal tersebut melalui riset pasar dan menargetkan segmen pelanggan yang berbeda.

Acara yang difasilitasi oleh Pusat Rehabilitasi YAKKUM, sebuah organisasi kemanusiaan yang memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas, mengundang partisipasi berbagai pelaku agrobisnis, termasuk perusahaan pakan ternak dan pupuk, petani penyandang disabilitas, dan organisasi penyandang disabilitas (OPD).

Project Manager PR YAKKUM, Eko Harsono menekankan pentingnya langkah-langkah yang dapat ditindaklanjuti yang dipandu oleh masukan dari komunitas, mengikuti prinsip “Tiada tentang kami tanpa kami”.

Pimpinan Tim PRISMA, Mohasin Kabir, membagikan betapa pentingnya masalah ini.

“Integrasi inklusi disabilitas dalam sektor pertanian sangatlah penting, terutama mengingat hampir 50 persen penyandang disabilitas memberdayakan pertanian untuk mata pencaharian mereka,” ungkapnya.

Pedoman yang dipilih dengan Komunitas

Dalam acara tersebut, para agrobisnis dipandu langkah demi langkah agar dapat melibatkan petani penyandang disabilitas. Proses ini meliputi pengumpulan data tentang tingkat disabilitas di suatu daerah dan mengorganisir kegiatan tatap muka untuk edukasi dan pemasaran kepada petani, dengan tujuan agar petani penyandang disabilitas diundang dan dapat berpartisipasi penuh.

Proses tersebut diuraikan dalam Pedoman Aksesibilitas, yang dibuat khusus untuk agrobisnis oleh PRISMA dan PR YAKKUM, dengan saran dan masukan dari petani penyandang disabilitas.

Acara ini juga menyoroti peran penting OPD dalam mengatasi hambatan dan menghubungkan agrobisnis dengan petani penyandang disabilitas. OPD telah memiliki hubungan erat dengan petani penyandang disabilitas dan dapat membantu menghubungkan perusahaan dengan petani secara lebih bermakna.

Bapak Nugroho, salah satu panelis dari Perkumpulan Penyandang Disabilitas Klaten (PPDK), menyatakan perlu mengubah paradigma umum penyandang disabilitas dari objek penerima bantuan, menjadi subjek pembangunan yang memiliki hak yang sama untuk partisipasi penuh.

“Kita perlu mengubah paradigma umum penyandang disabilitas dari objek penerima bantuan, menjadi subjek pembangunan yang memiliki hak yang sama untuk partisipasi penuh. Melibatkan komunitas penyandang disabilitas dalam mata rantai agrobisnis dapat mendukung perubahan paradigma tersebut,” ungkapnya.

Seiring bertambahnya usia, semakin banyak petani yang menghadapi disabilitas seperti gangguan penglihatan, pendengaran, dan mobilitas. Sebanyak 39 persen petani berusia di atas 55 tahun menghadapi tantangan ini. Oleh karena itu, penting sekali memahami sudut pandang petani.

Disabilitas mencakup berbagai tantangan. Ketika dipahami dan disediakan investasi yang layak, tantangan-tantangan tersebut dapat membuka potensi petani, memberikan peluang bagi bisnis untuk berinovasi, berkembang, dan memberikan dampak sosial. (Sumber: prisma.co.id)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.