Oleh: Remigius Taek
Akhir-akhir ini sebagian dari kita mungkin merasa heran dengan perubahan cuaca yang terjadi seperti panas yang berlebihan lalu tiba-tiba disusul dengan turunnya hujan atau hujan yang turun membasahi daerah tropis di bulan juni. Perubahan-perubahan alam yang terjadi tidak dapat dilepaspisahkan dari kerusakan alam yang disebabkan oleh manusia dan perkembangan industri serta tekologi dewasa ini. Dalam sejarah peradaban manusia, teknologi merupakan aspek penting yang menandai perkembangan kecerdasan manusia sekaligus penantang batas-batas alam. Mulai dari batu yang diasah menjadi kapak sampai pada kecerdasan buatan yang hari ini kita taklukkan untuk menganalisis iklim, teknologi menggambarkan dorongan manusia untuk menguasai, mempermudah, dan memprediksi. Di satu sisi, teknologi dipuja sebagai alat utama kemajuan dan emansipasi manusia dari batas-batas alam; di sisi lain, ekologi hadir sebagai pengingat bahwa kehidupan tidak bisa dilepaskan dari keterbatasan dan keberlanjutan sistem alamiah. Kita tahu bahwa saat ini kita sedang menghadapi masalah krisis ekologi global. Berhadapan dengan itu kita bertanya, paradigma macam apa yang sedang kita pelihara melalui teknologi? Apakah kita masih berada dalam logika “kuasa atas alam”, ataukah kita perlu beralih menuju paradigma “merawat bersama alam”?
Pada masa pencerahan filsafat barat menempatkan manusia sebagai subjek (antroposentris)-subjek rasional yang dapat menguasai semua termasuk alam. Francis Bacon, tokoh penting dalam fondasi metode ilmiah modern, menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi adalah sarana untuk “menaklukkan alam.” Alam, dalam kerangka ini, bukanlah mitra atau organisme hidup, melainkan sesuatu yang harus ditundukkan, dieksploitasi, dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan manusia. Hal ini kemudian berlanjut pada massa revolusi industry yakni penemuan mesin-mesin yang menggantikan tenaga manusia dan alam. Produksi masal kemudian mengabaikan keseimbangan ekologis. Teknologi kemudian dilihat sebagai alat yang mendominasi. Fenomena ini terus berlanjut dalam kapitalisme teknologi saat ini di mana ekspoitasi alam yang dilakukan secara besar-besaran untuk menjamin kebutuhan ekonomi manusia yang tiada henti. Maka ada benarnya bunyi sebuah kalimat yang mengatakan bahwa ketika tekonologi berkembangan pesat, di situ pula kerusakan ekologis mengikutinya.
Berhadapan dengan problem tersebut, muncul gerakan ekoteknologi yakni pengembangan teknologi yang secara eksplisit ditujukan untuk merespon krisis ekologis. Kehadiran teknologi harus ramah lingkungan seperti mengahadirkan energi terbarukan, pertanian presis, teknologi daur ulang, dan aspek lain yang memperlihatkan cinta akan lingkungan alam. Akan tetapi kehadiran teknologi hijau juga masih saja menuai kritik. Sebagian orang masih menyoroti bagaimana “green technology” justru melanggengkan pola pikir lama dengan bungkus baru. Dalam banyak kasus, solusi hijau tetap beroperasi dalam kerangka pasar dan pertumbuhan ekonomi yang eksploitatif. Produksi panel surya dan baterai lithium, misalnya, masih membutuhkan pertambangan besar-besaran dengan dampak ekologis dan sosial yang signifikan. Di sinilah muncul istilah “greenwashing teknologi” yakni praktik memberi citra ramah lingkungan pada teknologi yang sesungguhnya masih beroperasi dalam paradigma lama. Artinya, meskipun teknologi itu tampak “hijau” di permukaan, ia tidak mengubah relasi kita yang eksploitatif terhadap alam. Bahkan bisa jadi teknologi tersebut hanya menunda kehancuran, bukan mencegahnya secara struktural.
