Teknologi: Negasi Terhadap Otentisitas Diri

oleh -1045 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Mikhael Lobio Amin

Dewasa ini, laju perkembangan teknologi kian masif, merembes pada setiap koridor kehidupan manusia. Dalam dunia yang dalam bahasa Anthony Giddens sebagai runaway world-dunia tunggang langgang ini (segala sesuatu bergerak dan berakselerasi dengan cepat), hampir pasti manusia turut terseret dan mengalir dalam arus yang deras itu. Sampai pada titik ini, amatlah realistis apa yang menjadi slogan klasik ”segala sesuatu berubah, kecuali perubahan itu sendiri”.

Dalam kemajuan itu, manusia menjadi pemain yang mendominasi setiap posisi dalam kelajuan itu. Meneropong realitas yang ada, zaman sekarang ini sudah cukup maju. Sadar atau tidak, kemajuan yang kian menggelora itu membawa serta pengaruhnya terhadap keberlangsungan posisi setiap manusia dalam proses perkembangannya. Secara gamblang, identitas manusia pun turut terseret dalam arus kemajuan itu, serentak bersamaan manusia yang sama juga berusaha mencari dan dalam kesadaran berupaya mengenal identitas dirinya sendiri.

Salah satu produk empuk dan apik dari perkembangan yang ada adalah teknologi yang kian canggih. Realitas kemajuan teknologi itu terpampang jelas dan terbentang dalam narasi hidup setiap manusia. Ia merupakan realitas yang menjadi problem terbesar yang digeluti manusia sebagai ens rationale, makhluk rasional. Antusiasme terhadap perkembangan dan kemajuan bukan hanya menghiasi kehdupan zaman ini, melainkan sudah merupakan semacam kelumrahan-kewajaran yang setiap hari dirayakan, sehingga realitas hidup manusia terlihat mengasyikkan, tidak merepotkan, penuh harapan dan bahkan dianggap menjanjikan.

Padahal, pada saat yang sama tantangan adalah batu sandungan yang sedang bermain di atas permukaan. Dalam koridor teknologi itu, masing-masing manusia merasa tertantang untuk mencari posisi di mana dia bisa berperan, bermain dan menemukan makna hidupnya, meski dalam keganjilan. Kehadiran teknologi yang banyak kali menimbulkan ketimpangan amat berpotensi menciptakan dunia hiruk pikuk (noisy world).

Perkembangan teknologi digital telah memporakporandakkan eksistensi manusia: hidup, kerja, dan interaksi. Dalam banyak kesempatan teknologi diagung-agungkan sebagai simbol kemajuan yang membawa kemudahan serta efisiensi. Namun di balik keanggunan tersebut, muncul pertanyaan (keresahan) yang semakin relevan: apakah dalam dunia yang cair, tunggang langgang dan hiruk pikuk itu wajah teknologi justru perlahan menegasikan otentisitas identitas diri manusia?

Identitas diri pada dasarnya terbentuk melalui pengalaman nyata setiap manusia, refleksi atas sebuah realitas, serta relasi tatap muka dengan lingkungan sosial. Melalui momen seperti tersebut, seseorang mampu mengenal dan memahami identitas dirinya, apa yang ia yakini, dan bagaimana ia memaknai eksistensinya dalam ruang dan waktu. Akan tetapi, di era digital, pembentukan identitas tidak lagi sepenuhnya berasal dari proses internal. Teknologi, khususnya media sosial dan sistem algoritma, ikut mengambil peran besar dalam menentukan bagaimana seseorang melihat ke kedalaman dirinya sendiri.

Ruang digital memungkinkan setiap orang untuk membangun citra diri yang palsu. Ambil misal foto yang dipilih, kata-kata yang dituliskan, hingga aktivitas yang ditampilkan sering kali merupakan hasil seleksi yang disengaja. Identitas kemudian tidak lagi sekadar tentang siapa seseorang sebenarnya, melainkan tentang bagaimana ia ingin dilihat oleh orang lain. Dalam kondisi ini, identitas diri berpotensi berubah menjadi representasi yang dikonstruksi, bukan refleksi yang autentik. Maka yang ada bukanlah keaslian subyek tetapi pencitraan, sebab subyek yang sama telah membunuh mati realitas.

Lebih jauh lagi, algoritma digital secara tidak langsung memengaruhi preferensi, selera, bahkan cara berpikir manusia. Rekomendasi konten, berita, dan hiburan yang muncul di layar kita membentuk lingkungan informasi yang sangat personal, namun juga terbatas. Tanpa disadari, individu sering kali bergerak dalam ruang yang telah disusun oleh sistem teknologi. Akibatnya, pilihan yang terasa personal sebenarnya telah diarahkan oleh logika algoritmik.

Di sisi lain, teknologi juga menciptakan tekanan sosial yang baru. Standar kehidupan yang terlihat di ruang digital sering kali tidak realistis: kesuksesan yang dipamerkan, gaya hidup yang tampak sempurna, dan kebahagiaan yang selalu ditampilkan. Ketika seseorang terus-menerus membandingkan dirinya dengan representasi tersebut, identitas diri dapat mengalami krisis. Individu mulai mempertanyakan nilai dirinya berdasarkan ukuran-ukuran yang dibentuk oleh ruang digital. Pada gilirannya orang tidak lagi berselera melakukan sesuatu karena kebutuhan atau kerja, tetapi lebih kepada gengsi dan demi pengakuan public. Pada saat yang sama identitas diri mengalami guncangan hebat, bahkan tiba pada titik disorientasi diri.

Hal ini menunjukkan bahwa teknologi yang dianggap mengagumkan dan dapat meningkatkan kualitas hidup manusia tidak hanya menjadi alat bantu dalam kehidupan manusia, tetapi juga memiliki kekuatan untuk membentuk bahkan menggeser cara manusia memahami dirinya sendiri. Ketika identitas semakin bergantung pada pengakuan digital, ada risiko bahwa manusia perlahan kehilangan otonomi dalam mendefinisikan dirinya. Padahal sejatinya identitas diri itu terbentuk dari satuan-satuan aktual, sebagaimana digaungkan Alfred Whitehead.

Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk mengembangkan kesadaran kritis terhadap penggunaan teknologi. Teknologi seharusnya menjadi sarana yang memperkaya pengalaman manusia, bukan menggantikan proses refleksi yang membentuk identitas diri. Dengan menjaga jarak reflektif terhadap dunia digital, manusia dapat tetap mempertahankan keaslian dirinya di tengah arus perkembangan teknologi yang terus bergerak cepat.

Langkah solutif dalam menghadapi potensi teknologi yang menegasikan identitas diri adalah dengan membangun kesadaran digital serta menggunakan teknologi secara lebih reflektif dan kritis. Individu perlu membatasi ketergantungan pada perangkat digital dengan mengatur waktu penggunaan, sehingga kehidupan tidak sepenuhnya dikendalikan oleh layar dan notifikasi.

Selain itu, penting untuk memperkuat proses refleksi diri melalui pengalaman nyata, seperti membaca, menulis, atau berdialog dengan orang lain, agar identitas terbentuk dari pemahaman diri yang autentik. Interaksi tatap muka juga perlu diprioritaskan guna menjaga kedalaman relasi sosial yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh komunikasi digital. Dengan demikian, teknologi tetap dapat dimanfaatkan sebagai alat yang membantu kehidupan manusia, tanpa mengambil alih peran manusia dalam mendefinisikan identitas dirinya.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.