Tugas Manusia sebagai Khalifah di Muka Bumi

oleh -1124 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Hafis Azhari

Manusia hidup dan lahir ke muka bumi sambil disambut gembira dan disyukuri oleh kedua orang tuanya. Bukan untuk disesali dan dikufuri, sehingga membuat orang tua takut dan panik akan nasib masa depannya. Allah sudah menjamin rizkinya, tenang saja, sejak ia mengonsumsi plasenta di dalam perut ibunya, bahkan hingga akhir hayatnya pun Allah sudah memberi jaminan atas rizkinya. Yang diperintahkan kepadanya agar bersyukur dan mensyukuri Penciptanya. Jangan sampai lupa dan mengingkari pemberian dan anugerah Tuhan.

Rizki manusia tidak datang secara kebetulan, juga hakikatnya bukan pemberian orang lain, karena sifat manusia (orang tua) hanyalah perantara dan wasilah saja. Begitu pun dengan pemerintah atau pimpinan perusahaan yang memberi gaji, hanyalah perantara saja. Bahkan kekuatan tenaga dan pikirannya untuk bekerja dan berprestasi itu pun hanya perantara yang mengantarkannya kepada jalan kesuksesan. Memang setiap individu berbeda dalam perolehan rizki, bahkan dua manusia yang dilahirkan kembar, juga berbeda-beda dalam perolehan rizkinya.

Tetapi bagaimana pun, hakikat hidup hanyalah sebagai ujian. Kadang seorang anak terjatuh saat belajar berjalan, kadang juga merasakan luka ketika beranjak dewasa, baik luka lahir maupun batin. Tetapi, jika manusia konsisten bersyukur, ia takkan fokus pada luka dan kegelapan yang membuatnya serba terpuruk dan menderita. Begitu pun ketika kesuksesan diraihnya, tak layak baginya untuk merasa angkuh dan bangga diri. Karena hakikat nikmat dan keberhasilan hanyalah ujian karunia dari Allah. Sangat mudah bagi-Nya untuk menarik kembali kesuksesan itu dalam sekejap mata, juga sangat mudah bagi-Nya untuk memberi kenikmatan hidup dalam sekejap mata. Dia-lah Sang Pemberi dan Pembolak balik hati, termasuk pasang surutnya nasib hidup manusia dan setiap makhluk ciptaan-Nya.

Ada manusia yang terlahir cacat, atau tak memiliki orang tua (yatim-piatu), tetapi dapat dipastikan akan ada yang mengasuh dan mencukupi kebutuhan hidupnya. Bahkan, Rasulullah sendiri lahir dalam kondisi tak memiliki ayah (yatim). Selang beberapa tahun kemudian ibunya wafat, sehingga ia dalam kondisi yatim-piatu sejak masih kanak-kanak.

Ketika beranjak dewasa, beliau pernah dalam kondisi kekurangan, usaha dan perdagangannya diboikot oleh kaum musyrikin (Qurays) hingga bangkrut. Saat itu, ia hanya mengonsumsi tulang-tulang unta untuk dijadikan sop sebagai makanannya sehari-hari. Lebih mengenaskan lagi, ketika beliau mengajar di suatu pedesaan yang makmur (kaum Thaif), justru masyarakat menolak dakwah dan ajakannya, bahkan ia terusir dengan kaki terluka dan berdarah-darah karena lemparan batu.

Luka-luka yang dialaminya tak membuat Muhammad terfokus pada penderitaan hidup. Ia tak tergoda untuk menjadi “brutal”, apalagi sampai menghujat dan mengingkari keberadaan Tuhan. Sebab, betapa banyak orang yang dalam kondisi serupa, bahkan penderitaan yang dialaminya tak seberapa, lantas ia terjatuh menjadi frustasi dan putus asa, hingga memilih jalan kufur dan mengingkari nikmat hidup: “Saya tak minta untuk hidup di muka bumi ini. Kalau disuruh memilih, lebih baik kembalikan saja menjadi tanah,” demikian mereka menghujat dan menantang Tuhan.

