Logika Berpikir Habib Husein Jafar 

oleh -1875 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Hafis Azhari

Masih banyak kekurangan perihal data-data yang terhimpun untuk proses penulisan novel  Pikiran Orang Indonesia, menjelang penerbitannya di tahun 2014 lalu. Nama-nama yang bersinggungan dengan pelaku sejarah, sebagian masih berproses, membentuk, hingga menjadi dirinya sendiri. Tidak menutup kemungkinan tokoh yang saya tampilkan sebagai “pahlawan”, kelak mengalami perubahan secara substantif. Bahkan, figur yang saya tampilkan selaku “martir” tetap berproses, hingga kebenaran sesungguhnya mutlak berada dalam penilaian Tuhan.

Memang tokoh Haris, saya gambarkan sebagai calon mahasiswa yang gagal masuk Sekolah Tinggi Filsafat (STF Driyarkara) Jakarta. Namun, setelah lulus dari pesantren Daar el-Qolam (rumah pena) di Tangerang, saya kemudian melanjutkan pada jurusan Filsafat di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Jadi, di jurusan Filsafat UIN, saya termasuk kakak kelas dari cendekiawan muslim Habib Husein Jafar, seorang tokoh muda yang memiliki garis keturunan dari Rasulullah.

Menurut pengakuan Habib Jafar, ia telah “gagal” menjadi ahlul kutub, namun akhir-akhir ini ia terbilang sukses menjadi ahlul YouTube.

Kepribadian Habib Jafar memang terbentuk dari karakter khas “anak Filsafat” yang cenderung nyeleneh dalam menjabarkan prinsip-prinsip ajaran Islam. Saya membayangkan masa-masa kuliah sebagai kakak kelas beberapa dekade lalu, hampir separuh matakuliah jurusan Filsafat memang disampaikan bukan secara monolog, melainkan dalam bentuk debat dan diskusi. Mahasiswa dibagi-bagi per kelompok, masing-masing bertugas membuat makalah, berkumpul untuk membangun visi yang sama. Keesokannya, kami berjumpa dengan kelompok lain di ruang kelas, untuk memperkuat argumen masing-masing.

Fungsi para dosen hanyalah sebagai wasit, bahkan pembelajar dari pemikiran mahasiswa yang beragam, juga sebagai penengah jika forum diskusi memuncak pada kegaduhan.

Sebagai pemikir dan pendakwah muda, Habib Jafar sudah cukup matang berhadapan dengan kemajemukan itu. Karenanya, siapapun lawan tandingnya dalam berdialog di setiap acara podcast maupun talkshow, ia sanggup menghadapinya dengan tenang dan penuh rendah hati. Dia bahkan menegaskan, justru dengan pola semacam itu, pesan-pesan keislaman dapat tersampaikan dengan sebaik-baiknya.

Terkait dengan itu, bapak bangsa Soekarno pernah berpesan agar orang Islam hendaknya menjadi Muslim yang baik, orang Kristen menjadi penganut Kristen yang baik, begitupun dengan Hindu, Budha, Kong Hu Cu dan seterusnya. Para pembawa risalah kenabian memiliki kapasitas untuk menyampaikan ajarannya dengan rendah-hati dan kesantunan. Baik itu Confuscius, Budha Gautama, Yesus Kristus, kemudian bermuara pada nabi akhir zaman, Muhammad Saw. Mereka dapat digolongkan sebagai nabi, tetapi dapat pula disebut filosof, pemikir, mistikus, spiritualis dan seterusnya. Pencarian Muhammad untuk menemukan tempat menyepi dan berkhalwat (Gua Hira), sejatinya dialami pula oleh orang-orang bijak terdahulu dari para nabi, rasul, maupun pemikir dan filosof.

Habib Jafar, di usianya yang masih belia (30-an tahun) boleh jadi pernah melewati fase-fase kesendirian itu. Sebab, dalam kesunyian, bahkan di penjara bertahun-tahun sekali pun, tidak jarang para pemikir dan penulis telah melahirkan karya-karya besar yang kelak mengubah sejarah budaya dan peradaban dunia. Bukankah satu-satunya orang Indonesia yang beberapa kali meraih nominasi nobel, justru karya-karyanya terlahir dari penjara, bahkan dari pengucilan dan pembuangan belasan tahun di Pulau Buru?

