Sastra, Nirwan Dewanto dan Keniscayaan Perubahan

oleh -1512 Dilihat
Open book and magical glowing letters.
banner 468x60

Oleh: Putu Hikmat Walod

Dalam analisis Albert Einstein, karya sastra adalah pekerjaan imajinasi yang sulit djangkau oleh kerja-kerja ilmiah para ilmuwan sekalipun. Ia semacam tiruan dari dunia nyata, yang akhirnya menjelma dan memberikan makna bahwa sastra adalah sebentuk ilmu baru yang tak terbatas. Para penciptanya seakan menyadari keterpanggilannya selaku “khalifah” di muka bumi, yang senantiasa terpicu untuk saling berlomba dalam menegakkan nilai-nilai kebaikan dan keindahan.

Akhir-akhir ini, kita merasa jengah dengan tafsiran penguasa yang secara sepihak mengartikan kanonisasi sastra Indonesia. Ketika penguasa terlibat secara berlebihan untuk turut-serta cawe-cawe dalam soal kesusastraan, mereka seakan tak peduli pada pengembangan moral atau melejitkan kecerdasan rakyat. Bahkan, ketika mereka berteriak lantang hingga mulutnya berbusa, “Perjuangkan revolusi mental di negeri ini!”

Itulah perangkat mereka hingga terus terobsesi untuk meretas dunia kesusastraan. Sebagaimana perangkat komputer yang diretas melalui kesalahan pre-eksis baris kode. Akan tetapi, diri Anda – menurut guru besar UI, Rocky Gerung – justru akan diretas melalui pre-eksis ketakutan, kedunguan, hingga kebencian yang membias. Begitu mereka menemukan Anda merasa takut dan benci pada sesuatu, mereka akan bergegas menekan tombol emosi yang relevan, hingga melakukan provokasi, bahkan dalam hal menentukan kurikulum di bidang sastra.

Terkait dengan gemuruhnya tanggapan atas surat terbukanya Nirwan Dewanto, saya teringat artikel yang berjudul “Politiknya Kaum Sastrawan” (www.nusantaranews.co). Secara implisit Hafis Azhari menyatakan bahwa, jika sastrawan tidak merefleksikan kehendak dan kemerdekaan jiwanya, maka apa gunanya menulis dan berbagi pengetahuan yang justru akan mendangkalkan, dan bukan mencerdaskan pembacanya?

Selama lebih dari satu abad lalu, memang ide-ide liberal menginspirasi sebuah proyek politik bagi kesusastraan yang memberikan iming-iming tentang keelokan tanah yang subur-makmur, serta wanita-wanita mooi indi yang cantik jelita. Saat ini, bangsa kita lebih dekat dari sebelumnya dalam skema memenuhi tujuan ini, tetapi juga semakin dekat dari sebelumnya, untuk menyadari bahwa semua ini hanya berbasiskan ilusi belaka.

Teknologi yang seakan netral, hanya menyuarakan iklim kebudayaan dengan menggaungkan “kemakmuran fiktif” belaka. Pada gilirannya, ia berpihak pada korporasi dan elit penguasa juga. Saya menaruh apresiasi yang tinggi bagi para penulis milenial (terutama cerpenis milenial) yang seakan berbaris bersama-sama, tanpa tedeng aling-aling. Mereka tidak mengharap sponsor dari manapun, tetapi tekun melancarkan kegilaannya dalam berkreasi di bidang sastra.

Jelas manusia-manusia langka semacam itu selalu menjadi target sasaran penguasa korporasi, meski pada tabiat “orang-orang ikhlas” biasanya nilai emas sebesar gunung pun, takkan sanggup membayar dan membeli mereka. Ketika para penguasa sibuk menimbun harta untuk membeli dunia, justru menghadapi sastrawan semacam itu, dunia takkan sanggup membeli dirinya.

Memang selama beberapa dekade terakhir, seniman dan sastrawan kita menghabiskan segenap ruang dan waktu untuk terus berlari, hingga hilang pedih dan perih. Mereka seperti orang-orang sableng yang dibawa oleh sebuah pikiran yang ngamuk dan mencak-mencak ke sana kemari. Hingga tak jarang kaum akademisi menjulukinya sebagai “sastrawan-sastrawan pendendam”.

Namun sebaliknya, toh tidak sedikit yang terus berupaya mencerdaskan rakyat melalui karya-karya genial mereka, dengan tekun menelusuri kata demi kata pada waktu sepertiga malam, yang kadang godaannya tidak kepalang tanggung.

