RADARNTT, Kupang – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Timur (NTT) sangat menyadari pentingnya sinergi antara pemerintah, swasta, akademisi, lembaga agama, lembaga kemasyarakatan, serta masyarakat pada umumya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, terutama sektor pertanian.
“Karena saat ini pertanian masih menjadi sektor prioritas di NTT. Sektor ini berperan sebagai penyedia pangan, sumber pendapatan masyarakat, penyerap tenaga kerja, hingga penekan inflasi,” demikian sambutan Sekda Provinsi NTT Kosmas Damianus Lana dalam Loka Karya Sosialisasi Keberlanjutan Hasil Program AIP-PRISMA dan Hasil Background Study Bidang Pertanian dalam rangka Penyusunan RPJMD Teknokratik Provinsi Nusa Tenggara Timur, Tahun 2025-2029.
Sekda NTT diwakili Kabid Perekonomian dan Sumber Daya Alam Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Provinsi NTT, Theresia Maria Florensia, SE, M.Ec.Dev dalam sambutan pada Loka Karya yang berlangsung Rabu (24/9/2024) di Hotel Aston Kupang, menegaskan Perekonomian di NTT terbagi dalam beberapa lapangan usaha, di mana lapangan usaha terbesar ada di sektor pertanian.
Terlihat dari sebagian besar mata pencaharian penduduk yang berbasis pada pertanian. Ada beberapa komoditas pertanian, peternakan dan perikanan yang menjadi unggulan antara lain jagung, ternak sapi, ternak babi, dan rumput laut.
“Hal ini ditandai oleh kontribusinya terhadap pembentukan PDRB 29 persen lebih di tahun 2023, dan cenderung meningkat dalam beberapa tahun terakhir,” jelasnya.
Di sisi lain, lanjutnya, masih ada beberapa kendala atau faktor yang berkontribusi terhadap masih rendahnya produksi dan produktivitas sebagian besar komoditi pertanian di NTT. Di antaranya, budidaya yang masih sederhana di mana petani masih belum memanfaatkan varietas unggul baru atau teknologi budidaya lainnya.
“Penggunaan input yang masih sangat minim. Faktor lainnya adalah minimnya penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan), sehingga sangat terbatas luasan pengelolaan,” tandasnya.
Selain itu, tegasnya, petani belum melakukan spesialisasi komoditi yang diusahakan, karena masih berorientasi subsisten. Keterbatasan kualitas lahan pertanian adalah faktor lainnya.
Mencermati beberapa gambaran kondisi di atas, kata Theresia Maria Florensia, lokakarya ini menjadi penting dan aktual, bukan hanya menjadi forum untuk berbagi informasi, tetapi juga sebagai wadah kolaboratif untuk merancang langkah-langkah konkrit menuju pemulihan dan pengembangan sektor pertanian di NTT yang berkelanjutan.
Untuk itu, tandasnya, sangat diapresiasi atas kemitraan antara Pemerintah Provinsi NTT melalui Bapperida Provinsi NTT dan PRISMA, juga didukung oleh para pemangku kepentingan lainnya, dalam penyiapan rancangan RPJMD Teknokratik Provinsi NTT.
“Kami mendukung upaya ini, sebagai suatu platform yang penting untuk mengumpulkan masukan dari berbagai pemangku kepentingan, terkait pengembangan sektor pertanian di NTT,” tegasnya.
Dengan melihat berbagai pencapaian dan upaya untuk memanfaatkan pembelajaran pembangunan pertanian inklusif dari PRISMA, yang telah berjalan sekitar 10 tahun di Provinsi NTT, kata dia, momentum ini dapat menjadi kesempatan untuk berbagi pembelajaran dari implementasi PRISMA sebagai satu program.
Sekali lagi atas nama Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, saya mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian Pertanian, Departemen Luar Negeri dan Perdagangan (DFAT) Australia, atas dukungannya selama ini kepada pemerintah dan masyarakat di Provinsi NTT.
Juga kepada PRISMA dan semua pihak yang turut serta dalam upaya pembangunan sektor pertanian di Provinsi NTT lewat berbagai intervensi program sehingga diharapkan dapat terus menumbuhkan langkah-langkah proaktif untuk meningkatkan sektor pertanian sebagai sektor unggulan penopang ekonomi daerah.
“Mari kita manfaatkan forum ini dengan sebaik-baiknya, berkolaborasi dan berbagi ide-ide guna menciptakan terobosan yang berdampak positif bagi pembangunan pertanian di Provinsi NTT,” pungkasnya mengajak peserta yang hadir.
Chief Technical Officer PRISMA, Ferdinandus Rondong mengaharapkan hasil kajian PRISMA berdampak signifikan bagi pembangunan sektor pertanian di Provinsi NTT.
”PRISMA berharap hasil kajian serta rekomendasi ini dapat membawa dampak yang signifikan bagi sektor pertanian di NTT,” ujarnya.
Sementara, Direktorat Pangan dan Pertanian Kementerian PPN/Bappenas, Ifan Martino menyampaikan apresiasi terhadap kolaborasi PRISMA dan Pemerintah Provinsi NTT.
”Kami sangat senang melihat hasil kajian ini ke depannya dapat mendukung pengembangan pasar pertanian dan peternakan komersial di NTT,” ungkap Ifan.
Kajian pendahuluan RPJMD Teknokratik Provinsi NTT tahun 2025 – 2029 dilaksanakan dengan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah, sektor swasta, petani, akademisi, serta organisasi masyarakat sipil. (TIM/RN)