Membedah pemikiran Habib Jafar, memang tak bisa dilepaskan dari tabiat dan karakteristiknya sebagai akademisi dan mahasiswa Filsafat. Orang filsafat tak merasa heran ketika Habib Jafar berseloroh, bahwa para nabi terdahulu (sebelum Muhammad) juga sama-sama sebagai seorang “muslim”. Sebab, seseorang itu dikatakan muslim atau bukan, ber-Islam dengan baik atau tidak, yang dinilai bukanlah sekadar pandangan kasat-mata, melainkan tercermin dari ucapan dan perilakunya, yang sekaligus mencerminkan isi hatinya.

Jadi, sangat mungkin seseorang beragama Islam, namun berkarakter non-islami. Tidak menutup kemungkinan juga, seorang non-muslim, atau bahkan agnostik, namun dia bisa berperilaku islami. Di dalam Alquran jelas-jelas dipersoalkan, apakah sama orang yang berbuat baik, dengan orang yang merasa dirinya berbuat baik? Nampaknya, ilmu forensik emosi, untuk menerawang seseorang itu baik atau pura-pura baik, telah disinyalir jauh-jauh hari di dalam teks-teks Alquran.

Mengapa banyak orang mengaku-ngaku beragama, namun perilakunya anarkis dan radikalis? Baik orang-orang yang bermazhab dalam Islam, maupun bersekte-sekte dalam Kristiani? Hal tersebut lantaran mereka hanya meyakini sebagian dari ajaran agamanya, lalu “yang sedikit” itu seakan mewakili kesemuanya secara generalistik. Dalam istilah Jawa dikenal “gebyah uyah” atau simplifikasi kesimpulan, atau analisis pukul-rata dan seterusnya. Tentu dasarnya adalah sedikit pengetahuan atau kebodohan, ditambah perilaku ujub dan sombong, bahwa ilmu yang hanya setetes di lautan itu seolah-olah telah mewakili seisi samudera luas.

Menurut Habib Jafar, orang-orang yang berkelakuan anarkis itu, tak lain adalah mereka yang malas belajar dan malas berpikir. Untuk itu, mereka merasa kesulitan mendapatkan kebulatan yang selesai, dari ilmu yang seharusnya ditekuni dan digelutinya. Di sisi lain, ia pun tentu meyakini apa yang dinyatakan Rasulullah bahwa, ketika Allah menghendaki kebaikan pada diri seseorang, niscaya Dia akan membuatnya cerdas dalam memahami urusan-urusan agamanya.

Ketika ditanya, mengapa orang tuanya memasukkan Jafar dan anak-anak lainnya ke jurusan Filsafat? Dengan tenang dan kalem, dia menjawab, “Filsafat itu bisa membuat orang berpikir logis dan rasional. Orang cerdas itu bisa mandiri dan independen. Sedangkan orang-orang bodoh, bukan saja merepotkan orang tua, tetapi juga merepotkan bangsa dan negara.”

Ungkapan itu sehaluan dengan pemimpin spiritualis Iran, Ayatullah Khomeini, yang pernah mengungkap watak orang-orang bodoh di hadapan rakyat Iran. Baginya, orang bodoh itu dapat menyakiti orang lain tanpa menyadari dampak dari perbuatannya. “Orang bodoh itu selalu mengulang-ulang kesalahan, tanpa ada kemauan untuk meneliti sumber kesalahannya. Mereka dengan mudah dapat diperalat orang lain untuk melakukan tindakan anarki dan kerusakan,” demikian tegas Khomeini.

Secara implisit, pernyataan itu mengandung esensi yang sama ketika Habib Jafar berfilsafat, bahwa revolusi mental tak akan menghasilkan apa-apa jika masyarakat Indonesia masih terbenam dalam kebodohan. Sementara itu, dalam ending film “Oppenheimer” karya sutradara Christopher Nolan (2023) terjadi dialog antara Albert Einstein dan Oppenheimer, yang menyiratkan makna bahwa ambisi orang baik itu ada batasnya. Sebab, tidak setiap yang terjangkau oleh kekuatan otak manusia, lantas boleh dilakukan sekehendak hatinya.

Rasulullah pernah memberi nasihat kepada para sahabat, perihal orang-orang yang ilmunya setengah-setengah. “Akan ada dari umatku segolongan orang yang keluar dari rel-rel keislaman, secepat keluarnya anak panah dari busurnya.” Orang-orang itu memang melakukan ajaran-ajaran Islam bahkan rajin beribadah, namun kualitas ilmunya tidak mumpuni. Sehaluan dengan pernyataan Soekarno, yang pernah menegaskan pentingnya menangkap api Islam (massage Islam), dan bukan sekadar abu-abunya saja. Kalau api Islam sudah tertancap dalam kalbu, maka orang Indonesia tidak sepantasnya mengabaikan solidaritas sesama makhluk, solidaritas kemanusiaan dan kebangsaan (ukhuwah makhluqiyah, insaniyah dan wathaniyah).