Di tengah kebuntuan akan kehadiran teknologi yang terus merusak alam, muncul satu wacana yang mengusulkan perubahan paradigma dari kuasa atas alam menuju merawat alam. Paradigma merawat alam ini mengajak kita untuk melihat dunia bukan sebagai objek, melainkan sebagai relasi. Dalam paradigma merawat, teknologi tidak dilihat sebagai alat dominasi, tetapi sebagai mitra yang membantu manusia menjaga keseimbangan hidup bersama alam. Merawat berarti bersikap hormat terhadap kehidupan dalam segala bentuknya, menyadari keterbatasan, dan menempatkan keberlanjutan sebagai prinsip utama inovasi. Ini bukan soal kembali ke masa lalu atau menolak teknologi, tetapi tentang mengubah cara kita merancang, menggunakan, dan menilai teknologi. Dalam filsafat feminis dan ekofenomenologi, misalnya, Carol Gilligan dan Val Plumwood mengusulkan pendekatan etika berbasis relasi, bukan dominasi. Mereka menekankan pentingnya ethics of care dalam hubungan manusia dengan alam: bukan sebagai entitas yang harus dikendalikan, melainkan sebagai relasi timbal balik yang menuntut perhatian, empati, dan tanggung jawab. Paulo Freire dalam konteks pedagogi juga menyebut bahwa teknologi tidak bisa netral; ia harus berpihak pada pembebasan dan keberlanjutan hidup. Maka, pertanyaannya bukan sekadar “teknologi apa yang kita gunakan”, tetapi “untuk siapa dan dalam kerangka nilai apa teknologi itu dikembangkan”. Dari sisi spiritualitas, ensiklik Laudato Si’ karya Paus Fransiskus menjadi dokumen penting yang menyerukan pertobatan ekologis global. Ia mengajak dunia untuk keluar dari paradigma antroposentris dan memasuki spiritualitas ekologis: melihat bumi sebagai “rumah bersama” (our common home) yang harus dirawat, bukan ditaklukkan. Ia menegaskan bahwa krisis ekologis dan krisis sosial tidak bisa dipisahkan—dan teknologi harus melayani keadilan ekologis dan kesejahteraan bersama, bukan kepentingan pasar semata.
Dalam konteks Indonesia, persoalan ini menjadi sangat relevan mengingat negeri ini kaya akan sumber daya alam, namun juga rentan terhadap eksploitasi besar-besaran yang didorong oleh kepentingan industri dan politik pembangunan. Pembukaan lahan secara masif, penambangan tanpa kendali, serta pembangunan infrastruktur yang mengabaikan daya dukung lingkungan menjadi bukti bahwa teknologi kerap digunakan bukan untuk merawat, melainkan menguasai. Ironisnya, kerusakan ekologi ini paling dahulu dirasakan oleh masyarakat adat dan kelompok marginal yang selama ini hidup selaras dengan alam. Mereka menjadi korban dari logika pembangunan yang tidak partisipatif dan tidak berkelanjutan. Maka, transisi menuju paradigma merawat bukan hanya tuntutan ekologis, tetapi juga tuntutan keadilan sosial. Teknologi yang berorientasi pada keberlanjutan harus tumbuh dari dialog dengan kearifan lokal, partisipasi komunitas, dan visi pembangunan yang holistik yang menghargai hidup, bukan sekadar mengejar laba.
Pertarungan paradigma antara teknologi sebagai kuasa dan teknologi sebagai seni merawat bukan sekadar isu teknis, tetapi persoalan filosofis, moral, dan spiritual. Kita sedang berada di titik kritis sejarah, di mana pilihan paradigma menentukan masa depan planet ini. Apakah kita akan terus memuja teknologi sebagai dewa kemajuan yang menaklukkan alam demi kemakmuran jangka pendek? Atau kita mulai menata ulang relasi kita dengan teknologi agar menjadi lebih membumi, adil, dan berkelanjutan? Membangun masa depan ekologis bukanlah tentang menolak teknologi, tetapi mengarahkannya dalam nilai-nilai yang benar. Kita perlu imajinasi baru yang melihat teknologi sebagai bagian dari seni merawat bumi, bukan menguasainya. Imajinasi ini hanya mungkin lahir jika kita berani keluar dari ego antroposentris, dan membuka ruang bagi kebijaksanaan bumi yang telah lama kita abaikan.
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang







