Transitus: Seni Merangkul Kefanaan sebagai Gerbang Keabadian

oleh -72 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Redegundis Kesa

Di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang sering kali terjebak dalam obsesi terhadap keabadian fisik, kekayaan materi, dan ketakutan akan akhir hayat, kisah wafat Santo Fransiskus Asisi pada 3 Oktober 1226, hadir bukan sekadar sebagai catatan sejarah religius, melainkan sebagai sebuah manifesto spiritual yang radikal.

Peristiwa yang dikenal dengan istilah Transitus ini menawarkan perspektif yang sangat kontras dengan narasi umum tentang kematian. Jika masyarakat kontemporer cenderung memandang kematian sebagai kegagalan medis atau tragedi absolut, Fransiskus melihatnya sebagai “penyeberangan” atau “peralihan” yang merupakan sebuah momen transisi yang penuh sukacita menuju kepenuhan hidup bersama Sang Pencipta.

Makna etimologis dari kata Transitus, yang berasal dari bahasa Latin berarti “menyeberang” atau “melintas”, memberikan kunci utama untuk memahami filosofi hidup dan mati sang santo. Dalam pandangan Fransiskus, kematian bukanlah tembok buntu yang memisahkan manusia dari eksistensinya, melainkan sebuah jembatan. Ia menyebut kematian sebagai “saudari maut”.

Personifikasi ini sangatlah penting; ia mengubah sosok kematian dari seorang musuh yang menakutkan menjadi seorang saudara yang akrab. Ketika kita memanggil seseorang sebagai saudara, rasa takut digantikan oleh keintiman dan kepercayaan. Fransiskus mengajarkan bahwa menyambut kematian dengan sukacita adalah bentuk tertinggi dari iman, karena itu berarti percaya sepenuhnya bahwa ada sesuatu yang lebih besar menanti di seberang sana.

Detik-detik terakhir kehidupan Fransiskus di Portiuncula, dekat Assisi, Italia, merupakan bentuk spiritual yang mendalam dan relevan hingga hari ini. Permintaannya untuk dibaringkan di lantai tanah tanpa alas dan ditaburi abu adalah pernyataan teologis yang keras. Di era di mana status sosial sering ditentukan oleh kepemilikan atau fasilitas perawatan kesehatan terakhir,

Fransiskus memilih kemiskinan total. Ia ingin mati sebagaimana ia hidup: kosong di hadapan Tuhan, tanpa kepemilikan duniawi yang membelenggu jiwanya. Tindakan ini adalah peneladanan Kristus yang paling otentik. Ia mengingatkan kita bahwa pada akhirnya, kita tidak membawa apa-apa keluar dari dunia ini. Satu-satunya harta yang tetap melekat adalah kasih dan kerendahan hati.

Selain aspek kemiskinan, momen pembacaan Injil Yohanes tentang Perjamuan Malam Terakhir dan Sengsara Yesus menunjukkan fokus Fransiskus yang tak tergoyahkan. Di ambang kematian, ketika rasa sakit fisik mungkin mencapai puncaknya, ia memilih untuk menyatukan penderitaannya dengan penderitaan Kristus. Ini adalah bentuk tindakan solidaritas spiritual. Dengan mendengarkan kisah pengorbanan Yesus, Fransiskus menegaskan bahwa hidupnya adalah kelanjutan dari misi Kristus di bumi. Ia tidak meninggal sebagai individu yang terisolasi, tetapi sebagai bagian dari tubuh mistik Kristus yang sedang menyelesaikan tugasnya.

Puncak dari Transitus ini adalah berkat terakhir yang ia berikan. Dengan merentangkan tangannya membentuk salib, Fransiskus memberkati seluruh pengikutnya, baik yang hadir secara fisik maupun yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Tindakan ini melampaui batas ruang dan waktu. Itu adalah tanda bahwa komunitas spiritual tidak dibatasi oleh kehadiran fisik, tetapi oleh ikatan cinta dan misi bersama. Berkat tersebut menjadi warisan abadi bagi Ordo Fransiskan dan semua orang yang terinspirasi oleh jalannya, mengingatkan kita bahwa kepemimpinan sejati berakhir dengan pelayanan dan pemberkatan, bukan dengan takaran kekuasaan.

Dalam konteks media sosial dan kehidupan digital saat ini, di mana kita sering kali sibuk membangun citra diri yang sempurna dan abadi secara virtual, refleksi atas Transitus Santo Fransiskus menjadi obat penawar yang menyegarkan. Ia mengajak kita untuk berhenti sejenak dan bertanya: Bagaimana kita mempersiapkan “penyeberangan” kita?

Apakah kita masih terikat kuat pada hal-hal fana sehingga takut untuk melepaskannya? Ataukah kita telah belajar memandang kematian sebagai sahabat yang akan mengantarkan kita pulang? Peringatan pada setiap tanggal 3 Oktober bukan sekadar ritual nostalgia. Ia adalah panggilan untuk hidup secara autentik setiap hari. Fransiskus mengajarkan bahwa cara kita mati mencerminkan cara kita hidup. Jika kita ingin mati dalam damai dan sukacita seperti “saudari maut” yang disambut hangat, maka kita harus hidup dalam kebebasan dari belenggu materialisme dan kekakuan ego.

Kesimpulannya, Transitus adalah undangan untuk mengubah narasi kematian dari sesuatu yang menakutkan menjadi sesuatu yang suci. Ia mengingatkan kita bahwa hidup ini hanyalah sementara, sebuah singgahan sebelum kepulangan sejati. Seperti Santo Fransiskus yang menyambut “saudari maut” dengan nyanyian puji-pujian, kita pun diajak untuk menjalani setiap detik kehidupan ini dengan kesadaran penuh bahwa kita sedang dalam perjalanan peralihan.

Mari kita jadikan momen Transitus ini sebagai inspirasi untuk merangkul kesederhanaan, merawat hubungan dengan sesama dan alam, serta mempersiapkan hati untuk pertemuan yang abadi dengan Sang Pencipta. Karena pada akhirnya, hidup bukanlah tentang berapa lama kita bertahan, tetapi tentang seberapa dalam kita mencintai dan seberapa siap kita untuk menyeberang serta beralih dari kehidupan ini. Selamat memperingati Transitus Santo Fransiskus Asisi; semoga kita semua belajar bahwa kematian bukanlah akhir, melainkan awal dari pertemuan yang sesungguhnya.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.