Islam akan menjadi rahmatan lil alamin, jika seorang muslim sudah menjalani fase-fase keluhuran akhlak dan budi pekerti dengan baik. Tapi, kalau suatu bangsa tidak terdidik agar memiliki kepekaan dan kepedulian pada lingkungan, tidak menghargai nilai-nilai kemanusiaan, maka bicara ukhuwah islamiyah hanya akan menjadi hal yang utopis semata. Dengan demikian, bangsa ini masih jauh panggang dari api untuk bicara dalam kerangka “Indonesia Emas”.

Jadi, tidak pantas seorang muslim menjadi panutan, jika dia cuma menggembar-gemborkan ukhuwah islamiyah, sementara sikapnya terhadap manusia lain (liyan) bahkan terhadap binatang dan tumbuhan berlaku sewenang-wenang.

Pernah seorang kafir zindiq (atheis) yang sudah tua, mendatangi Nabi Ibrahim karena merasa lapar. Sang Nabi akan membantu memberinya makanan dengan syarat ia harus beriman dulu dan percaya pada Allah.

“Ibrahim,” kata orang tua itu, “saya tidak mau keyakinan saya diganti dengan segenggam gandum yang kau berikan.”

“Kalau kau tak menginginkan, pergilah sana,” ujar Ibrahim.

Setelah orang tua itu pergi, Ibrahim dinilai kurang menghargai harkat dan martabat manusia, sehingga Tuhan menegurnya, “Wahai Ibrahim, orang tua itu sudah tua renta. Kenapa dia masih hidup hingga detik ini? Hal itu dikarenakan Aku telah memberinya makan tiap hari… lalu kenapa kamu tolak kehadirannya?”

Nabi Ibrahim kemudian tertunduk malu, lalu memohon ampun atas kesalahan dan kekhilafannya.

Bagi Habib Jafar, tradisi Kristiani di Eropa sebelum era Aufklaerung (pencerahan), yang melahirkan sekte-sekte anarkis, tidak menutup kemungkinan dihidupkan pula di kalangan orang-orang bodoh yang menganut Islam di negeri ini. Sebab, bagaimanapun sumber radikalisme itu adalah kebodohan. “Biarpun dia menganut Islam atau agama apapun, orang-orang bodoh itu tetap saja merepotkan keluarga maupun negara-bangsa,” tegas Habib Jafar.

Dalam salah satu acara Podcast di kanal YouTube, dengan lugas Habib Jafar menyatakan, bahwa di tangan orang-orang bodoh, terlebih mereka yang mengaku “ulama” namun karakternya tidak mencerminkan akhlak Rasulullah, sesungguhnya bukan hanya menodai ulama itu sendiri, melainkan juga menodai institusi ulama, mencemarkan nama baik orang tua dan leluhurnya, nabinya, bahkan merusak citra agama Islam itu sendiri.

“Tapi, Habib,” seseorang angkat bicara, “apakah mungkin seorang ulama, kiai, atau pendeta melakukan kebodohan?”

“Justru yang paling merepotkan kalau ulama itu bodoh,” sebagian hadirin nampak merasa gusar. Namun, mereka diam seribu basa ketika Habib menjawab dengan senyum filsafatnya, “Sebab, ulama itu mestinya kan pintar dan cerdas. Namanya juga ulama, asal katanya alim, yakni orang yang berilmu pengetahuan. Tapi kalau ulama itu ilmunya setengah-setengah, namun menyampaikan ceramah dengan nafsu dan kesombongan, coba bayangkan, berapa ribu orang yang kemudian terpengaruh dengan orasi-orasinya…”

“Padahal, orang berilmu itu mestinya menerangi banyak orang.”

“Ya, bahkan dalam hadis riwayat Tirmidzi, orang berilmu itu derajatnya lebih tinggi dari ahli ibadah, bagaikan terangnya bulan purnama yang melebihi bintang-bintang di angkasa. Tapi, kadang kita menjumpai ulama atau mubalig yang  bernafsu membalas kritikan, bahkan berbangga-diri dengan segala pujian. Hal itu mencerminkan, bahwa kualitas ketakwaannya masih rendah…”

“Jadi, banyak ulama yang merepotkan negara ya, Bib?” celetuk seorang wartawan berhaluan liberal.

Habib Jafar tersenyum. Seketika ia membalasnya dengan penuh canda-tawa, “Anda tak usah memancing-mancing lalu memotong dan mengedit ucapan saya dong….” []

Penulis adalah Penulis novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.