Pada prinsipnya, pikiran dan hasrat yang tidak merefleksikan kehendak yang merdeka, memang akan sulit membantu diri kita untuk bersikap obsesif terhadap impian dan harapan. Jika sang penulis memandang dirinya selaku agen yang bebas sepenuhnya, serta memilih hasrat dengan kemandirian yang utuh, hal tersebut boleh jadi akan menjadi penghalang antara sang penulis dengan mayoritas pembaca yang kadar IQ-nya hanya mampu menjangkau angka 78 hingga 80-an saja. Jadi, kalau kita memberi sebuah kepentingan untuk hasrat kita, secara alami kita akan mencoba mengendalikan dan membentuk seluruh masyarakat, menurut tafsiran kita. Artinya, jika kita berbaris bersama untuk mendukung peralatan tempur, membabat hutan seenaknya, hingga rusaknya tatanan ekosistem, boleh jadi kita akan ikut populer namun justru telah mendustai pikiran dan hati nurani kita sendiri.

Terkait dengan sulitnya angkatan muda menemukan buku Pramoedya di era tahun 1990-an hingga memasuki abad millenium lalu, nampaknya kita bisa berkaca pada pengakuan penerbitnya, Joesoef Isak yang memimpin Hasta Mitra, Jakarta. “Ternyata mereka berkerjasama dengan korporasi untuk memborong puluhan ribu eksemplar karya-karya Pram di toko-toko buku Jakarta dan sekitarnya, agar karya monumental itu tidak sampai dibaca oleh generasi muda Indonesia.”

Bagi pihak penerbit tentu dapat mengeruk keuntungan tersendiri. Tapi bagi pihak pembaca, yang mayoritas generasi muda Indonesia, hal tersebut merupakan pelumpuhan dan pendangkalan pemikiran, di mana oligarki kekuasaan dan korporasi yang menudukungnya telah sengaja memberangus proses pendewasaan dan pencerdasan anak-anak bangsa.

Mereka menduga, bahwa dengan cara-cara kotor seperti itu, para penulis yang menyerang kredibilitas penguasa nantinya akan berguling-guling di pojokan hingga mati kelaparan. Namun faktanya, efek yang terjadi justru sebaliknya. Ketika novel Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa diborong oleh mereka, para pemuda dan mahasiswa justru semakin mencari dan merindukannya. Sampai kemudian, muncullah solidaritas untuk menerbitkan dan meng-copynya sendiri, lalu dengan sukarela dibagi-bagikan dengan tulus-ikhlas kepada khalayak.

Senjata makan tuan itu pun kembali menimpa korporasi pemborong, khususnya ketika novel Pikiran Orang Indonesia tiba-tiba menghilang di toko-toko buku seluruh Banten, hingga tak urung penulisnya mempersilakan siapapun untuk meng-copy dan menyebarluaskannya. Bahkan, ada tim seniman yang secara sukareka membagi-bagikan novel tersebut dengan gratis, dan terus bergerilya hingga ke pelosok kota Multatuli, Rangkasbitung, Banten Selatan.

Karya sastra memang sangat genial dalam menjelajahi sifat dasar manusia. Setidaknya, itulah yang dinyatakan secara implisit dalam surat terbuka Nirwan Dewanto. Sesuatu yang dulu hanya semata angan-angan yang fiktif, lambat laun telah menjadi kenyataan empiris yang dapat diraba dengan akal sehat.

Betapa sabarnya kaum sastrawan menjelajahi masa ratusan dan ribuan tahun, untuk membuktikan impian mereka menjadi kenyataan. Barangkali sejajar dengan kesabaran kaum sufi dan para filosof. Meski kita layak untuk mengakui, bahwa para penguasa dan korporasi nampaknya tidak memiliki kesabaran sejauh itu.

Di sisi lain, tidak sedikit elit politik kita yang memilih menarik diri, serta mencari tempat perlindungan dengan ilusi-ilusi agar kembali ke zaman purba. Ketika mereka tak sanggup mengkonfrontasi tantangan Artificial Intelligence (AI) dan rekayasa hayati, kebanyakan justru berbelok kepada fantasi nasionalisme ekstrim, dengan tetap menggaungkan kemakmuran fiktif seperti yang sudah-sudah.

Tidak jarang juga yang berfantasi pada konservatifitas agama, yang sebenarnya hanyalah pengulangan sejarah dari tradisi Gereja ortodoks di abad-abad pertengahan lalu. (*)

Penulis adalah Pengamat dan penikmat sastra milenial Indonesia, berdomisili di Tabanan, Bali

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.