Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Selera Kita?

oleh -78 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Heri Isnaini

Pernahkah kita membuka media sosial hanya untuk melihat satu atau dua unggahan, tetapi kemudian menghabiskan waktu hampir satu jam di hadapan layar? Mula-mula kita menonton video tentang makanan, lalu beralih ke ulasan film, menyimak pendapat seseorang tentang politik, dan berakhir pada video pendek yang sama sekali tidak berkaitan dengan tujuan awal. Kita merasa sedang memilih apa yang ingin dilihat, padahal setiap pilihan seolah membuka pintu menuju pilihan berikutnya.

Kebiasaan semacam itu sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kita tidak selalu menyadari bagaimana sebuah konten hadir di hadapan mata, mengapa video tertentu muncul berulang kali, atau mengapa suatu topik tiba-tiba terasa penting setelah ramai dibicarakan. Semuanya tampak berlangsung secara alamiah, seakan-akan dunia digital hanya menyediakan apa yang memang kita sukai. Namun, di balik pengalaman yang terasa biasa itu, terdapat sistem yang terus bekerja membaca kebiasaan dan memperkirakan keinginan kita.

Sistem tersebut bernama algoritma. Istilah ini mungkin terdengar teknis, tetapi pengaruhnya justru terasa dalam urusan yang sangat dekat dengan kehidupan manusia, yakni selera.
Kita mengenal selera sebagai sesuatu yang personal. Seseorang menyukai musik tertentu sebab kenangan masa kecil, memilih makanan sebab terbiasa dengan masakan keluarganya, atau menikmati film sebab merasa dekat dengan tokoh dan persoalan yang diceritakan. Selera tumbuh melalui pengalaman, lingkungan, pendidikan, pergaulan, dan perjalanan hidup. Ia tidak hadir begitu saja, melainkan terbentuk melalui proses panjang yang sering kali sulit kita jelaskan.

Akan tetapi, kehidupan digital menambahkan unsur baru dalam proses pembentukan tersebut. Apa yang kita tonton, sukai, cari, bagikan, atau lewati dapat menjadi jejak yang digunakan sistem untuk menyusun rekomendasi. Jika kita berulang kali menonton video tentang gaya hidup minimalis, misalnya, platform mungkin menyajikan lebih banyak konten serupa. Jika kita tertarik pada satu jenis musik, rekomendasi berikutnya dapat membawa kita kepada penyanyi dan lagu yang memiliki kemiripan.

Cara kerja ini menawarkan kemudahan. Kita dapat menemukan musik baru, memperoleh informasi yang relevan, atau mengenal komunitas dengan minat yang sama. Bagi pelaku usaha kecil, seniman, penulis, dan kreator, sistem rekomendasi juga membuka peluang untuk menjangkau orang-orang yang sebelumnya sulit ditemui. Dunia digital memperluas kemungkinan perjumpaan, bahkan ketika jarak geografis memisahkan manusia.

Persoalannya bukan pada kemudahan tersebut, melainkan pada kebiasaan kita menerima rekomendasi tanpa mempertanyakan bagaimana pilihan itu terbentuk. Ketika sebuah konten terus muncul, kita mungkin menganggapnya penting. Ketika banyak orang membicarakan suatu hal, kita merasa perlu ikut mengetahuinya. Ketika sebuah gaya hidup ditampilkan berulang kali sebagai sesuatu yang menarik, kita dapat mulai menginginkannya, meskipun sebelumnya tidak pernah merasa membutuhkan hal tersebut. Perlahan-lahan, batas antara keinginan pribadi dan keinginan yang dibentuk lingkungan digital menjadi tidak mudah dikenali.

Bayangkan seseorang yang awalnya tidak terlalu memikirkan gaya berpakaian. Ia kemudian sering melihat unggahan tentang pakaian tertentu, mengikuti beberapa akun fesyen, lalu memperoleh rekomendasi produk yang serupa. Setelah beberapa waktu, pakaian yang sebelumnya tidak menarik perhatiannya mulai terasa biasa, bahkan menjadi standar baru tentang penampilan yang dianggap pantas. Ia mungkin benar-benar menyukai gaya tersebut. Namun, proses menuju kesukaan itu tidak terlepas dari paparan yang berulang.

