Smartphone dan Hedonisme Bentham di Era Digital

oleh -207 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Didimus Wungo

Di tengah derasnya perkembangan teknologi, Smartphone telah menjadi bagian yang hampir mustahil dipisahkan dari kehidupan manusia modern. Ia tidak lagi hadir hanya sebatas alat komunikasi, tetapi telah berubah menjadi ruang hidup baru tempat manusia mencari hiburan, pengakuan publik, kenyamanan, dan kebahagiaan. Di Nusa Tenggara Timur (NTT), pemandangan orang yang lebih sibuk menatap layar dibandingkan berbicara dengan orang lain di sekitarnya bukan lagi hal yang mengherankan. Di ruang kelas, tempat ibadat, bahkan meja makan keluarga, Smartphone perlahan mengambil alih perhatian manusia.
Fenomena ini terlihat jelas di kalangan generasi muda. Banyak pelajar lebih aktif di media sosial dibanding dalam ruang diskusi akademik.

Tidak sedikit yang rela begadang demi mengikuti trend digital, namun kesulitan bertahan membaca beberapa halaman buku. Dalam banyak situasi, ukuran pergaulan mulai ditentukan oleh popularitas media sosial, jumlah pengikut, dan kemampuan mengikuti arus digital yang sedang viral. Kehidupan perlahan bergerak menuju budaya yang instan, di mana perhatian publik menjadi sesuatu yang lebih banyak dicari daripada kualitas diri.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa Smartphone sedang membentuk cara baru manusia memaknai kebahagiaan. Setiap notifikasi yang muncul memberi sensasi kecil yang menyenangkan. Setiap like, komentar, dan jumlah penonton menciptakan rasa puas yang sulit dijelaskan. Banyak orang merasa gelisah ketika beberapa jam tidak memegang telepon genggamnya. Sebaliknya, mereka merasa tenang ketika tetap terhubung dengan media sosial. Pada titik inilah teknologi mulai mempengaruhi kesadaran manusia secara lebih dalam, bukan hanya pada kebiasaan hidup, tetapi juga pada cara manusia menilai dirinya sendiri.

Melihat kondisi ini, pemikiran Jeremy Bentham seorang filsuf utilitarian asal Inggris menemukan relevansinya yang cukup kuat. Dalam pandangan hedonismenya, Bentham menempatkan kesenangan sebagai dasar utama tindakan manusia. Sesuatu dianggap baik apabila mampu menghasilkan kenikmatan dan mengurangi penderitaan. Gagasan tersebut pada awalnya lahir sebagai cara untuk melihat manfaat suatu tindakan bagi kehidupan bersama. Akan tetapi di era digital sekarang, prinsip itu berkembang menjadi budaya sosial yang sangat luas.

Smartphone telah menciptakan ruang dimana manusia terus mengejar kesenangan yang cepat tanpa banyak refleksi moral. Media sosial bekerja dengan sistem yang mendorong manusia untuk terus mencari perhatian dan kepuasan emosional. Semakin banyak respon yang diterima, semakin besar pula rasa puas yang muncul. Dalam keadaan ini, manusia perlahan terbiasa menilai hidup berdasarkan sensasi sesaat. Akibatnya, pertimbangan moral seringkali dikalahkan oleh kebutuhan untuk mendapatkan hiburan dan pengakuan sosial. Banyak diantara kita menyebarkan informasi tanpa memeriksa kebenaran demi mendapatkan perhatian publik, banyak pula yang merekam penderitaan orang lain untuk dijadikan sebuah konten digital. Hal ini menunjukkan bahwa ruang digital tidak selalu memperkuat nilai kemanusiaan. Dalam banyak kasus, ia justru lebih banyak melahirkan Krisis kepekaan sosial.

Di NTT, persoalan ini berkembang menjadi krisis sosial yang cukup serius karena masyarakat NTT sejak lama bertumpu pada budaya relasi dan kehidupan bersama. Tradisi duduk bercerita dan mendengarkan nasihat orang tua perlahan mengalami pergeseran sejak ruang digital mengambil sebagian besar perhatian manusia. Kehadiran Smartphone menghadirkan ironi baru dalam kehidupan masyarakat. Banyak orang tinggal dalam satu atap yang sama, namun hidup dalam dunia yang berbeda-beda. Percakapan semakin singkat, dan perhatian semakin dangkal, sementara kedekatan emosional perlahan kehilangan ruangnya sendiri. Kehangatan relasi sosial yang dahulu menjadi kekuatan masyarakat NTT mulai terkikis oleh kebiasaan menatap layar tanpa jeda.

Gejala tersebut juga mulai terlihat dalam dunia pendidikan. Tidak sedikit generasi muda yang lebih tertarik mengejar perhatian publik di media sosial dibandingkan memperdalam kemampuan berpikir dan membangun kualitas intelektual. Viralitas berkembang menjadi ukuran baru keberhasilan. Proses belajar kehilangan daya tarik karena dianggap tidak mampu memberikan kepuasan secepat konten digital. Akibatnya, budaya literasi semakin melemah, ruang refleksi semakin sempit, dan kemampuan berpikir kritis perlahan mengalami kemunduran. Informasi diterima secara lebih cepat tanpa proses penyaringan yang matang. Generasi muda menjadi terbiasa bereaksi sebelum memahami, dan menyimpulkan sebelum memahami persoalan secara utuh.

Karena itu, persoalan Smartphone sesungguhnya bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada cara manusia memaknainya. Smartphone dapat menjadi sarana belajar, ruang kreativitas, dan juga alat pemberdaya sosial. Namun tanpa kedewasaan moral, teknologi mudah berubah menjadi alat yang memperbudak manusia melalui kenikmatan semu. Era digital membutuhkan generasi yang bukan hanya cerdas menggunakan teknologi, tetapi juga mampu menjaga kesadaran moral di tengah banjir kenikmatan instan. Sebab jika kebahagiaan hanya diukur dari kesenangan digital, maka perlahan manusia akan kehilangan kemampuan untuk membedakan mana yang bernilai dan mana yang hanya memberikan kepuasan sementara.

Hakikatnya Smartphone hanyalah benda mati. Namun di tangan manusia yang kehilangan refleksi moral, ia dengan mudah dapat mengubah cara berpikir dan cara manusia memahami kebahagiaan. Di tengah dunia yang semakin bising oleh layar dan notifikasi, mungkin hal yang paling langka bukan teknologi, tapi kemampuan manusia untuk tetap berpikir jernih dan hidup secara bijak.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.