Sastra dan Struktur Otak Manusia Indonesia

oleh -2569 Dilihat
Magical book lying open on desk in library. Glowing pages illuminates surrounding.
banner 468x60

Oleh: Ruslan Yusron

Dalam terminologi politik modern, dikenal istilah “firehose of falsehood”, sebagai teknik propaganda yang mengumbar kebohongan secara masif dan simultan. Tidak jarang ditemukan beragam informasi fiktif, hoaks dan fitnah, kemudian disebarluaskan dalam bentuk gambar, teks, audio-visual, dan belakangan disulap menjadi data-data biometrik.

Bangsa Indonesia mestinya mampu mengenali teknik yang jitu pernah dipermainkan Orde Baru di sekitar tahun 1965, untuk menggulingkan kepemimpinan Presiden Soekarno. Sikap intoleransi sebagai naluri bawaan masyarakat konservatif, cenderung memandang kelompok lain sebagai rival yang harus disingkirkan. Otak bagian tengah (amigdala) dapat dikendalikan oleh kekuasaan tertentu, agar memandang pihak lawan sebagai musuh yang mengancam, hingga ke taraf yang paling ekstrem.

Ketidakseimbangan amigdala, dapat memengaruhi pikiran manusia sedemikian tajamnya, sampai-sampai menganggap pemikiran siapa pun bukan level yang sebanding dengannya. Betapa banyak spesies manusia telah punah oleh praktik-praktik genosida yang diabadikan oleh monumen sejarah, sebagai bukti dari sifat dasar intoleransi manusia.

Seorang psikolog kriminal, Robert D. Hare menjelaskan tentang sifat dan kelainan emosional pada jiwa seorang psikopat dan pelaku terorisme. Pada umumnya, mereka berasal dari komunitas masyarakat konservatif yang cenderung mudah menerima berita bohong (hoaks), karena adanya dorongan untuk membiarkan hal-hal yang tidak akurat berkembang dalam keyakinannya. Mereka cenderung mencari jawaban yang mudah dan instan, yang dianggap paling sesuai dengan preferensi dirinya, terutama di dunia politik praktis.

Neurosains sastra

Tidak selamanya sesuatu yang dianggap benar, boleh dipublikasikan ke hadapan khalayak. Demikian peringatan yang pernah disampaikan Jacob Oetama, sebagai tokoh jurnalis Indonesia. Hal tersebut dinyatakan dengan mempertimbangkan kemaslahatan dan kepentingan masyarakat secara umum, bukan demi kepentingan segelintir orang saja. Ada etika jurnalistik yang harus diutamakan, sebelum mengandalkan estetika maupun kebenaran informasi belaka.

Di sisi lain, berita-berita hoaks yang menyebar luas seringkali memengaruhi bandul pertarungan kekuasaan elit politik. Penciptaan kabar burung seringkali dimanfaatkan untuk memanipulasi sifat-sifat emosional, sehingga menimbulkan stimulus pada struktur amigdala, disebabkan rasa panik, eforia, cemas, hingga frustasi.

Perkembangan struktur otak yang mengakibatkan ketidakwarasan inilah yang sebenarnya diungkap melalui tokoh-tokoh dalam novel Pikiran Orang Indonesia (terutama Aris), yang kemudian menderita delusi kejiwaan, dari neurosis, paranoid, hingga ke taraf skizofrenia. Inilah yang menjadi sumbu utama penggarapan penulisnya yang pernah mengadakan penelitian historical memory bersama Asvi Warman Adam, Goenawan Mohamad, Pramoedya Ananta Toer, Joesoef Isak, Hersri Setiawan, serta sederet nama tokoh Indonesia, sebagai penyintas dari peristiwa kekisruhan politik di tahun 1965.

Dari sisi neurosains, sebenarnya karya sastra yang ditulis orang Banten tersebut, secara lugas menyingkap tabir-tabir gelap untuk membangkitkan kewarasan otak manusia Indonesia. Sebab, selama ini, bangsa Indonesia seakan tidak diberi ruang untuk berpikir merdeka dan rasional, hingga fungsi otak depannya (cortex prefrontal) menjadi tertekan oleh dominasi otak tengah (amigdala) yang berlebihan.

Rasa panik, eforia, bahkan sikap phobi dan antipati terhadap partai politik tertentu (PKI) menjadi proyek andalan Orde Baru untuk menyusupkan teori-teori politik yang tidak semestinya, sampai-sampai dominasi amigdala pada struktur otak tengah manusia Indonesia menjadi tak seimbang. Tak ubahnya manusia primitif di zaman batu, yang kerjanya saling memburu mangsa-mangsa para pesaingnya, sebagai siklus persaingan politik, dalam lingkaran setan yang terus berpindah dari satu ekstrem ke ekstrem lainnya.

Motif politik

Menyusupkan ketakutan dan kepanikan terhadap lawan politik dapat dilakukan kaum politisi ke dalam tataran yang paling ekstrem. Semakin rakyat membenci lawan politiknya, semakin menjadi proyek menggiurkan yang berapa pun anggaran untuk itu siap dikorbankan. Pada sekala tertentu, bagi kesehatan mental sang korban, dapat menimbulkan kemiskinan jiwa dan kedangkalan berpikir. Akibat dominasi sistem limbik (amigdala) dalam struktur saraf, hingga menekan otak bagian depan (cortex prefrontal).

Padahal cortex bagian depan inilah yang berfungsi sebagai penyeimbang dan pembangun semangat altruisme. Inilah penemuan neurosains yang selaras dengan ketajaman karya-karya sastra dunia (semisal karya Han Kang, Jon Fosse atau Haruki Murakami), yang sekaligus membuka wawasan baru bagi kedewasaan religiositas dan spiritualitas masyarakat.

Sebab bagaimanapun, ketidakseimbangan sistem pada struktur amigdala akan memacu anomali watak dan mental, yang diakibatkan rasa cemas berlebihan, dengki, cemburu dan irihati, hingga mencapai taraf frustasi dan putus asa. Ketidakseimbangan struktur amigdala, dapat pula memicu rasa suka (cinta) berlebihan, hingga ke taraf mengultuskan. Bahkan, seringkali memusuhi orang yang dibencinya, hingga ke taraf amarah, caci-maki dan membinasakan.

Untuk itu, ingin saya tegaskan sekali lagi perihal pentingnya karya-karya sastra yang membuka cakrawala dan wawasan seluas-luasnya di era milenial ini. Novel Pikiran Orang Indonesia, setajam apapun kritik dilayangkan “sang kritikus sastra”, tidak akan menggoyahkan itikad baik yang sudah dikerjakan penulisnya. Terlebih jika kritik itu muncul dari oknum penguasa yang selalu memainkan retorika berpikir dangkal, serta menjadikannya sebagai dagangan komoditas politik, yang tentunya akan dianggap anjing menggonggong di depan sang kafilah yang akan terus berlalu. (*)

Penulis adalah Psikolog dan peneliti sastra milenial Indonesia

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.