Hal serupa dapat terjadi pada selera hiburan, pilihan tempat berlibur, makanan, hingga cara kita menilai keberhasilan hidup. Kehidupan yang ditampilkan di layar dapat menjadi ukuran pembanding bagi kehidupan sendiri. Rumah yang nyaman, perjalanan yang mengesankan, pekerjaan yang dianggap bergengsi, atau tubuh yang memenuhi standar tertentu muncul berkali-kali sebagai gambaran kehidupan ideal. Kita lalu membandingkan keseharian yang penuh ketidakteraturan dengan potongan kehidupan orang lain yang telah dipilih, disunting, dan disajikan untuk menarik perhatian.

Pada titik itu, algoritma tidak perlu memerintahkan kita untuk menginginkan sesuatu. Cukup dengan mempertemukan kita secara terus-menerus dengan gambaran tertentu, keinginan dapat tumbuh dengan sendirinya. Kita merasa telah menemukan apa yang kita sukai, padahal kesukaan itu mungkin terbentuk melalui perjumpaan yang berulang dengan sesuatu yang sebelumnya tidak kita cari.

Tentu, hal tersebut tidak berarti manusia kehilangan kebebasan sepenuhnya. Selera tidak dibentuk oleh algoritma saja. Keluarga, pendidikan, lingkungan sosial, kondisi ekonomi, tradisi, dan pengalaman pribadi tetap berperan besar. Sistem digital hanyalah salah satu unsur dalam jaringan pengaruh yang membentuk cara kita melihat dunia. Namun, pengaruh tersebut layak diperhatikan sebab bekerja secara terus-menerus, sering kali tanpa kita sadari, dan disertai kemampuan untuk menyesuaikan rekomendasi berdasarkan perilaku pengguna.

Ada persoalan lain yang tidak kalah penting, yaitu kecenderungan sistem digital untuk mempertemukan kita dengan konten yang diperkirakan sesuai dengan minat sebelumnya. Kebiasaan ini dapat membuat pengalaman kita terasa semakin personal, tetapi juga berpotensi mempersempit cakrawala. Orang yang sering menyimak pandangan tertentu mungkin terus memperoleh pandangan serupa. Seseorang yang terbiasa menikmati satu jenis hiburan bisa saja jarang berjumpa dengan karya dari tradisi atau kebudayaan lain.

Padahal, pengalaman manusia justru tumbuh melalui perjumpaan dengan sesuatu yang berbeda. Kita belajar memahami orang lain ketika mendengarkan pengalaman yang tidak sama dengan pengalaman sendiri. Kita mengembangkan pengetahuan ketika membaca pendapat yang menggugat keyakinan lama. Kita mengenali keterbatasan cara berpikir ketika berhadapan dengan kenyataan yang tidak sesuai dengan perkiraan.

Jika seluruh pengalaman hanya diarahkan menuju hal-hal yang terasa akrab, kita berisiko menganggap kebiasaan sendiri sebagai ukuran bagi segala sesuatu. Dunia menjadi tampak seragam bukan sebab perbedaan telah hilang, melainkan sebab kita semakin jarang melihatnya.

Oleh sebab itu, persoalan algoritma sesungguhnya bukan sekadar persoalan teknologi. Di dalamnya terdapat persoalan kebudayaan: bagaimana manusia membentuk selera, bagaimana masyarakat menentukan sesuatu yang dianggap bernilai, dan bagaimana perhatian menjadi sumber daya yang diperebutkan. Ketika perhatian memiliki nilai ekonomi, konten yang mampu membuat orang bertahan lebih lama di hadapan layar memperoleh keuntungan tertentu. Dalam situasi semacam ini, sesuatu yang ramai belum tentu sesuatu yang penting, sementara sesuatu yang penting belum tentu memperoleh perhatian yang cukup.

Kita dapat melihatnya dalam kecenderungan menjadikan popularitas sebagai ukuran mutu. Sebuah lagu dianggap bagus sebab banyak digunakan dalam video pendek. Sebuah tempat dinilai menarik sebab ramai dikunjungi dan sering muncul dalam unggahan. Seseorang dianggap berhasil sebab kehidupannya tampak mengesankan di media sosial. Ukuran-ukuran tersebut tidak selalu keliru, tetapi menjadi bermasalah ketika menggantikan pertimbangan lain yang lebih mendalam.

