Sastra, Penguasa dan Politisasi Bahasa

oleh -831 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Chudori Sukra

Penting sekali di era milenial ini bagi kedewasaan penulis, agar melepaskan ego dan keangkuhan intelektualnya. Sebab bagaimana pun, ego dapat menciptakan ketegangan yang sebenarnya sangat mengganggu bagi keseimbangan dan kutuhan jiwa seorang penulis. Ego juga akan membuat penulis kehilangan obyektivitasnya, hingga karya-karyanya cenderung dangkal akibat ekspresi ketegangan dan emosi yang tak terkendali.

Menulis dengan emosi tinggi, sering kali tidak memberi makna yang berarti. Tulisan akan cenderung absurd dan meledak-ledak, juga tanpa sanggup memberi ending yang mendidik. Menulis dengan tensi emosi, seumumnya kita jumpai di media-media sosial, sebagai jalan pintas bagi produktivitas masyarakat yang bersifat instan dan sesaat.

Memang tidak sedikit karya sastra yang mengandalkan amarah dan hawa nafsu, bahkan sang penulis memiliki energi untuk menulis berpuluh halaman cerpen, bahkan beratus-ratus halaman novel. Itu sah-sah saja bagi kebebasan bereskpresi atau berdemokrasi. Meskipun, kadang menyambar sana-sini, menyalahkan dan mendikreditkan pihak lain, zaman, leluhur, bahkan berprasangka negatif pada peran dan tanggung jawab Tuhan yang katanya mencipta namun berpangku tangan. Lalu, di mana letak keadilan-Nya? Dan siapa yang bersalah jika seorang tokoh protagonis justru terkalahkan, dan tak pernah mendapat keadilan seumur hidupnya?

Di dalam Al-Quran terdapat kata-kata “wa’allama adam al-asma kullaha”. Hal ini mengindikasikan, bahwa ketika manusia kesulitan memahami sesuatu, maka harus dikembalikan kepada sumber dan akar kata dari masalah tersebut. Untuk itu, karakteristik penulisan, baik di media cetak maupun daring, sejatinya merambah ke ranah penciptaan dan kreasi sastra yang berfungsi demi keabadian. Menurut penyair Afrizal Malna, dalam kondisi itulah banyak seniman dan sastrawan Indonesia yang kehilangan obyektifitasnya. Sebab, mereka hanya mencomot dan menyimak informasi yang secuil, lalu seenaknya menggeneralisasi kesimpulan, hingga mudah menghakimi pihak lain yang dianggap rivalnya.

Pemandangan serupa itu tampaknya marak di mana-mana, sampai pada titik tertentu, dunia medsos seakan berfungsi sebagai bukit-bukit hutan yang digunduli karena illegal logging, sehingga pada momen tertentu dirasa sangat mengkhawatirkan dan mencekam.

Adakalanya seorang penulis muda milenial memintakan agar saya menyunting karyanya yang terbaru. Namun, mana mungkin saya mampu mengubah corak penulisan yang mengumbar ketegangan, karena problem utamanya bukan soal satu-dua kalimat yang harus dibenahi dan dirumuskan, akan tetapi soal mindset dan paradigma berpikir yang sangat kaku dan emosional. Dalam hal ini, ketika tulisan itu bersumber dari hawa nafsu yang membabi-buta, meskipun saya menyuntingnya melalui pisau bedah yang dingin, tetap saja karakteristik yang dangkal akan sulit diperdalam pemaknaannya.

Setelah menulis novel “Laut Bercerita”, Leila Chudori secara implisit menyatakan, bahwa aktivitas menulis harus dijadikan amal perbuatan yang memberikan solusi, serta ikhlas mengedukasi masyarakat pembaca. Dengan karya sastra yang mumpuni, akan banyak masalah dapat diselesaikan, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Bahkan, mereka yang cuap-cuap di medsos, termasuk para aktivis konten, juga harus sanggup mengedukasi masyarakat pemirsa.

Pola penulisan yang absurd dan dangkal, kalau tidak dibuang ke tong sampah, tentu akan menimbulkan ketidaknyamanan, bahkan cenderung membuat pembaca bersikap reaktif dan bukan reflektif. Karya sastra harus dibangun melalui konstruksi seni, filsafat dan agama, agar tetap relevan hingga mencerdaskan dan mendewasakan audiensnya. Dalam cerpennya “Konsultasi Kesehatan” dan “Maesa Utami” (litera.co.id)”, Hafis Azhari berusaha memecahkan masalah strategis yang menyangkut maraknya orang-orang depresi dan sakit jiwa, akibat meninggalkan agama atau sebaliknya (kecanduan agama). Namun, ia mampu menyodorkan batas-batas norma masyarakat yang terus merambah pada semangat transformasi spiritualnya.

Tak beda jauh dengan novelnya, Pikiran Orang Indonesia (baca: kompas.id, “Memahami Skizofrenia dari Karya Sastra”) yang mengungkap peran strategis keluarga dan rumah-tangga, sebagai miniatur peran pemerintah dalam suatu negara. Mereka memiliki tanggung jawab yang sama, agar turut andil dalam menyelesaikan problem delusi kejiwaan yang sudah akut di tengah masyarakat kita. Untuk itu, penting untuk menakar prioritas, bahkan mendesak untuk dituliskan serta dicarikan solusinya melalui karya-karya tulis dan prosa.

Ini bukan hanya perkara kepentingan pribadi atau disebabkan konflik segelintir orang, namun demi kemaslahatan umat. Selain sebagai alat komunikasi, Putu Fajar Arcana mengungkap juga hal senada, bahwa karya sastra harus berfungsi sebagai penanda identitas, cara berpikir, bahkan pengikat kebudayaan dan jati diri suatu bangsa.

Di tengah perubahan besar dalam arus ekonomi, sains, dan teknologi saat ini, memang bahasa Indonesia tak bisa diklaim sebagai baku dan final. Usia bahasa kita belum genap satu abad, hingga dimungkinkan goyah dan labil. Namun, sebagai seorang penulis dan sastrawan, sejatinya jangan sampai terjebak dan ikut-ikutan terperosok ke dalam arus pendangkalan dan kesemrawutan yang semakin memusingkan.

Untuk itu, Nirwan Dewanto sebagaimana Leila Chudori dan Hafis Azhari, pernah menekankan pentingnya independensi penulis, agar tidak terkontaminasi oleh agenda-agenda politik kekuasaan yang menimbulkan politisasi bahasa selama beberapa dekade sistem militerisme Orde Baru. Penyeragaman bahasa pada masa itu, dipadukan dengan politisasi sejarah, di mana bahasa hanya diarahkan oleh pihak penguasa. Seakan mereka berhak menentukan ke arah mana bahasa dan sejarah hendak dikembangkan. Bahkan, ketika pemerintah saat ini menekankan internasionalisasi bahasa, sebenarnya penguatan bahasa di dalam negeri masih sangat lemah.

Karenanya, di sinilah tanggung jawab penulis, jurnalis dan budayawan kita, agar mampu memisahkan kepentingan bahasa sebagai alat komunikasi yang mencerdaskan, ketimbang kasak-kusuk penguasa yang masih terus berupaya menjadikan pendangkalan bahasa sebagai alat propaganda mereka. (*)

Penulis adalah Anggota Mufakat Budaya Indonesia (MBI) yang aktif menulis esai dan prosa di berbagai media nasional, terutama Kompas, Koran TempoRepublika, dan lain-lain

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.