Etika Bertemu di Tengah Budaya Konten

oleh -79 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Yulius Rua

Dalam budaya kita orang NTT, bertamu adalah tanda persaudaraan. Kita berkunjung ke rumah duka, ke rumah pesta, ke kampung halaman. Kunjungan itu tanda kita peduli. Karena itu tamu disebut raja. Kita sambut, kita beri kursi terbaik, kita hidangkan apa yang ada.
Namun menjadi raja bukan berarti boleh masuk kapan saja tanpa mengetuk pintu.

Beberapa hari lalu di Seminari Tinggi St. Mikael Penfui terjadi peristiwa kecil yang membuat saya berpikir. Seorang tamu datang ingin bertemu salah satu romo pada jam istirahat siang. Tidak ada janji sebelumnya, tidak ada komunikasi. Tujuannya baik, ingin berdialog. Tetapi waktunya kurang tepat. Komunitas seminari hidup dengan aturan waktu yang ketat, ada jam doa, jam studi dan jam istirahat.

Pertanyaan saya sederhana, apakah semua kunjungan yang tujuannya baik otomatis menjadi etis?

Etika bertamu mengajarkan kita dua hal dasar: menghargai waktu dan membangun kesepakatan. Waktu bukan sekadar jam di dinding, waktu adalah ruang hidup orang lain. Ketika kita datang di jam istirahat, kita sebenarnya sedang meminta orang lain mengorbankan hak istirahatnya demi kepentingan kita. Di sini etika diuji, bukan pada niatnya, melainkan pada caranya.

Saya melihat ada persoalan baru yang lebih dalam dari sekadar soal waktu, yakni budaya konten.

Tamu itu datang, tidak bertemu, lalu peristiwa itu direkam dan disebar di media sosial. Dalam hitungan jam, potongan video itu menjadi bahan komentar netizen. Tujuannya mungkin untuk mendapat simpati, tetapi yang terjadi justru sebaliknya, ia dinilai kurang beretika.

Inilah wajah baru dari etika bertamu di zaman sekarang. Orang tidak hanya bertamu ke rumah, tetapi juga bertamu ke media sosial. Ada kecenderungan rela melakukan hal yang kurang pantas demi sebuah konten. Asal viral, asal banyak viewers, maka dianggap berhasil. Padahal moralitas tidak diukur dari jumlah like, melainkan dari tanggung jawab.

Media sosial memang memberi panggung bagi siapa saja. Tetapi panggung itu butuh etika. Ketika kita memposting kekecewaan kita karena tidak diterima saat bertamu, kita sedang mengubah ruang pribadi menjadi konsumsi publik. Kita tidak menyelesaikan masalah, kita justru menambah masalah baru. Orang yang menonton tidak tahu konteks aturan rumah itu, mereka hanya menghakimi dari potongan video berdurasi 30 detik.

Akhirnya yang rusak bukan hanya hubungan dua orang, tetapi cara kita memandang arti bertamu itu sendiri. Saya tidak anti kunjungan. Saya justru belajar bahwa pintu biara harus selalu terbuka. Tetapi pintu yang terbuka bukan berarti orang boleh langsung masuk tanpa permisi. Ada tata cara yang harus dijaga. Ada ucapan salam, ada permintaan izin, ada kesepakatan waktu. Itulah yang membuat kunjungan menjadi indah.

Etika moral bukan sekadar teori di buku filsafat. Etika itu tampak dalam hal-hal kecil, seperti berani mengirim pesan WA sehari sebelumnya: “Romo, besok jam berapa saya bisa bertemu?”. Kalimat sederhana itu menyelamatkan banyak hal, menyelamatkan waktu, menyelamatkan perasaan dan menyelamatkan martabat kedua belah pihak.

Jangan karena melihat pintu terbuka lebar, kita langsung masuk dan mengabaikan tata krama. Tujuan yang baik harus ditempuh dengan cara yang baik pula. Jika kita ingin dihormati sebagai tamu, kita juga harus belajar menghormati tuan rumah.

Di tengah gempuran budaya konten yang ingin serba cepat dan viral, kita dipanggil untuk kembali pada etika yang pelan, yang sabar, yang mau mengetuk pintu sebelum masuk.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupamg

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.