Sebuah karya seni, misalnya, tidak selalu harus langsung disukai untuk memiliki nilai. Film yang lambat, musik yang tidak akrab di telinga, atau karya sastra yang menuntut pembacaan berulang mungkin justru memberikan pengalaman yang lebih kaya setelah kita bersedia mendekatinya. Begitu pula sebuah tradisi tidak kehilangan makna hanya sebab tidak populer di ruang digital. Nilai kebudayaan tidak selalu dapat dihitung melalui jumlah penonton, tanda suka, atau frekuensi kemunculan di beranda.

Lantas, apa yang dapat kita lakukan? Menjauh sepenuhnya dari teknologi bukanlah satu-satunya jawaban, bahkan mungkin bukan pilihan yang realistis. Algoritma telah menjadi bagian dari infrastruktur komunikasi, hiburan, perdagangan, dan pengetahuan. Yang lebih masuk akal ialah membangun kesadaran tentang cara kita menggunakannya.

Kita dapat mulai dengan mengajukan pertanyaan sederhana ketika sebuah konten menarik perhatian: apakah saya benar-benar tertarik, atau saya hanya terlalu sering melihatnya? Apakah saya menginginkan barang ini sebab membutuhkannya, atau sebab terus-menerus melihat orang lain memilikinya? Apakah saya mempercayai pendapat ini setelah memikirkannya, atau sebab pendapat tersebut disampaikan berulang kali oleh orang-orang yang saya ikuti?

Pertanyaan itu tidak harus menghasilkan jawaban yang sempurna. Fungsinya ialah memberi jarak antara rangsangan dan keputusan, antara sesuatu yang muncul di layar dan sesuatu yang akhirnya kita pilih. Kita juga dapat sengaja mencari sumber yang berbeda, mendengarkan orang yang memiliki pandangan lain, mencoba karya yang belum dikenal, atau mengurangi kebiasaan mengikuti konten yang membuat kita terus-menerus membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain.

Ikhtiar semacam ini bukan usaha untuk membuktikan bahwa kita lebih cerdas daripada teknologi. Justru sebaliknya, kita mengakui bahwa manusia memiliki keterbatasan perhatian dan mudah dipengaruhi oleh lingkungan. Kesadaran itu membantu kita menggunakan teknologi dengan lebih bertanggung jawab, tanpa harus menolak manfaat yang ditawarkannya.

Pada akhirnya, selera bukan sekadar persoalan tentang apa yang kita sukai. Selera juga berhubungan dengan bagaimana kita mengenali diri sendiri, memahami orang lain, dan menentukan hal-hal yang dianggap berharga dalam kehidupan. Jika selera terus terbentuk melalui perjumpaan dengan dunia digital, kita perlu memastikan bahwa perjumpaan tersebut tidak menjadi satu-satunya sumber pengetahuan tentang dunia.

Algoritma mungkin dapat memperkirakan apa yang akan kita sukai berdasarkan pilihan sebelumnya. Namun, manusia tetap memiliki kemungkinan untuk berubah, mempertanyakan kebiasaan, dan menemukan sesuatu yang tidak pernah masuk dalam daftar rekomendasi. Kita dapat menyukai hal baru, meninggalkan kesukaan lama, atau menemukan makna dalam sesuatu yang sebelumnya tidak menarik perhatian.

Barangkali kebebasan hari ini tidak lagi cukup dipahami sebagai kemampuan memilih dari sekian banyak pilihan yang tersedia di layar. Kebebasan juga berarti kemampuan untuk menyadari bagaimana pilihan itu disusun, siapa yang memperoleh manfaat dari perhatian kita, dan apakah keputusan yang kita ambil sungguh sejalan dengan kebutuhan serta nilai yang kita yakini.

Sebab, persoalan terbesarnya bukan ketika algoritma mengetahui apa yang kita sukai, melainkan ketika kita berhenti bertanya mengapa kita menyukainya. Pada saat pertanyaan itu hilang, kita mungkin masih merasa bebas memilih, sementara arah pilihan kita perlahan-lahan ditentukan oleh sesuatu yang tidak pernah kita ajak bicara.

Bandung, 1 November 2026

Penulis adalah Dosen Sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Menjadi kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.