Itulah jika manusia menjadi brutal karena sibuk terfokus pada penderitaan hidup. Padahal, jika manusia terlahir dalam keadaan buta maupun cacat sekalipun, bila ia mensyukuri nikmat hidup, Allah menjanjikan ia dalam keadaan baik dan tercukupi, bahkan dapat hidup bahagia dan bergelimang kenikmatan dalam kehidupan akhirat kelak. Bagaimana pun, manusia harus menerima dan mensyukuri pemberian Tuhan dalam kehidupan dunia yang sekejap mata ini, barulah nanti Tuhan akan membalasnya dengan kenikmatan sejati oleh karena kesabaran dan rasa syukurnya. Jika kehidupan dunia ini diibaratkan mampir sejenak untuk meminum seteguk air, alangkah bodohnya jika “mampir sejenak” itu dijadikan tujuan utama.

Pandangan Atheisme

Bagaimana seandainya kebahagiaan yang dijanjikan di akhirat tidak ada? Bagaimana jika alam surgawi itu ternyata hanya ilusi dan narasi agama belaka? Pertanyaan seperti itu lumrah dan manusiawi, banyak pula disuarakan Gen Z akhir-akhir ini. Meskipun, hal tersebut bersumber dari keraguan akan jaminan dan keadilan Allah, sehingga tergolong dalam kualitas iman yang sangat rendah. Namun celakanya, jika manusia justru menentang dan menantang apa-apa yang dijanjikan Tuhan, sehingga mereka bersikeras menciptakan “surga tandingan”, lalu berkat kecerdasannya memanipulasi dan menumpuk kekayaan dengan berbagai macam cara (halal maupun haram).

Padahal, kekayaan yang dihimpun leluhurnya adalah hasil eksploitasi manusia melalui penghisapan dan penjajahan berabad-abad dari bangsa-bangsa miskin oleh bangsa-bangsa kaya (industri maju), melalui surplus peradaban modern yang bersifat kolonialis dan imperialis. Kemudian, sebagian mereka seenaknya berpendapat, bahwa bangsa-bangsa miskin itu akibat dari ketidaksanggupannya untuk berbaris bersama-sama kaum modernis.

Hal itu tercermin jelas dalam perilaku kaum hedonis yang mengkristal dalam gaya hidup Jeffrey Epstein bersama kawan-kawan di tengah pulau terpencil yang seakan menjadi tandingan alam surgawi. Tetapi, bagaimana pun Epstein tidak relevan dengan kenyataan sejarah yang dijalani Laszlo Toth dalam film peraih Oscar “The Brutalist” (2025). Karena, kekayaan yang ditimbun tak lepas dari pola hidup yang diakibatkan sistem yang korup dan tidak adil. Dan dalam iklim ketidakadilan, hasil-hasil kekayaan yang ditimbun selalu saja bersumber dari iklim kekuasaan yang sewenang-wenang seperti itu.

Padahal, kekuasaan status quo dan harta yang dihimpun, yang dikira dapat melestarikan kesenangan hidup di hari tua, pada akhirnya hanyalah ilusi yang semu dan fatamorgana belaka.

Gambaran film The Brutalist tak terlepas dari kisah pengembaraan orang-orang Yahudi yang merasa dirinya hidup nelangsa oleh amukan zaman (holocaust), kemudian berhijrah ke Amerika Serikat, lalu membangun kota New York dengan kemegahan arsitekturnya. Laszlo yang lahir dari keluarga Yahudi taat, seakan mendapat pembenaran untuk menjadi atheis yang konsekuen, ketimbang kepercayaannya pada Tuhan justru menimbulkan iman yang anarkis, seolah-olah Tuhan bukanlah Pencipta Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Seakan Dia adalah Sesuatu Yang Egois, Yang Berhak menjatuhkan hukuman bagi manusia ke dalam jurang nasib tragis yang absurd, dan dipenuhi luka-luka sejarah yang tak termaafkan.

Mengingat pandangan tendensius itu, Nabi Ibrahim pernah ditegur oleh Tuhan, karena tak mau menyantuni seorang atheis (zindiq) yang memohon bantuan pangan kepadanya. Beliau mendesak sang atheis agar beriman dahulu pada Tuhan, jika ia menginginkan bantuan pangan darinya. Namun, kemudian Allah menegurnya: “Wahai Ibrahim, selama 70 tahun Aku tak henti-henti memberinya rizki, tetapi kenapa hanya membutuhkan segenggam gandum untuk makan sehari saja kau malah mengusirnya?”

Terkait dengan ini, Nabi Muhammad justru tak merasa bosan untuk terus menyuapi si nenek pengemis (Yahudi) agar ia tidak kelaparan di pojok pasar Madinah. Padahal, nenek tua itu tak henti-henti memaki Muhammad sebagai tukang sihir yang suka membohongi orang-orang melalui perkataannya. Sampai kemudian, si nenek Yahudi menyatakan keislamannya justru ketika Rasulullah sudah wafat. Kisah yang selaras ketika Nabi Isa menginjak seekor ular di tempat persembunyiannya, justru Rasulullah melarang sahabatnya (Abu Bakar) untuk merusak tanaman dan binatang di tempat persembunyian mereka (Goa Tsur), hingga keduanya terselamatkan berkat izin dan pertolongan Allah Swt.

“Jangan takut dan jangan bersedih hati, karena Allah selalu bersama kita,” demikian Nabi Muhammad menenangkan sahabatnya.

Pesan moral itu mengindikasikan agar manusia beriman tak perlu khawatir dalam soal keselamatan maupun perolehan rizki. Sebab, mereka yang kafir dan zalim saja diberi pemenuhan rizkinya (di dunia ini), apalagi bagi mereka yang teguh memegang prinsip keimanan dan ketakwaan.

Keunggulan Persia

Raja Herodes dan Ponsius Pilatus yang menghakimi Nabi Isa, memiliki frekuensi yang sama dengan kaum Zionis dan para pendukungnya (termasuk Trump). Mereka berambisi untuk memperluas wilayah jajahannya, hingga mengandung konsekuensi pembumihangusan warga pribumi (Palestina) demi terwujudnya Israel Raya yang menjadi obsesi mereka. Lalu, mengapa bangsa Israel yang diselamatkan Tuhan dari peristiwa Holocaust, kemudian bersikeras mendirikan holocaust-holocaust baru terhadap warga Palestina?

Tokoh Laszlo Toth dalam film The Brutalist, dapat disalahartikan oleh pihak penguasa yang tak bertanggungjawab, bahwa untuk meraih kemenangan, pada akhirnya hukum rimba belantara dapat disahkan sesuai dengan konstitusi dan kesepakatan internasional. Genosida yang terjadi di Palestina adalah kebejatan moral yang menjadi puncak agenda kaum modernis yang mengimpikan dunia hedonisme. Ini bertentangan dengan kodrat manusia beriman, sebagai tangan-tangan Tuhan untuk melestarikan bumi dan semesta raya ini. Jika berseberangan dengan rencana Tuhan, konsekuensinya akan berseberangan pula dengan cita-cita manusia beriman yang terus berjuang demi perbaikan moral dan kemaslahatan bersama.

Untuk itu, perang antara Iran melawan Amerika-Israel, tampaknya telah diprediksi oleh Rasulullah sejak 1400 tahun yang lalu, ketika turunnya firman Allah (surat Muhammad: 38), yang secara eksplisit menegaskan: seandainya bangsa-bangsa Arab menjadi bangsa yang tidak bersyukur, tak sanggup memperjuangkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan (membela agama Allah), kelak akan muncul dari bangsa lain yang akan teguh berjuang di jalan kebenaran.

Seketika itu, Abu Hurairah dan sahabat lainnya bertanya, “Bangsa manakah yang akan sanggup berjuang menegakkan prinsip keadilan itu, ya Rasulullah?”

Sambil menepuk pundak Salman Al-Farisi, seorang sahabat dari Persia (Iran), Rasulullah menjawab, bahwa bangsa dari laki-laki inilah yang akan sanggup menghadapinya. “Bahkan, jika pun kebenaran berada di ketinggian langit ketujuh, bangsa Persia akan sanggup menggapainya,” demikian tegas Rasulullah. (*)

Penulis adalah Peneliti program historical memory, penulis novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.